Update Terbaru Selat Hormuz, Pelayaran Makin Anjlok ke Level Terendah

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Lalu lintas kapal pengangkut komoditas di Selat Hormuz anjlok ke level terendah sejak Mei setelah serangkaian serangan Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap kapal tanker. Kondisi ini meningkatkan akibat terhadap jalur pelayaran nan menjadi salah satu rute daya terpenting dunia.

Data perusahaan analitik pelayaran Kpler menunjukkan rata-rata hanya 10 kapal pengangkut komoditas nan melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut turun dari lebih dari 15 kapal pada Jumat dan nyaris 13 kapal pada Sabtu.

Pada Sabtu, hanya dua kapal nan tercatat melewati selat tersebut, sementara enam kapal melintas pada Minggu. Sebagian besar kapal memilih menggunakan rute nan berada di sisi Iran, menunjukkan meningkatnya kehati-hatian operator pelayaran di tengah eskalasi konflik.

Pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, menurut US Central Command. Salah satu serangan terjadi di lepas pantai Pulau Kharg, pusat utama ekspor minyak Iran, setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebelumnya menyerang kapal perang AS di area tersebut.

Angkatan laut IRGC kemudian menyatakan telah menargetkan tiga kapal tanker minyak nan menggunakan rute tidak resmi di Selat Hormuz serta tiga kapal AS di wilayah lain. Tiga tanker Iran nan disebut terdampak adalah Downy, Stark I, dan Kylo, nan juga dikenal sebagai Noxen, berasas catatan intelijen maritim Marisks.

Marisks menyebut serangan tersebut sebagai "eskalasi besar dalam bentrok maritim". Risiko terhadap pelayaran pun dinilai semakin tinggi.

"Kapal tanker komersial sekarang sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, nan secara substansial melemahkan batas sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Senin (7/9/2026).

"Risiko dinilai ekstrem bagi kapal-kapal milik alias mengenai Iran, dan meningkat secara signifikan bagi kapal-kapal nan mengenai alias dikawal AS di sepanjang Selat Hormuz dan Teluk Oman," kata Marisks lagi.

Sementara itu, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat 27 kejadian serangan proyektil sejak 6 Juli nan menyebabkan kerusakan pada kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Data Kpler juga menunjukkan tidak ada kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) nan keluar dari selat tersebut sejak Rabu.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News