Update Perang AS-Iran: Negosiasi Damai, Hormuz hingga Israel-Lebanon

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus menunjukkan dinamika nan cepat. Mulai dari eskalasi militer hingga kesempatan negosiasi tenteram nan kembali terbuka.

Situasi di Selat Hormuz, blokade laut, hingga keterlibatan tokoh area seperti Israel dan Lebanon turut memperumit peta konflik, sekaligus memicu akibat dunia terutama pada daya dan ekonomi. Berikut pembaruan terbaru mengenai situasi perang antara AS dan Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia pada Rabu (15/4/2026).

1.Trump Isyaratkan Negosiasi Baru AS-Iran

Presiden AS Donald Trump membuka kesempatan baru bagi diplomasi dengan Iran. Ia menyebut putaran kedua pembicaraan dapat berjalan dalam waktu dekat, dengan Pakistan sebagai kandidat letak pertemuan.

"Sesuatu dapat terjadi dalam dua hari ke depan," kata Trump dalam wawancara dengan New York Post.

Menurut sumber diplomatik, Pakistan saat ini aktif berupaya mempertemukan kedua pihak. Selain itu, negosiasi juga difokuskan untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu nan saat ini berlaku.

Jika terealisasi, pembicaraan ini dapat menjadi titik kembali krusial meredakan bentrok nan telah mengguncang stabilitas kawasan. Sebelumnya pembicaraan kandas pekan lampau saat kedua negara bersitegang soal poin pengayaan uranium Iran. 

2.Pasar Respons: Saham Naik, Minyak Turun

Harapan terhadap meredanya bentrok langsung tercermin di pasar finansial global. Bursa saham AS mencatat penguatan signifikan, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali ke level sebelum eskalasi bentrok antara AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari.

Kenaikan ini didorong optimisme penanammodal bahwa jalur diplomasi mulai terbuka. Sehingga akibat gangguan besar terhadap ekonomi dunia dapat ditekan.

Di sisi lain, nilai minyak bumi justru mengalami penurunan tajam. Minyak Brent turun ke level US$94,79 per barel alias sekitar Rp1,56 juta sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$91,28 per barel alias sekitar Rp1,50 juta.

Penurunan nilai minyak ini dipicu ekspektasi bahwa Selat Hormuz, jalur vital nan mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, dapat kembali dibuka secara normal jika ketegangan mereda. Selat ini sebelumnya menjadi titik kritis akibat blokade dan akibat serangan militer.

3.Zelensky Tiba-Tiba Komplen Fokus AS di Perang Iran

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka mengkritik pergeseran konsentrasi AS nan sekarang lebih tertuju pada bentrok Iran. Ia menilai kondisi ini berakibat langsung pada support militer dan diplomatik terhadap Ukraina.

Dalam wawancara dengan penyiar Jerman ZDF, Zelensky menyebut para negosiator AS sekarang "tidak punya waktu untuk Ukraina" lantaran intensif terlibat dalam pembicaraan dengan Iran. Ia juga menyoroti tokoh-tokoh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner nan sebelumnya aktif dalam diplomasi mengenai Rusia, sekarang lebih konsentrasi pada rumor Timur Tengah.

"Jika Amerika Serikat tidak menekan Putin... dan hanya terlibat dalam perbincangan nan lembut dengan Rusia, maka mereka tidak bakal lagi takut," tegas Zelensky.

Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Kyiv bahwa bentrok dunia nan meluas dapat mengurangi perhatian dan support Barat terhadap perang di Ukraina. Perang Rusia dan Ukraina sendiri sudah terjadi sejak 2022.

4.AS Perketat Sanksi ke Iran

Di tengah kesempatan negosiasi, AS justru mempertegas sikap keras terhadap Iran. Departemen Keuangan AS mengumumkan tidak bakal memperpanjang keringanan hukuman minyak nan sebelumnya diberikan secara terbatas.

Kebijakan tersebut sebelumnya memungkinkan penjualan minyak Iran nan sudah berada di laut untuk mengurangi guncangan pasokan global. "Otorisasi jangka pendek... bakal berhujung dalam beberapa hari dan tidak bakal diperbarui," demikian pernyataan resmi.

Langkah ini menunjukkan Washington tetap menjalankan strategi "tekanan maksimum" terhadap Teheran, meskipun jalur diplomasi mulai dibuka. Kebijakan ini juga berpotensi memperketat pasokan daya dunia jika bentrok berlanjut.

5.Hizbullah Serang Israel Utara

Ketegangan di lapangan belum mereda. Hizbullah meluncurkan serangan roket ke 13 kota di Israel utara. Hal ini terjadi hanya beberapa saat setelah pembicaraan Israel-Lebanon dimulai di Washington.

Serangan ini menunjukkan adanya perbedaan dinamika antara jalur diplomasi dan kondisi militer di lapangan. Hizbullah, nan didukung Iran, tetap menjadi tokoh kunci dalam bentrok di perbatasan Lebanon-Israel.

Aksi ini berpotensi memicu respons militer lanjutan dari Israel. Ini sekaligus menguji komitmen kedua negara terhadap proses negosiasi nan baru dimulai.

6.Update AS Blokade Selat Hormuz

Militer AS melaporkan telah menghentikan enam kapal nan mencoba keluar dari pelabuhan Iran dalam 24 jam pertama sejak blokade laut diberlakukan. Ini menjadi bagian dari langkah Trump memblokade Selat Hormuz.

Namun, info pencarian maritim menunjukkan bahwa beberapa kapal tetap sukses melintasi Selat Hormuz meskipun blokade telah diberlakukan. Hal ini menandakan penerapan blokade tetap menghadapi tantangan di lapangan.

Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial lantaran merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke pasar global. Sebanyak 20% minyak dunia melewati perairan sempit antara Iran dan Oman itu.

7.Trump Kritik Negara NATO

Dalam perkembangan lain, Trump juga melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, nan selama ini dikenal sebagai sekutu politiknya. Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, Trump menyayangkan sikap Meloni nan dinilai tidak cukup mendukung upaya militer terhadap Iran.

"Saya terkejut padanya. Saya pikir dia mempunyai keberanian, tetapi saya salah," ujarnya.

Pernyataan ini mengindikasikan adanya perbedaan sikap di antara sekutu Barat mengenai pendekatan terhadap bentrok Iran. Sebelumnya Spanyol malah mendukung China sebagai mendiator perang Iran dan AS.

8.Bantuan Kemanusiaan Masuk Iran

Di tengah konflik, support kemanusiaan mulai mengalir ke Iran. Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional mengonfirmasi pengiriman pasokan medis lintas perbatasan.

Pengiriman ini merupakan nan pertama sejak bentrok pecah, menandai mulai terbukanya akses support bagi penduduk sipil nan terdampak perang. Bantuan tersebut diharapkan dapat meredakan krisis kemanusiaan nan berpotensi memburuk jika bentrok berkepanjangan.

9.IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Kawasan

Dampak perang juga terasa signifikan terhadap ekonomi kawasan. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi hanya 1,1% pada 2026, dari sebelumnya 3,9%. IMF memperingatkan bahwa bentrok telah mengganggu ekspor minyak dan gas, terutama dari negara-negara Teluk seperti Iran, Irak, dan Qatar.

Selain itu, gangguan pengedaran daya melalui jalur-jalur utama seperti Selat Hormuz turut memperburuk prospek ekonomi. Meski demikian, IMF memperkirakan pemulihan dapat terjadi pada tahun berikutnya, dengan syarat produksi daya dan sistem transportasi dunia kembali normal dalam beberapa bulan ke depan.

10.Israel dan Lebanon Sepakat Negosiasi Langsung

Israel dan Lebanon menyepakati dimulainya pembicaraan langsung setelah melalui "diskusi produktif" di Washington. Pertemuan ini berjalan lebih dari dua jam dan dimediasi oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan kedua negara.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepahaman awal untuk membuka jalur komunikasi formal. "Semua pihak sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat nan disepakati bersama," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Kesepakatan ini menjadi perkembangan penting, mengingat selama ini komunikasi Israel-Lebanon lebih banyak dilakukan melalui mediator internasional. Namun, di lapangan, situasi tetap sangat rentan dengan potensi eskalasi sewaktu-waktu, terutama lantaran keterlibatan golongan bersenjata seperti Hizbullah.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News