Untung KAI Turun Tajam, Ini Biang Keroknya

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Laba PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengalami penurunan pada semester I 2026. Dalam laporan finansial KAI Group (unaudited), perusahaan membukukan untung sebelum pajak sebesar Rp 842,69 miliar dan untung tahun melangkah sebesar Rp 314,03 miliar di semester I 2026.

Angka tersebut turun dalam jika dibanding periode nan sama tahun sebelumnya di mana untung sebelum pajak tercatat Rp 1,86 triliun dan untung tahun melangkah sebesar Rp 1,18 triliun.

Penurunan untung dipengaruhi peningkatan pencatatan rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan upaya patungan, dari Rp 948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp 3,00 triliun pada semester I 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, pendapatan perusahaan mengalami peningkatan pada semester I 2026. KAI mencatat pendapatan sebesar Rp 17,96 triliun meningkat 6,6% dibanding periode nan sama tahun lalu.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, capaian tersebut menunjukkan aktivitas upaya utama KAI Group terus menguat seiring pertumbuhan layanan, peningkatan produktivitas, pengelolaan biaya, serta sinergi seluruh entitas perusahaan.

"Pertumbuhan pendapatan dan untung upaya menjadi modal krusial bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja upaya nan kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan jasa penumpang dan barang," ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).

Lebih jauh, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 104,79 triliun. Total liabilitas mencapai Rp 65,11 triliun, turun dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp 66,14 triliun.

Sementara itu, total ekuitas meningkat dari Rp 39,29 triliun menjadi Rp 39,69 triliun. Pada periode nan sama, utang jangka pendek turun dari Rp 16,20 triliun menjadi Rp 15,17 triliun.

Sebagai informasi, salah satu upaya patungan KAI adalah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) nan menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), perusahaan itu merupakan operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Pilar Sinergi BUMN Indonesia tetap mencatatkan rugi hingga Rp 5,13 triliun. Total liabilitas Pilar Sinergi BUMN Indonesia juga tercatat lebih tinggi daripada total asetnya, ialah Rp 21,54 triliun dan Rp 21,52 triliun.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan pihaknya tetap perlu waktu untuk menyelesaikan masalah nan membebani finansial KAI. Salah satunya adalah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Kami nan baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem nan ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi nan luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu kudu diberesin," ujar Dony kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026) nan lalu.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance