Unik! Studi Ungkap Daun yang Tebal dan Keras Justru Lebih Suka Dimakan Serangga

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Unik! Studi Ungkap Daun nan Tebal dan Keras Justru Lebih Suka Dimakan Serangga Ilustrasi(Magnific)

SELAMA ini, para mahir biologi meyakini tanaman berevolusi mengembangkan daun nan tebal, keras, dan berserat sebagai corak pertahanan diri agar tidak dimakan serangga. Logikanya, daun nan keras bakal susah dikunyah dan dicerna. Namun, sebuah studi terbaru justru mengungkap kebenaran sebaliknya nan mematahkan teori lama tersebut.

Penelitian nan dipimpin para intelektual dari Universitas Princeton menemukan sebuah paradoks, serangga herbivora rupanya lebih banyak menyantap daun nan keras dibandingkan daun nan lunak. Studi ini memberikan pandangan baru nan krusial mengenai gimana tanaman mempertahankan diri dan gimana rimba di seluruh bumi merespons perubahan iklim.

"Kemampuan untuk mengukur kekerasan daun di lapangan memungkinkan kami menguji dugaan lama bahwa daun nan lebih keras terlindungi dari herbivora," kata Matthew S. Grobis, seorang peneliti pascadoktoral di Departemen Ekologi dan Biologi Evolusioner Princeton sekaligus penulis utama studi tersebut. "Sebaliknya, kami menemukan bahwa daun nan keras justru mengalami tingkat kerusakan nan lebih tinggi akibat dimakan serangga."

Untuk memecahkan misteri ini, tim peneliti mengawasi lebih dari 1.000 tanaman dari puluhan jenis di area rimba tropis tengah dan rimba tangkapan air lokal. Menggunakan perangkat unik nan mengukur kekuatan nan dibutuhkan untuk menusuk daun, mereka menemukan tingkat kerusakan akibat serangga justru meningkat seiring dengan bertambahnya kekerasan daun.

Para peneliti mengusulkan beberapa penjelasan teoritis atas kejadian unik ini. Salah satunya adalah kemungkinan bahwa daun nan tebal dan keras menyimpan lebih banyak nutrisi alias air, sehingga sepadan dengan upaya ekstra nan dikeluarkan serangga untuk mengunyahnya. Teori lain menyebut bahwa daun keras nan berumur lebih panjang memberikan lebih banyak waktu bagi serangga untuk menemukannya dan menjadikannya sumber makanan jangka panjang.

"Temuan ini menunjukkan bahwa kekerasan daun mungkin bukan kegunaan pertahanan mekanis nan sederhana melawan serangga, melainkan bagian dari strategi investasi jangka panjang nan lebih kompleks oleh tanaman," jelas Grobis.

Penelitian nan telah dipublikasikan dalam jurnal Ecology Letters ini menantang model ekologi nan sudah mapan. Penemuan ini juga mempunyai implikasi besar dalam memprediksi gimana ekosistem rimba bakal merespons perubahan lingkungan global, mengingat banyak tanaman condong memproduksi daun nan lebih tebal dan keras sebagai respons terhadap kondisi kekeringan dan peningkatan karbondioksida di atmosfer. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia