UGM Sampaikan Duka atas Meninggalnya Sekeluarga saat Glamping di Temanggung

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Evakuasi jenazah korban glamping maut Posong, Temanggung. Foto: Dok. RSUD Kabupaten Temanggung

Bagas Amar Hakiki (21), salah satu anak dari sekeluarga nan meninggal saat glamping di lokasi wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, merupakan mahasiswa Sastra Prancis di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM).

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Yogyakarta, Prof. Dr. Setiadi, menyampaikan ucapan belasungkawa atas peristiwa tersebut.

"Menurut buletin nan kami dengar seperti itu. FIB sangat bersungkawa atas meninggalnya mahasiswa kami," kata Setiadi kepada kumparan, Kamis (28/5).

Evakuasi jenazah korban glamping maut Posong, Temanggung. Foto: Dok. BPBD Kabupaten Temanggung

Bagas merupakan mahasiswa Sastra Prancis angkatan 2022. Korban juga menjabat sebagai Ketua Unit Fotografi UGM periode 2023/2024.

UGM berambisi hasil penyelidikan polisi dapat memastikan penyebab meninggalnya Bagas. Di sisi lain, pihaknya juga tetap menunggu hasil penyelidikan.

"Semoga hasil penyelidikan dari polisi bisa memastikan penyebab meninggalnya Mas Bagas. Saat ini kami tetap menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian," imbuhnya.

Diketahui, Bagas Amar Hakiki meninggal berbareng tiga personil keluarganya nan lain, ialah ayah berinisial MAN (52), ibu M (43), dan adiknya AE (16).

Saat ini jenazah tetap diautopsi di RSUD Temanggung, Jawa Tengah. Rencananya pemakaman dilakukan pada Kamis (28/5).

Dugaan Sementara

Polisi mengungkap temuan baru dalam kasus tewasnya empat orang dalam satu family penduduk Ambarawa, Kabupaten Semarang tersebut.

Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan dugaan keracunan gas itu menguat setelah interogator menemukan gas portable nan digunakan korban untuk memasak.

"Kemungkinan ada dua, dari gas portable itu sama gas setelah bakar-bakar. Jadi setelah barbeque-an lantaran langsung tidur, setelah dia bakar-bakar langsung ditutup pintunya," kata Mahendra kepada wartawan, Kamis (28/5).

Ia menjelaskan, kondisi tenda glamping nan relatif tertutup diduga membikin sirkulasi udara tidak melangkah maksimal sehingga gas terperangkap di dalam ruangan.

"Posisi bbq-an memang agak ke luar tapi kemungkinan masuk (ke tenda). Jadi ada dua kemungkinan," jelas dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan