UEA Disebut Berupaya tak Lewati Selat Hormuz Lagi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
UEA Disebut Berupaya tak Lewati Selat Hormuz Lagi Selat Hormuz, Iran(BBC)

PEMERINTAH Uni Emirat Arab (UAE) sedang mengerjakan rencana besar untuk menghilangkan ketergantungannya pada Selat Hormuz setelah penutupan jalur air krusial tersebut baru-baru ini mengungkap kerentanan perdagangan dan aliran daya di Teluk.

Menteri Perdagangan Luar Negeri UAE, Thani Al Zeyoudi, mengatakan negara itu sedang bergerak menuju "nol ketergantungan pada Hormuz," menurut laporan Bloomberg, Rabu (17/6).

Rencana itu muncul ketika pasar dunia menunggu pembukaan kembali selat sepenuhnya setelah kesepakatan perdamaian sementara antara Iran dan AS.

Selat Hormuz, nan dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia sebelum perang, telah terganggu sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.

Inti dari rencana UAE adalah ekspansi besar-besaran pelabuhan timur Dibba, Fujairah, dan Khor Fakkan, nan terletak di luar selat di pantai Teluk Oman, menurut laporan tersebut.

Negara itu juga berencana membangun setidaknya satu pelabuhan baru di garis pantai nan sama, berbarengan dengan jaringan pipa, kereta api, dan jalan raya baru untuk menghubungkan pelabuhan timur dengan ladang minyak dan gas serta akomodasi perminyakan.

UAE sudah menggunakan pipa nan ada dengan kapabilitas 1,5 juta barel per hari untuk mengirimkan minyak mentah ke Fujairah, memungkinkan mereka untuk sebagian menghindari Selat Hormuz.

Pada pertengahan Mei, mereka mengumumkan bakal mempercepat pembanguna pipa kedua untuk menggandakan kapabilitas ekspor minyak mentah melalui Fujairah pada 2027.

Negara itu juga sedang mempelajari pipa minyak bumi ketiga dan opsi lain untuk mendukung ekspor petrokimia, LNG, dan produk daya lainnya.

Al Zeyoudi tidak memberikan biaya alias jangka waktu, dengan mengatakan bahwa proyek-proyek tersebut tetap dalam tahap studi kelayakan, meskipun ekspansi prasarana diperkirakan bakal memerlukan investasi senilai miliaran dolar.

Mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz tetap sulit, lantaran mengalihkan LNG, aluminium, dan komoditas lainnya dari pelabuhan Teluk bakal lebih kompleks daripada mengalihkan minyak mentah dan minyak olahan.

UAE juga sangat berjuntai pada pelabuhan-pelabuhan di Teluk, khususnya Jebel Ali di Dubai, salah satu pusat kontainer terbesar di dunia, untuk impor dan redistribusi.

UAE telah berulang kali menyerukan lampau lintas tanpa gangguan melalui Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa jalur air tersebut sangat krusial untuk keamanan, stabilitas, dan kemakmuran ekonomi regional dan global.

Rencana itu menandai pergeseran strategis nan lebih luas menuju pengurangan paparan terhadap akibat geopolitik di Teluk dan penguatan jalur perdagangan dan daya pengganti di luar selat. (Ant/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia