Kualitas udara di Jakarta pada Rabu (2/9) siang berada dalam kategori tidak sehat untuk golongan sensitif.
Berdasarkan info IQAir pada Rabu (2/9) pukul 13.00 WIB, kualitas udara Jakarta mencatat skor 137 dan berada di posisi kelima sebagai kota dengan kualitas udara terburuk.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan golongan rentan seperti bayi, balita, dan lansia perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara sedang buruk.
“Pokoknya nan krusial terutama untuk golongan rentan, bayi, balita, lansia, kudu lebih berhati-hati. Kalau memang ketika kondisi udara enggak bagus ya, jika bisa tidak keluar ya sebaiknya tidak keluar,” kata Ani saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (2/9).
Ani mengatakan masyarakat nan tetap kudu beraktivitas di luar ruangan dapat menggunakan pelindung pernapasan seperti masker.
“Kalau pun kudu beraktivitas, jika kondisinya sedang tidak baik, boleh pakai pelindung seperti masker,” ujarnya.
Menurut Ani, kondisi udara nan jelek dapat beriringan dengan munculnya gangguan kesehatan, salah satunya jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA).
“Iya, memang salah satu kemungkinan penyakit nan muncul beriringan dengan kondisi udara adalah ISPA. Kalau sudah merasa bergejala, ada gejala, langsung datang aja ke faskes, agar bisa dapat pertolongan dengan cepat,” kata Ani.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Selain ISPA, Ani menyebut penyakit lain nan berangkaian dengan sistem pernapasan juga dapat terdampak oleh buruknya kualitas udara. Kondisi tersebut terutama perlu diwaspadai oleh masyarakat nan mempunyai penyakit penyerta.
“Prinsipnya adalah penyakit-penyakit nan berasosiasi dengan pernapasan. Dan itu bakal diperburuk pada orang nan memang sudah punya penyakit penyerta, punya asma, dia punya sakit paru-paru,” tuturnya.
Sebelumnya, beredar video di media sosial nan memperlihatkan kondisi polusi udara tebal di area Jabodetabek. Dalam narasi video tersebut disebutkan bahwa rekaman diambil saat penerbangan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.
Kawasan Baywalk, Pluit, Jakarta Utara, juga disebut nyaris tidak terlihat akibat kondisi udara nan berkabut dan berpolusi.
Pemprov DKI Upayakan Modifikasi Cuaca
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan Pemprov DKI Jakarta telah beberapa kali berupaya melakukan modifikasi cuaca untuk mengatasi kondisi udara dan kekeringan.
Namun, upaya tersebut belum dapat dilakukan lantaran kondisi awan nan tidak mendukung.
“Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sudah berulang kali mencoba untuk melakukan modifikasi cuaca, tapi kami minta maaf lantaran awannya tidak ada, sehingga hujannya juga belum bisa dilakukan,” kata Pramono di area CFD Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (16/8).
Pramono telah memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Jika nantinya terbentuk awan nan memungkinkan untuk dilakukan modifikasi cuaca, operasi tersebut diminta segera dijalankan.
“Tapi saya sudah memerintahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk bekerja sama dengan BMKG, jika kemudian awannya ada untuk segera dilakukan modifikasi cuaca,” ujarnya.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·