Ucapan Mengejutkan Wamenperin-2 Pengusaha Soal Rupiah dan Pertamax Naik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan tren positif. Gerak penguatan rupiah terhadap dolar AS berlanjut ke hari ini.

Mengutip Refinitiv, kurs rupiah pada perdagangan hari ini, Jumat (12/6/2026) dibuka menguat tajam 0,42% atau terapresiasi ke level Rp17.900/US$. 

Kurs rupiah nan melemah dan sempat ambruk melawan dolar AS hingga ke Rp18.170 sebagai level terlemah sepanjang masa, terjadi pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni 2026 lalu, sempat membikin gonjang-ganjing di Tanah Air. Bahkan, kepanikan sempat terbaca dari para investor, baik asing maupun dalam negeri.

Pengusaha pun bersuara, meminta pemerintah mobilitas sigap mengatasi pelemahan rupiah. Direspons pemerintah dan DPR RI dengan menggelar rapat maraton demi penguatan rupiah. 

Di tengah tren pergerakan rupiah tersebut, PT Pertamina resmi melakukan penyesuaian nilai Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi mulai Rabu, 10 Juni 2026.

Mengutip situs PT Pertamina Patra Niaga, Pertamina resmi meningkatkan nilai BBM Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter mulai Rabu, 10 Juni 2026 untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Harga BBM Pertamax ini naik Rp 3.950 per liter dari sebelumnya ditetapkan Rp 12.300 per liter pada 1 Juni 2026.

Sebagai catatan, pada perdagangan hari Rabu, 10 Juni 2026, Refinitiv mencatat rupiah ditutup pada level Rp17.950 per dolar AS. Posisi ini membikin rupiah sukses keluar dari level psikologis Rp18.000/US$, setelah pertama kali menembus level tersebut pada 4 Juni 2026 lalu.

Lalu gimana pemerintah dan pengusaha merespons dinamika kurs rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan nilai Pertamax tersebut? 

Wamenperin Klaim Panen Peluang

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, saat ini sejumlah sektor sedang panen peluang. Di tengah kehebohan tertekannya kurs rupiah.

"Belakangan banyak rumor bahwa kenaikan mata duit asing dan penekanan rupiah kondisi pasar seolah-olah pengaruhnya besar pada industri. Tapi, kita tahu bahwa justru sekarang sektor-sektor tertentu mengalami panen peluang," ujar Riza dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).


Dari hasil peninjauan di lapangan, dia menilai sejumlah industri tetap mempunyai ketahanan upaya nan cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.

"Kelihatan bahwa punya esensial nan baik, dan nyaris tidak terpengaruh oleh lemahnya alias tidak stabilnya nilai tukar rupiah maupun pasar modal. Saya juga memandang industri nasional kita mempunyai ketahanan nan kuat dalam menghadapi situasi nan tidak stabil secara global," ujarnya.

Selain itu, pemerintah disebut tengah memperketat pengawasan arus peralatan masuk guna melindungi industri dalam negeri dari praktik perdagangan nan tidak sehat.

"Pemerintah juga mengatur agar di border betul-betul ketat. Presiden sudah memerintahkan agar bea cukai jadi kekuatan ekonomi kita, dengan membatasi peralatan ilegal, tidak memenuhi standar, dan peralatan nan merusak pasar dalam negeri," ujar Riza.

Pengusaha Beri Respons

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman mengatakan, meski pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya bahan baku tertentu, dampaknya tetap dapat terjaga selama permintaan pasar tetap terjaga.

"(Kurs dan nilai Pertamax naik) buat saya nggak jadi masalah dan bakal memperkuat ketika kuncinya satu ialah market. Kalau marketnya dijaga, lantaran market Indonesia saya percaya tetap jalan, termasuk kesempatan ekspor juga ada," kata Nandi kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/6/2026).

Bahkan jika kondisi pasar domestik tetap terjaga dan kesempatan ekspor terus membaik, industri konveksi tetap mempunyai kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Sebagai sektor padat karya, setiap peningkatan permintaan pasar biasanya bakal langsung diikuti dengan kebutuhan tambahan pekerja di lini produksi, mulai dari penjahit, pemotong bahan, hingga tenaga pendukung lainnya.

"Kami para pelaku home industri khususnya, saya juga udah ngobrol dengan teman-teman, tetap selama market tetap ada kami tidak ada khawatir, apalagi jika marketnya konsisten bagus bisa menyerap 100 ribu tenaga kerja baru di 2027," kata Nandi.

Direktur Keuangan PT Superior Prima Sukses (BLES) Andrew menuturkan perihal senada. 

"Biaya daya dan pengedaran merupakan salah satu komponen biaya nan krusial dalam industri manufaktur bahan bangunan. Namun demikian, akibat kenaikan nilai Pertamax terhadap Perseroan relatif mini mengingat aktivitas pengedaran produk Perseroan pada umumnya menggunakan armada pikulan berbahan bakar solar subsidi," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/6/2026).

Dia juga mengaku belum terlalu mengkhawatirkan skenario nilai tukar rupiah memperkuat di level Rp18.000 per dolar AS. Struktur biaya nan didominasi bahan baku, energi, dan biaya operasional domestik membikin eksposur langsung terhadap perubahan dolar relatif rendah.

"Secara keseluruhan, Perseroan menilai potensi tekanan terhadap margin untung akibat pelemahan nilai tukar Rupiah relatif kecil. Hal ini lantaran sebagian besar bahan baku utama, sumber energi, serta biaya operasional Perseroan diperoleh dari pemasok domestik dan menggunakan mata duit Rupiah, sehingga akibat terhadap perubahan nilai tukar Dolar Amerika Serikat tidak signifikan," kata Andrew.

"Terkait komparasi antara pelemahan nilai tukar Rupiah dan kenaikan nilai bahan bakar, Perseroan memandang keduanya merupakan aspek eksternal nan perlu dicermati. Namun, mengingat sebagian besar bahan baku, sumber energi, dan biaya operasional Perseroan berasal dari sumber domestik, maka tidak ada akibat langsung perubahan nilai tukar terhadap biaya produksi Perseroan," ujarnya.

Berpotensi Picu Inflasi

Sementara itu, akademisi menilai akibat kenaikan nilai Pertamax tidak hanya dapat diukur dari sisi biaya logistik secara langsung. Kenaikan nilai bahan bakar berpotensi menimbulkan pengaruh berantai terhadap aktivitas ekonomi nan pada akhirnya turut dirasakan sektor industri.

"Tidak berakibat secara langsung memang utamanya pada biaya logistik," kata Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/6/2026).

Kenaikan nilai BBM nonsubsidi seperti Pertamax dapat memicu tekanan inflasi dari sisi biaya (cost push inflation). Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan nilai beragam peralatan dan jasa, termasuk bahan baku maupun komponen penunjang produksi nan digunakan pelaku industri.

"Tapi kenaikan nilai Pertamax memicu inflasi (cost push inflation) nan menyebabkan biaya produksi industri naik," sebut Fahmy.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News