Turki-Israel Memanas! Kian Sengit Rebutan Pengaruh di Timur Tengah

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Turki dan Israel kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara ke sebuah pangkalan udara nonaktif di Suriah utara pekan lalu. Serangan itu diklaim Israel sebagai langkah pencegahan atas dugaan rencana penempatan pasukan Turki di letak tersebut. Baik pemerintah Turki maupun Suriah membantah ada rencana pengerahan pasukan ke pangkalan itu, dan untungnya tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan unik untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, apalagi turut mengkritik serangan itu sebagai eskalasi nan tidak perlu.

Rivalitas kedua negara sebenarnya bukan perihal baru, namun belakangan semakin terbuka dan tajam. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam beberapa tahun terakhir kerap melontarkan kritik pedas terhadap Israel, termasuk menyebutnya sebagai "negara teror" dan membandingkan PM Benjamin Netanyahu dengan Hitler. Netanyahu tak tinggal tak bersuara - dia balas menyebut Erdogan sebagai diktator antisemit, sementara sejumlah pejabat Israel menuding Turki mendukung terorisme dan bertindak layaknya negara musuh.

Sehari setelah serangan ke Suriah, Netanyahu menegaskan lewat video di media sosial bahwa Israel tidak bakal menerima kehadiran militer Turki nan meluas ke arah selatan lantaran dianggap menakut-nakuti keamanan negaranya. Dua hari berselang, Turki membalas dengan mengumumkan upaya penangkapan Netanyahu melalui Interpol atas tuduhan genosida dan penyiksaan, mengenai kasus domestik Turki soal perlakuan Israel terhadap aktivis pro-Palestina nan dicegat di laut dalam perjalanan menuju Gaza.

Para analis menilai akar ketegangan ini berasal dari dua peristiwa besar. Pertama, perang Israel di Gaza nan dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel - perang jawaban Israel disebut otoritas kesehatan Gaza telah menewaskan sekitar 73.000 orang, termasuk puluhan ribu wanita dan anak-anak. Kedua, jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah akhir 2024 nan melahirkan pemerintahan baru ketua Ahmed al-Sharaa, sosok nan mempunyai hubungan erat dengan Turki namun dicurigai oleh Israel.

Suriah sekarang menjadi titik gesekan paling rawan antara kedua negara. Turki menginginkan Suriah nan stabil dan berasosiasi di bawah kepemimpinan nan didukungnya, sementara Israel justru lebih memilih Suriah nan terpecah dengan militer lemah agar tidak menjadi ancaman. Perbedaan visi nan esensial ini membikin kedua negara terus saling berprasangka di area tersebut.

Persaingan Turki dan Israel juga meluas jauh melampaui Timur Tengah. Di Tanduk Afrika, Turki mempunyai hubungan erat dengan Somalia lewat kehadiran diplomatik dan militer nan signifikan, sementara Israel pada Desember lampau menjadi negara pertama nan mengakui kemerdekaan Somaliland - langkah nan langsung dikecam keras oleh Erdogan. Di Mediterania Timur, Israel mempererat kerja sama militer dan daya dengan Yunani serta Siprus, dua negara nan punya sengketa wilayah lama dengan Turki.

Sebagai respons atas dinamika ini, Turki bulan ini menandatangani pakta pertahanan berbareng dengan Arab Saudi dan Pakistan, nan menurut para analis sebagian ditujukan untuk mengimbangi pengaruh Israel di kawasan. Meski demikian, para pengamat sepakat bahwa mini kemungkinan kedua negara bakal terlibat bentrok militer langsung, terutama lantaran Amerika Serikat - sekutu dekat keduanya - mempunyai kepentingan besar untuk mencegah bentrok terbuka antara Turki dan Israel.

Sejumlah analis Israel apalagi memperkirakan bahwa serangan ke Suriah turut dimanfaatkan Netanyahu untuk memperkuat gambaran keamanan nasionalnya menjelang pemilu Israel pada Oktober mendatang. Di sisi lain, Turki dan Israel sama-sama tidak terkenal di mata publik negara rivalnya, sehingga retorika keras terhadap satu sama lain dinilai juga menguntungkan secara politik di dalam negeri masing-masing.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News