Tulisan Anak Tidak Rapi dan Sulit Fokus, Kapan Perlu Khawatir?

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Ilustrasi anak belajar baca, tulis, dan berbilang (Calistung). Foto: Kdonmuang/Shutterstock

Melihat tulisan anak masih acak-acakan saat belajar mungkin membikin orang tua khawatir. Apalagi jika anak juga memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan tugas alias terlihat tidak konsentrasi saat menulis.

Namun, tulisan nan belum rapi tidak selalu menandakan adanya masalah pada anak. Menurut psikolog, Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog menulis merupakan aktivitas nan cukup kompleks dan memerlukan beragam kemampuan.

“Anak perlu mempunyai kekuatan dan koordinasi tangan, keahlian mengontrol pensil, koordinasi mata dan tangan, keahlian memerhatikan, hingga keahlian mengenali serta membentuk huruf,” jelas Madeline pada kumparanMOM, Selasa (8/9).

Karena itu, pada anak nan tetap mini dan sedang belajar menulis, tulisan nan belum rapi tetap dapat menjadi bagian dari proses perkembangannya.

Kapan Orang Tua Harus Mulai Memberi Perhatian Lebih?

Ilustrasi anak belajar baca, tulis, dan berbilang (Calistung). Foto: Odua Images/Shutterstock

Orang tua dapat memberikan perhatian lebih andaikan kesulitan menulis terus terjadi, tidak menunjukkan perkembangan, alias mulai mengganggu proses belajar anak.

Beberapa perihal nan dapat diamati, misalnya anak:

  • Membutuhkan waktu nan sangat lama untuk menulis

  • Cepat merasa capek setiap kali menulis

  • Sangat kesulitan memegang pensil

  • Menghindari aktivitas menulis

  • Mudah frustrasi ketika kudu menulis

“Selain memandang keahlian menulis, orang tua juga bisa memperhatikan apakah kesulitan koordinasi tangan terlihat dalam aktivitas lain. Misalnya, ketika anak menggunting, menggunakan perangkat makan, mengancingkan baju, alias melakukan aktivitas lain nan memerlukan koordinasi tangan,” kata Madeline.

Anak Sulit Fokus Saat Menulis, Apakah Bermasalah?

Anak nan terlihat kurang konsentrasi ketika menulis juga belum tentu mengalami masalah perhatian, Moms.

Bisa jadi, anak merasa kesulitan mengerjakan tugas tersebut sehingga memerlukan upaya nan jauh lebih besar untuk menyelesaikannya. Ketika mengalami kesulitan, anak dapat terlihat mudah terdistraksi, menghindari tugas, alias apalagi menjadi frustasi.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label kepada anak.

Jika kesulitan tersebut terus terjadi dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari maupun proses belajar, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog alias ahli nan sesuai untuk membantu mengetahui penyebabnya.

“Tugas kita bukan memaksa semua anak menjadi dahsyat dalam perihal nan sama, tetapi membantu mereka mengenali kekuatannya sembari tetap mendukung area nan tetap perlu dikembangkan,” tutup Madeline.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan