Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bakal berjumpa di Beijing pada Kamis (14/05/2026). Pertemuan ini dianggap sangat krusial lantaran agenda nan dibahas mencakup beragam rumor panas mulai dari perdagangan, teknologi, kendali ekspor tanah jarang (rare earth), hingga bentrok Iran dan kepintaran buatan (AI).
Mengutip CNBC International, langkah China sebelumnya nan menangguhkan ekspor beragam jenis tanah jarang serta larangan semikonduktor dari Nexperia China telah mengacaukan rantai pasok global. Hal ini berakibat langsung pada raksasa otomotif di Eropa, Jepang, hingga Korea Selatan.
"Hampir setiap orang mempunyai kepentingan dalam hasil pertemuan ini," kata Chad Bown, peneliti senior di Peterson Institute for International Economics.
Para pemimpin bumi lainnya dipastikan bakal memantau ketat setiap keputusan nan diambil di dalam ruangan tersebut, mengingat akibat jangka panjang nan bisa ditimbulkan bagi ekonomi global.
Taruhan Besar Ekonomi Global
Menjelang pertemuan puncak ini, kedua belah pihak terus meningkatkan tekanan. Washington menuduh Beijing melakukan pencurian teknologi AI milik Amerika secara besar-besaran, sementara China memerintahkan perusahaannya untuk mengabaikan hukuman AS terhadap minyak Iran.
"Seluruh bumi bakal berambisi kedua pemimpin dapat mencapai kesepakatan setidaknya pada sebagian masalah dan menemukan langkah untuk mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut," ujar Eswar Prasad, guru besar ekonomi di Cornell University.
Prasad menambahkan bahwa hasil pertemuan ini bakal mempunyai akibat besar bagi perdagangan global, geopolitika, hingga kelangsungan tatanan bumi nan berbasis aturan. Jika pertemuan berhujung buntu, volatilitas ekonomi dan geopolitik dikhawatirkan bakal melumpuhkan pertumbuhan global.
Pertemuan ini sebenarnya dijadwalkan pada Maret lalu, namun tertunda lantaran keterlibatan Washington dalam perang melawan Iran nan memicu guncangan daya terparah dalam sejarah. Sebelum pertemuan puncak di Beijing, pejabat tinggi termasuk Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan berjumpa di Korea Selatan pada hari Rabu untuk membahas rumor perdagangan.
Ketegangan Taiwan di Puncak Agenda
Salah satu rumor paling panas nan bakal dibahas adalah status Taiwan. Beijing dilaporkan telah mendesak pemerintahan Trump untuk mengurangi komitmen keamanan dan merevisi kebijakan resmi AS terhadap pulau tersebut.
"Kesepakatan tersirat alias definitif di mana Washington tampak memberikan ruang lingkup pengaruh kepada Beijing atas Taiwan demi konsesi di tempat lain dapat membikin China semakin berani untuk mengikis otonomi Taiwan," kata Bonnie Glaser, kepala pelaksana program Indo-Pasifik di German Marshall Fund Amerika Serikat.
Diplomat tinggi China, Wang Yi, dalam pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 April lalu, menyebut Taiwan sebagai titik akibat terbesar dalam hubungan bilateral kedua negara. Ia mendesak Washington untuk menepati janji dan membikin pilihan nan tepat untuk membuka ruang kerja sama baru.
Keseimbangan Halus Asia Tenggara
Pemerintah di Asia Tenggara juga memantau ketat apakah bakal ada pergeseran tarif AS terhadap barang-barang China dibandingkan dengan ekspor mereka sendiri. Stephen Olson, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute, menyebut jika tarif ekspor China turun, maka argumen upaya untuk memindahkan produksi dari China ke negara seperti Vietnam juga bakal berkurang.
Selain itu, masalah Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Negara-negara Asia Tenggara nan sangat berjuntai pada minyak Teluk telah menanggung beban berat akibat guncangan daya akibat bentrok Timur Tengah. Jika Trump dan Xi sukses mencapai kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut, perihal itu bakal memberikan support jangka pendek bagi krisis daya global.
Potensi Kerugian Jepang dan Uni Eropa
Di sisi lain, keberhasilan pertemuan ini justru bisa menjadi kemunduran bagi Brussels dan Tokyo. Kesepakatan daya potensial di mana Beijing setuju untuk membeli lebih banyak minyak dan gas alam AS dapat mendorong nilai komoditas dunia menjadi lebih tinggi.
"Setiap kemajuan dalam perdagangan, termasuk komitmen China untuk investasi langsung ke ekonomi AS, dapat menggeser pangsa pasar Jepang dan Eropa," kata Matt Gertken, kepala strategi di BCA Research.
Rusia Menanti dengan Cemas
Pertemuan ini juga dipantau ketat dari Moskow. Dukungan dari China menjadi semakin krusial bagi Rusia, dan perbaikan hubungan AS-China bisa membikin posisi Rusia terpojok.
"Rusia bakal gugup tentang peningkatan keseluruhan dalam hubungan AS-China," ujar Dennis Wilder, guru besar di Georgetown University.
Ada kemungkinan bahwa salah satu hasil pertemuan tersebut adalah pengurangan support China terhadap upaya perang Rusia di Ukraina. Menariknya, Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan mengunjungi Beijing minggu depan, hanya beberapa hari setelah Trump meninggalkan China.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·