Trump Update Blokade 'Pagar Laut' Selat Hormuz, Warning Baru Iran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah memerintahkan jejeran penasihat utamanya untuk memperpanjang blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ekstrem ini diambil sebagai strategi untuk memberikan tekanan ekonomi maksimal guna memaksa Teheran kembali ke meja perundingan tanpa kudu memulai kembali serangan militer.

Mengutip laporan CNN International dan CNBC International, Trump beriktikad melanjutkan penutupan jangka panjang Selat Hormuz, sebuah jalur vital perdagangan minyak dunia. Strategi ini tetap dijalankan meskipun perang telah memasuki minggu kesembilan-melampaui prediksi awal Trump nan menyebut bentrok hanya bakal berjalan enam minggu-dan telah memicu lonjakan nilai bahan bakar serta biaya perang nan sekarang telah menembus nomor US$ 25 miliar (Rp 431,32 triliun).


"Blokade ini jauh lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi nan dipanggang. Dan situasinya bakal semakin jelek bagi mereka. Mereka tidak boleh mempunyai senjata nuklir," ujar Trump dalam wawancara telepon dengan Axios pada Rabu, (29/04/2026).

Ketegangan semakin memuncak saat Trump mengunggah gambar hasil kepintaran buatan (AI) nan memperlihatkan dirinya memegang senjata dengan latar belakang ledakan di media sosial Truth Social. Unggahan tersebut disertai peringatan keras bersuara "NO MORE MR. NICE GUY!" sebagai pesan bahwa AS tidak bakal lagi berdiskusi dengan Teheran.

"Iran tidak bisa membereskan masalah mereka. Mereka tidak tahu langkah menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka lebih baik segera menjadi pintar!" tulis Trump dalam unggahannya tersebut.

Keputusan Trump untuk memperketat cengkeraman ekonomi ini langsung memicu guncangan dahsyat di pasar daya global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 6% hingga ditutup pada level US$ 118,03 (Rp 2,03 juta) per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak nyaris 7% ke level US$ 106,88 (Rp 1,84 juta) per barel.

"Blokade ini adalah jenius. Sekarang, mereka hanya perlu mengaku kalah, itu saja nan kudu mereka lakukan. Cukup katakan, 'Kami menyerah'," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Di sisi lain, pejabat intelijen AS memperkirakan ekonomi Iran hanya bisa memperkuat dalam hitungan minggu alias apalagi hari sebelum kolaps total akibat beban blokade dan kesulitan menyimpan minyak nan tidak terjual. Trump apalagi memperingatkan akibat kerusakan permanen pada prasarana daya Iran akibat penumpukan stok minyak nan tidak bisa diekspor.

"Apa nan terjadi adalah, saluran pipa itu meledak dari dalam, baik secara mekanis maupun di dalam tanah. Sesuatu terjadi di mana dia meledak begitu saja. Mereka bilang mereka hanya punya waktu sekitar tiga hari lagi sebelum itu terjadi. Dan ketika itu meledak, Anda tidak bakal pernah bisa membangunnya kembali seperti semula," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Hingga saat ini, Angkatan Laut AS dilaporkan telah mencegat alias mengalihkan nyaris 40 kapal nan mencoba memasuki alias keluar dari pelabuhan Iran. Meski demikian, perundingan diplomatik tetap menemui jalan buntu lantaran Trump menolak proposal terbaru Teheran nan meminta pembukaan Selat Hormuz namun menunda pembahasan mengenai program nuklir mereka.

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Negara nan Runtuh'. Mereka mau kita 'Membuka Selat Hormuz' sesegera mungkin, saat mereka mencoba memikirkan situasi kepemimpinan mereka," tulis Trump melalui akun media sosialnya.

Kekhawatiran bakal perang nan berkepanjangan ini semakin diperkuat oleh pernyataan Trump di Oval Office nan mengisyaratkan bahwa bentrok dengan Iran bisa menyantap waktu lama. Saat berbincang dengan wartawan, dia menyebut perang ini kemungkinan berhujung dalam agenda nan serupa dengan perang di Ukraina nan telah berjalan lebih dari empat tahun tanpa ada tanda-tanda mereda.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News