Trump Tuding Perusahaan Minyak Biang Harga BBM AS masih Mahal

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Trump Tuding Perusahaan Minyak Biang Harga BBM AS tetap Mahal Ilustrasi.(Magnific)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengecam perusahaan-perusahaan minyak besar lantaran nilai bensin di AS dinilai tetap terlalu tinggi setelah tercapai kesepakatan dengan Iran. Trump menyebut nilai bensin nasional semestinya turun ke sekitar US$2,25 per galon, level nan disebut belum pernah terlihat sejak 2 Januari 2021.

"Harga minyak sudah turun sangat banyak dan kami tidak memandang dampaknya di pompa bensin jika dibandingkan dengan semestinya. Menurut saya, nilai di pompa sekarang semestinya US$2,25. Dan kita tetap lebih tinggi dari itu," kata Trump kepada wartawan di Oval Office pada Rabu (24/6).

Rata-rata nasional nilai bensin AS per Kamis (25/6) berada di US$3,92 per galon. Angka itu turun dari US$4,51 sebulan sebelumnya, tetapi tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata US$2,98 sebelum dimulai perang di Iran pada 28 Februari, mengutip info American Automobile Association (AAA) nan disebut dalam laporan tersebut.

Trump Soroti Selat Hormuz dan Harga Minyak

Menurut Trump, nilai bensin semestinya turun lebih tajam setelah AS dan Iran sepakat membuka kembali Selat Hormuz, jalur sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman nan menjadi salah satu rute krusial minyak dunia.

Selat Hormuz disebut sebagai jalur nan biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Gangguan di area itu menghalang pasokan daya dunia dan mendorong nilai minyak mentah melonjak hingga lebih dari US$100 per barel, nan kemudian ikut meningkatkan nilai bensin global.

Trump menilai penurunan nilai minyak belum tercermin secara memadai di tingkat ritel. Ia menuduh perusahaan minyak mengambil untung dari situasi pasar nan terguncang.

Departemen Kehakiman Disebut Selidiki Price Gouging

Trump juga menuding ada praktik price gouging, ialah meningkatkan nilai secara signifikan ketika terjadi guncangan pasokan. Dalam unggahan media sosial tak lama setelah tengah malam pada Rabu, Trump mengatakan telah mengarahkan Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki persoalan tersebut.

Juru bicara Departemen Kehakiman AS menyebut nilai bahan bakar bukan hanya rumor keamanan nasional, tetapi juga berakibat langsung pada dompet penduduk Amerika.

"Harga bahan bakar bukan hanya rumor keamanan nasional, tetapi berakibat pada dompet setiap penduduk Amerika. Kami bakal selalu berkomitmen memastikan keterjangkauan di negara ini."

Dalam wawancara di Oval Office, Trump kemudian menyebut ExxonMobil, Chevron, Shell, dan BP sebagai pihak nan dia tuduh mengenai praktik tersebut. Ia mengatakan pemerintah sedang melakukan penyelidikan besar dan memperingatkan perusahaan agar tidak memeras rakyat.

"Mereka tidak menurunkan nilai sepadan dengan apa nan terjadi. Lihat, kami mengirimkan bayangkan, 19 juta barel keluar kemarin," kata Trump. "Jangan memeras rakyat kita."

Analis: Penyelidikan Biasanya Sulit Buktikan Price Gouging

Denton Cinquegrana, kepala analis minyak di Oil Price Information Service, menilai penyelidikan semacam itu biasanya menghasilkan sangat sedikit bukti mengenai praktik price gouging.

Menurutnya, langkah tersebut tampak lebih seperti upaya menekan nilai menjelang pemilu sela. Ia memperkirakan nilai bakal turun pada periode tersebut, tetapi tidak sampai kembali di bawah level sebelum perang.

"Harga bakal turun menjelang pemilu sela. Namun, saya tidak berpikir nilai bakal turun di bawah level sebelum perang," kata Cinquegrana.

Mengapa Harga Bensin AS Naik sejak 2021?

Trump berulang kali menyalahkan pemerintahan sebelumnya atas nilai bensin nan lebih tinggi. Namun, materi sumber menyebut nilai bensin mulai naik apalagi sebelum Trump meninggalkan Gedung Putih pada awal 2021.

Forbes memperkirakan ketika Presiden Joe Biden dilantik pada Januari 2021, nilai bensin sudah naik sekitar 50% sejak musim panas 2020. Kenaikan itu dikaitkan dengan ketatnya pasokan minyak ketika ekonomi mulai pulih dari guncangan pandemi covid-19, sementara permintaan meningkat lebih sigap daripada keahlian pemasok meningkatkan produksi.

Pada awal 2022, invasi Rusia ke Ukraina kembali mengguncang pasar minyak global. Biden melarang impor minyak Rusia, dan sejumlah pemimpin negara Barat juga mengambil langkah serupa, sehingga pasokan semakin ketat.

Dalam beberapa bulan sebelum perang di Iran, nilai bensin AS disebut sempat menurun. Namun, gangguan pasokan dunia akibat penutupan Selat Hormuz membikin nilai kembali naik ke level nan tidak terlihat sejak puncak nilai pada 2022.

Bisakah Harga Turun ke US$2,25 per Galon?

Meski Trump menilai nilai semestinya turun ke US$2,25 per galon, sejumlah analis memperkirakan sasaran itu susah tercapai dalam waktu dekat.

Patrick De Haan, kepala kajian petroleum GasBuddy, disebut menulis di X bahwa nilai bensin saat ini apalagi turun lebih sigap dibandingkan setelah mencapai puncak pada 2022. Ia menyebut penurunan rata-rata nasional mencapai 1,94 sen per galon per hari, dibandingkan 1,84 sen per galon per hari pada periode penurunan 2022 dari US$5,02 ke US$3,99.

Namun, penurunan itu tidak otomatis membawa nilai kembali ke level awal 2021. Salah satu penyebabnya adalah aspek musiman. Musim panas biasanya membikin nilai bensin lebih mahal lantaran permintaan perjalanan meningkat dan campuran bensin musim panas lebih mahal diproduksi dibandingkan campuran musim dingin.

"Untuk saat ini, bensin musim panas tetap diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi. Biayanya lebih mahal dibandingkan bensin musim dingin. Jika ini terjadi pada musim gugur, saya pikir nilai bakal lebih rendah dan turun lebih cepat," kata Cinquegrana.

Retailer tidak Selalu Bisa Langsung Turunkan Harga

Faktor lain nan membikin nilai di pompa tidak langsung mengikuti penurunan nilai minyak adalah biaya penggantian persediaan di tingkat pengecer. Menurut Cinquegrana, sebagian besar pengecer bensin tidak dioperasikan langsung oleh perusahaan minyak besar.

Jika pengecer membeli pasokan pada nilai tinggi, mereka tidak bisa langsung menjualnya di bawah biaya pembelian. Harga baru biasanya turun setelah stok lama lenyap dan pasokan berikutnya dibeli dengan nilai lebih rendah.

"Jika saya bayar US$3,50 per galon untuk pengiriman terakhir, saya tidak bisa menjual galon itu di bawah biaya saya. Itu model upaya nan buruk," kata Cinquegrana.

Proyeksi Harga Menjelang 4 Juli

Cinquegrana memperkirakan tren penurunan nilai bensin ritel bakal bersambung dalam beberapa pekan ke depan. Ia memperkirakan rata-rata nasional pada akhir pekan 4 Juli berada di kisaran US$3,75 per galon, tetap jauh dari sasaran US$2,25 nan diinginkan Trump.

De Haan memperkirakan rata-rata nasional dapat turun ke US$3,70 per galon pada 4 Juli. Pada akhir musim panas, dengan catatan tidak ada angin besar alias eskalasi baru, nilai disebut bisa mendekati US$3,35 per galon.

Adapun sasaran US$2,25 per galon tetap tampak sulit. Cinquegrana sebelumnya memperingatkan bahwa penduduk AS mungkin kudu melupakan rata-rata sebelum perang sebesar US$2,98 per galon untuk sisa 2026.

Dengan negosiasi AS-Iran nan tetap berjalan dan pasar daya dunia tetap sensitif terhadap gangguan geopolitik, nilai bensin AS kemungkinan tetap menjadi rumor politik utama sekaligus tekanan ekonomi bagi konsumen Amerika. (Newsweek/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia