Trump Siapkan Serangan Baru, Bakal Turunkan "Bencana" ke Iran

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap target-target mengenai Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di sekitar perairan strategis Selat Hormuz. Hal ini turut memicu rentetan ancaman baru dari Presiden Donald Trump untuk menghancurkan negara tersebut.

Mengutip Newsweek, Jumat (4/9/2026), Komando Pusat AS mengonfirmasi operasi militer pada hari Selasa tersebut nan bertepatan dengan eskalasi kampanye tekanan ekonomi AS. Menteri Keuangan Scott Bessent sebelumnya menyatakan ambisinya untuk mencekik rezim Teheran secara ekonomi guna memaksa mereka kembali ke meja perundingan.

Namun, pernyataan ini segera dibantah oleh Trump nan menegaskan bahwa dia sama sekali tidak berupaya memaksa Iran bernegosiasi. Pasalnya, orang nomor satu AS tersebut merasa berada di atas angin mengenai posisinya di Selat Hormuz.

"Saya tidak peduli jika mereka menandatangani perjanjian nan tidak berbobot bagi mereka. Saya jauh lebih menyukai posisi kami sekarang, dengan kendali nyaris total atas Selat Hormuz, dan ekonomi mereka betul-betul runtuh," paparnya.

Trump justru mengeluarkan ancaman nan jauh lebih mengerikan melalui platform media sosialnya. Ia memperingatkan bahwa serangan pamungkas AS saat ini tetap disimpan dan siap diluncurkan jika Teheran berani membalas.

"Jika Bangsa Iran nan kandas membalas serangan nan sangat dibenarkan ini, mereka bakal dipukul lagi pada tingkat nan jauh lebih keras dan lebih tinggi, tetapi itu bukan serangan nan terbesar dari semuanya, itu sedang menunggu di sayap. Ketika ini selesai, hanya bakal ada sedikit nan tersisa dari Republik Islam Iran!" tegasnya.

Dalam wawancara terpisah, Trump juga sesumbar bahwa militernya sengaja mempermainkan pasukan musuh dengan membiarkan Iran nyaris selesai membangun kembali sistem radar mereka sebelum akhirnya dihancurkan.

"Saya pikir kesepakatan dengan mereka tidak sebanding dengan kertas nan dituliskannya. Kami memberi mereka banyak kesempatan," ungkapnya.

Klaim Korban Sipil & Tembakan Balasan

Kantor buletin pemerintah Iran, IRNA, melaporkan adanya ledakan luar biasa di Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan Qeshm. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan, Ahmad Nafisi, menuduh serangan AS telah menghantam sebuah pesta pernikahan di desa Kuhestak nan menewaskan lima orang, termasuk seorang anak, dan melukai 68 lainnya. Merespons perihal tersebut, Komando Pusat AS langsung membantah keras tuduhan penargetan akomodasi sipil.

"Kami menyadari laporan tersebut, nan berasal dari media pemerintah Iran. Militer AS tidak pernah menargetkan penduduk sipil, tidak seperti IRGC," ucapnya.

Ketegangan gila-gilaan ini merupakan eskalasi dari serangan AS sebelumnya ke akomodasi peluncur roket di Pulau Larak. Buntut dari rentetan gempuran ini, Iran meluncurkan rudal balistik nan menargetkan pangkalan AS di pesisir Teluk Aqaba, Yordania, di mana 10 rudal sukses dicegat dan tiga lainnya jatuh di area kosong. Di letak lain, otoritas Uni Emirat Arab (UEA) juga menyatakan telah menembak jatuh drone Iran. Juru Bicara IRGC Brigjen Hossein Mohebbi pun melontarkan ancaman jawaban atas agresi Washington.

"Hukuman berat menanti para agresor dan Amerika bakal menyesali serangan barunya," tuturnya.

Di sisi lain, kelanjutan perang ini kian membebani pasokan amunisi canggih AS dan melambungkan nilai minyak mentah dunia hingga 7 persen dalam sepekan. Harga rata-rata bensin reguler AS melonjak menjadi US$4,10 (Rp72.570) per galon, naik tajam dibandingkan US$3,19 (Rp56.463) pada waktu nan sama tahun lalu.

Merespons ketidakstabilan ini, Departemen Luar Negeri AS pada hari Selasa telah merilis peringatan perjalanan baru di seluruh Timur Tengah, mendesak warganya serta beragam akomodasi kedutaan untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi serangan jawaban mematikan nan bisa terjadi tanpa pemberitahuan.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News