Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya bakal merasa terhormat untuk berjumpa dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Langkah mengejutkan ini diambil di tengah upaya untuk menyepakati perjanjian besar guna mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran nan telah menyeret stabilitas dunia hingga memasuki bulan keempat.
Mengutip CNBC International, Jumat (5/6/2026), Trump menegaskan kesediaannya tersebut saat menjawab pertanyaan dari para wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, setelah dirinya memberikan pengumuman resmi mengenai komoditas batu bara. Trump menyatakan dia membuka kesempatan penuh untuk bertatap muka secara langsung dengan pemimpin Teheran tersebut jika kesepakatan tenteram sukses dicapai.
"Jika kita membikin kesepakatan, ada kemungkinan saya bakal bertemu. Saya tidak keberatan dengan perihal itu," ujar Trump di hadapan media.
Sebagai informasi, Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru di Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas terbunuh pada hari pertama pertempuran sengit meletus. Meskipun serangan campuran Amerika Serikat dan Israel telah menewaskan ayah serta personil family Khamenei lainnya, Trump secara mengejutkan mengaku tetap berekspektasi bahwa sang pemimpin baru Iran bakal bersikap profesional.
"Di beberapa kalangan, dia sebenarnya mempunyai reputasi nan sangat baik," tambah Trump lagi.
Hingga saat ini, sinyal nan beragam terus bermunculan dari meja negosiasi nan bermaksud untuk mengakhiri perang, di mana bentrok tersebut telah mengacaukan pasar dunia serta memicu lonjakan dahsyat pada nilai minyak bumi dan bensin. Terlebih lagi, Iran telah menutup sebagian besar Selat Hormuz sejak awal perang, padahal jalur pelayaran kritis tersebut mengangkut sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia.
Berdasarkan info dari Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) pada hari Kamis, nilai bensin di Amerika Serikat rata-rata melonjak mencapai sekitar US$ 4,24 (Rp 76.320) per galon secara nasional. Di sisi lain, eskalasi bentrok berdarah ini dilaporkan telah berada dalam kondisi gencatan senjata nan sangat rentan selama beberapa minggu terakhir.
Dalam perundingan tersebut, pihak Amerika Serikat menuntut agar Iran menyetujui perjanjian untuk tidak bakal pernah memproduksi alias mempunyai senjata nuklir, serta segera membuka kembali Selat Hormuz bagi jalur pelayaran internasional. Sementara itu, pihak Iran menuntut diakhirinya permusuhan dengan segera di beragam lini pertempuran dan mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan blokade angkatan lautnya di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan sempat memuncak kembali setelah media pemerintah Iran pada hari Senin menyatakan bahwa tim negosiator Iran bakal menghentikan seluruh proses perundingan dan menutup total Selat Hormuz. Namun situasi kembali berubah drastis pada hari Rabu, setelah Trump secara sepihak menyatakan bahwa Iran sebenarnya telah melunak dan setuju untuk tidak mempunyai senjata nuklir.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·