Jakarta -
Harga minyak bumi kembali naik tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kesabarannya dalam menghadapi Iran mulai menipis. Bersama dengan itu, pasar minyak dunia juga tetap dibayangi kekhawatiran terhadap serangan dan penetapan tarif di sekitar Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Sabtu (16/5/2026), nilai minyak mentah Brent nan kerap menjadi patokan dunia naik lebih dari 2% menjadi US$ 108,25 per barel pada perdagangan Jumat (15/5). Sementara perjanjian berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk bulan Juni naik lebih dari 2% menjadi US$ 103,76 per barel.
Kenaikan nilai ini utamanya didorong oleh sentimen pelaku pasar daya dunia atas pernyataan Trump kepada Fox News pada Kamis (14/5) malam waktu setempat. Ia mengaku mulai lenyap kesabaran lantaran kesepakatan penyelesaian perang antar kedua negara tak kunjung selesai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak bakal lebih sabar lagi. Mereka kudu membikin kesepakatan," kata Trump dalam sebuah wawancara.
Bersamaan dengan itu, Trump mengatakan bahwa dia berbareng Presiden China Xi Jinping telah sepakat mau Selat Hormuz segera dibuka kembali. Bahkan menurutnya Negeri Tirai Bambu juga setuju untuk tidak lagi memberikan peralatan militer kepada Iran.
"Presiden China tidak menyukai kebenaran bahwa Iran mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal nan melintasi Hormuz," kata Trump.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara bahwa China bakal bekerja di kembali layar untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
"Sangat menguntungkan bagi mereka untuk membuka kembali selat tersebut," kata Bessent.
Di sisi lain, China tidak secara terbuka menyatakan bahwa mereka mendukung AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun Kementerian Luar Negeri China memberikan isyarat penggunaan kekerasan bakal memberikan jalan buntu dan negosiasi merupakan pilihan nan tepat dalam penyelesaian konflik.
"Tidak ada gunanya melanjutkan bentrok ini, nan semestinya tidak terjadi sejak awal. Menemukan langkah untuk menyelesaikan situasi ini secepat mungkin adalah kepentingan bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia," kata ahli bicara Kementerian Luar Negeri China.
(igo/ara)
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·