PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump.(Dok. Dok. AFP/Coffrini)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversial mengenai eskalasi konflik Rusia-Ukraina. Trump mengeklaim bahwa perang tersebut kemungkinan besar tidak bakal pernah terjadi andaikan negara-negara Barat tetap mempertahankan Rusia dalam format Kelompok Delapan (G8).
Dalam wawancara eksklusif dengan The Axios Show pada Jumat (19/6), Trump mengkritik kebijakan pemerintahan masa lalu, khususnya era Barack Obama, nan mendepak Rusia dari keanggotaan elit tersebut.
“Mereka semestinya tetap mempertahankan G8. Mungkin tidak bakal ada perang antara Rusia dan Ukraina jika mereka melakukannya, tetapi Obama tidak mau mereka (Rusia) ada di sana,” ujar Trump sebagaimana dikutip pada Sabtu (20/6).
Kritik Terhadap Format G7
Pernyataan ini mempertegas sikap Trump nan sebelumnya juga disampaikan di sela-sela KTT G7 di Evian pada Rabu (17/6). Ia secara terbuka meragukan efektivitas format G7 saat ini tanpa kehadiran Moskow. Menurutnya, keputusan mengeluarkan Rusia hanya didorong oleh kemauan segelintir negara.
“Mereka mau (Presiden Rusia Vladimir) Putin dikeluarkan. Dulu namanya G8. Maka, bakal jauh lebih baik jika mereka mempertahankan format itu,” tegas Trump.
Trump juga menyoroti ketimpangan konsentrasi dalam pertemuan-pertemuan G7. Ia mencatat bahwa sekitar 90 persen obrolan dalam forum tersebut justru berangkaian dengan Rusia, namun tanpa kehadiran negara nan berkepentingan untuk berbincang secara langsung.
Konteks Sejarah G8:
Format G8 bertindak antara tahun 1998 hingga 2014. Keanggotaan Rusia ditangguhkan, dan format kembali menjadi G7, menyusul langkah Moskow melakukan aneksasi terhadap Krimea pada tahun 2014.
Konsistensi Sikap Trump
Sikap pro-G8 ini bukan perihal baru bagi Trump. Pada April 2026, dia sempat menyatakan bahwa forum ekonomi dunia bakal berfaedah jauh lebih baik jika menahan diri dari tindakan pengusiran anggota. Bahkan pada tahun 2025, dia secara definitif menyebut pengusiran Rusia sebagai "kesalahan nan sangat besar" dalam sejarah diplomasi modern.
Hingga saat ini, wacana kembalinya Rusia ke dalam format G8 tetap menjadi perdebatan sengit di antara personil G7 lainnya, mengingat ketegangan geopolitik nan tetap berjalan di area Eropa Timur. (Ant/Sputnik/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·