Trump Kian Kalap "Gunduli" Ekonomi Iran, China Siap Jadi Juru Selamat?

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan kembali mengunjungi Beijing pada hari Rabu untuk berjumpa dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, di tengah kecamuk perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Mengutip Al Jazeera, Rabu (16/9/2026), kunjungan ini merupakan nan kedua kalinya sejak perang AS-Israel terhadap Iran meletus pada akhir Februari lalu. Pertemuan strategis ini juga terjadi tak lama sebelum rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada akhir September mendatang.

Dalam pidatonya di pertemuan puncak blok BRICS di New Delhi awal pekan ini, Xi mendesak negara-negara berkembang (Global South) untuk bertindak sebagai pembawa tenteram dalam bentrok di Timur Tengah.

Meskipun tidak secara definitif menawarkan mediasi langsung antara AS dan Iran, Xi mempromosikan empat poin rencana de-eskalasi nan berpusat pada hidup berdampingan secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan, kepatuhan pada norma internasional, serta menyeimbangkan pembangunan dan keamanan.

Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menyambut baik manuver diplomasi tersebut. Ia menyebut langkah ini menurunkan tensi bentrok nan tinggi di kawasan.

"Inisiatif konstruktif Xi menawarkan kesempatan tepat waktu untuk meredakan ketegangan dan menunjukkan bahwa diplomasi multilateral adalah satu-satunya jalur nan layak menuju stabilitas," tuturnya.

Namun, Profesor Sastra China dan Peneliti dari Universitas Teheran, Hamed Vafaei, menilai bahwa dugaan Xi menawarkan mediasi hanyalah interpretasi bebas dari pernyataan sang presiden, dan bukan gambaran realitas nan ada.

Ancaman Isu Nuklir dan Sanksi AS

Dalam pertemuannya, Araghchi juga diperkirakan bakal membahas program nuklir Iran dengan China. Pekan lalu, AS berbareng sekutu Eropanya telah bermanuver dan sukses mendesak majelis pengawas nuklir PBB (IAEA) untuk merujuk Iran ke Dewan Keamanan PBB.

Ini adalah rujukan pertama dalam 20 tahun terakhir, nan sebelumnya berujung pada enam resolusi dan hukuman ekonomi besar-besaran.

Meski demikian, langkah kali ini diyakini hanya bakal berkarakter simbolis lantaran China dan Rusia memegang kewenangan veto untuk menolak hukuman baru dari Dewan Keamanan.

Tekanan gencar dari pihak Barat terus bersambung di beragam front. Kepala nuklir Iran, Mohammad Eslami, apalagi dilarang menghadiri Konferensi Umum IAEA di Wina pada minggu ini akibat hukuman snapback nan kembali diberlakukan oleh kekuatan Eropa.

Di saat nan sama, AS meluncurkan "Operasi Pengucilan Ekonomi" untuk mengisolasi Teheran dan berupaya mencekik negara itu melalui blokade angkatan laut di sejumlah pelabuhan selatan Iran.

Gempuran hukuman AS juga menyasar entitas pendukung. Pada hari Senin, Departemen Keuangan AS menjatuhkan hukuman terhadap VTB Bank asal Rusia.

Meski tak menyebut nama China secara langsung, VTB adalah bank terbesar kedua di Rusia dan menjadi satu-satunya bank Rusia dengan bagian berlisensi di China daratan nan mempunyai akses langsung ke sistem pembayaran nasional China.

Minyak, Satelit, dan Reaksi Trump

Meski diancam beragam sanksi, China tetap kukuh menjadi pembeli minyak mentah terbesar Iran. Beijing terus menyedot minyak Iran nan sengaja disimpan di luar jangkauan blokade AS.

Hubungan militer kedua negara juga menjadi sorotan tajam di AS minggu ini. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Iran sukses memperoleh gambar satelit resolusi tinggi dari entitas China sebelum melancarkan serangan mematikan ke pangkalan militer AS di Yordania nan menewaskan tiga tentara AS.

Ironisnya, saat ditanya mengenai laporan intelijen tersebut, Presiden AS Donald Trump justru memberikan respons santuy dan terkesan meremehkan kejadian itu.

"Mereka (China) pada dasarnya melakukan apa nan kita lakukan. Ketika mereka mengatakan bahwa China memata-matai kita, saya katakan Anda benar, dan kita juga memata-matai mereka," ucapnya.

Alih-alih marah, Trump apalagi memberikan pujian terhadap sikap Presiden Xi Jinping.

"Saya pikir dia telah berperilaku cukup baik," pungkasnya.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News