Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi mengumumkan hukuman baru terhadap jaringan dompet mata duit mata uang digital nan mengenai dengan Iran dan membekukan aset digital senilai US$ 344 juta (Rp 5,93 triliun) pada pekan ini. Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu (29/04/2026), langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran di tengah negosiasi guna mengakhiri perang nan telah berjalan selama dua bulan.
Ekosistem mata uang digital Iran dilaporkan berbobot lebih dari US$ 7,78 miliar (Rp 134,22 triliun) pada tahun lalu, tumbuh lebih sigap dibandingkan tahun 2024 menurut info perusahaan pemantau transaksi Chainalysis. Selain digunakan oleh penduduk sipil untuk menyelamatkan tabungan dari inflasi dan jatuhnya nilai rial hingga 90% sejak 2018, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tercatat mendominasi sekitar 50% aktivitas di jaringan blockchain pada kuartal keempat.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan melalui platform X bahwa pihaknya bakal mengejar setiap pergerakan duit nan berupaya dilakukan Teheran ke luar negeri. AS berkomitmen untuk menargetkan seluruh jalur finansial nan terikat dengan rezim Iran guna mempersempit ruang mobilitas mereka dalam membeli senjata alias menjual minyak secara ilegal.
"Kami bakal mengikuti duit nan Teheran coba pindahkan secara putus asa ke luar negeri dan menargetkan semua jalur finansial nan mengenai dengan rezim tersebut," ujar Bessent.
Dominasi IRGC dalam ekosistem digital ini dilakukan melalui operasi penambangan mata uang digital nan menggunakan subsidi listrik negara, nan secara efektif mengubah daya menjadi duit nan susah terkena sanksi. Selain itu, otoritas Iran baru-baru ini dilaporkan mewajibkan kapal-kapal minyak nan melintasi Selat Hormuz untuk bayar biaya tol menggunakan mata duit mata uang digital guna menghindari sistem perbankan internasional.
Analis intelijen senior dari Chainalysis, Kaitlin Martin, menjelaskan bahwa yurisdiksi nan terkena hukuman berat secara alami bakal beranjak ke mata uang digital lantaran menyediakan jalur pengganti untuk mengakses finansial global. Namun, langkah Iran ini memicu reaksi keras dari Office of Foreign Assets Control (OFAC) AS nan sekarang mengklasifikasikan seluruh ekosistem mata uang digital Iran sebagai wilayah berisiko tinggi.
"Sangat umum bagi wilayah nan terkena hukuman berat untuk beranjak ke mata duit mata uang digital lantaran menyediakan jalur pengganti nan memberi akses finansial nan sebelumnya dibatasi oleh sanksi," kata Martin.
Akibat pengelompokkan akibat tinggi ini, masyarakat biasa di Iran kudu menanggung beban berat lantaran akses mereka ke upaya internasional dan organisasi mata uang digital dunia nyaris terputus total. Banyak bursa penukaran aset digital besar mulai membekukan akun milik penduduk Iran, sementara perusahaan asing semakin menghindari kerja sama dengan pihak-pihak di dalam negeri tersebut.
Kekhawatiran bakal keamanan aset digital di Iran juga meningkat tajam sejak dimulainya serangan udara AS-Israel pada akhir Februari lalu. Firouz, seorang pengguna mata uang digital di Teheran, mengaku segera memindahkan seluruh simpanannya dari Nobitex-platform aset digital terbesar di Iran-ke dompet pribadi sesaat sebelum perang dimulai lantaran takut bakal serangan siber alias penyitaan oleh negara.
"Pemikiran utama saya adalah saya berpotensi kehilangan kepemilikan sejati atas duit nan tersisa di jasa mata uang digital Iran nan mengenai alias dipantau negara jika terjadi perang, baik melalui tindakan otoritas negara alias sebagai akibat dari serangan siber," tutur Firouz.
Pentingnya mata uang digital bagi ekonomi Iran juga terlihat dari langkah Bank Sentral Iran nan membeli lebih dari US$ 500 juta (Rp 8,62 triliun) USDT, sebuah stablecoin nan dipatok ke dolar AS, pada tahun lalu. Langkah ini disebut oleh firma analitik Elliptic sebagai strategi canggih untuk melewati sistem perbankan global, namun sekarang AS terus berupaya mengejar ketertinggalan dengan meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap bursa mata uang digital tidak resmi nan memfasilitasi Iran.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·