Ilustrasi.(Magnific)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan mengejutkan dengan mengaku cinta inflasi setelah info terbaru menunjukkan lonjakan nilai di tingkat konsumen mencapai laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Namun, bagi para calon pembeli rumah, angka-angka terbaru ini menjadi sinyal jelek nan memperpanjang masa penantian untuk mendapatkan suku kembang angsuran pemilikan rumah (KPR) nan lebih rendah.
Berdasarkan info Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) AS, inflasi meningkat menjadi 4,2% pada Mei 2026, naik dari 3,8% pada April. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 2023. Laporan ini muncul hanya beberapa hari sebelum pertemuan kebijakan Federal Reserve, nan menurut para ekonom, secara signifikan memperkecil kesempatan pemangkasan suku kembang dalam waktu dekat.
Trump dan Kontroversi Cinta Inflasi
Meski berkampanye pada 2024 dengan janji menurunkan biaya hidup bagi konsumen Amerika, Trump justru menyambut baik laporan inflasi terbaru ini. "Saya menyukainya. Angka-angkanya luar biasa. Anda tahu apa nan sangat saya sukai? Saya mencintai inflasi," ujar Trump kepada wartawan di Oval Office, Rabu (10/6/2026).
Trump juga mengungkapkan bahwa dia menyetujui rencana rahasia untuk menggerakkan kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz guna menekan nilai bahan bakar di AS. "Saat ini berakhir, Anda bakal memandang nilai minyak turun ke level sebelumnya. Ini bakal jatuh seperti batu," tambahnya, merujuk pada bentrok di Timur Tengah nan melibatkan Iran.
Lonjakan Harga Energi dan Pangan
Kenaikan nilai daya menjadi kontributor utama inflasi Mei, mencerminkan gangguan pasar minyak dunia akibat bentrok Iran dan ketidakpastian pengiriman di Selat Hormuz. Harga daya melonjak 3,9% pada Mei, nan berakibat langsung pada nilai bensin nasional AS nan mencapai rata-rata US$4,13 per galon.
Selain energi, biaya rumah tangga lain terus merangkak naik:
- Biaya tempat tinggal (shelter) naik 3,4% secara tahunan (YoY).
- Harga pangan meningkat 0,3% selama bulan Mei.
- Upah riil turun 0,1%, menandakan pendapatan penduduk kandas mengimbangi kenaikan harga.
Analisis Ekonomi: Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management, menyatakan bahwa langkah Federal Reserve selanjutnya mungkin bukan memangkas, melainkan meningkatkan suku kembang (hike) untuk meredam panasnya inflasi.
Dilema Suku Bunga dan Pasar Properti
Pertemuan kebijakan Federal Reserve mendatang bakal menjadi nan pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru, Kevin Warsh, nan menggantikan Jerome Powell bulan lalu. Mayoritas mahir memperkirakan bank sentral bakal mempertahankan suku kembang tetap pada pekan depan, tetapi diskusi mengenai pengetatan tambahan mulai muncul.
Baca juga: Inflasi AS Naik pada Mei lantaran Harga Energi Melonjak
Kondisi itu memberikan tekanan berat pada pasar perumahan. Meskipun pasar menunjukkan ketahanan dengan kenaikan penjualan rumah eksisting pada Mei, para mahir memperingatkan ada titik jenuh. Ekonom Senior Realtor.com, Jake Krimmel, memproyeksikan suku kembang KPR bakal tertahan di kisaran 6,5%.
"Jika inflasi terus melampaui pertumbuhan upah, daya beli nan tergerus berbareng suku kembang KPR nan tetap tinggi bakal memberikan tekanan besar pada anggaran rumah tangga dan menghalang permintaan kediaman memasuki musim panas," pungkas Jiayi Xu, ahli ekonomi Realtor.com. (Newsweek/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·