Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat meneken perjanjian untuk mengakhiri perang, Rabu (17/6). Akan tetapi, Presiden Donald Trump menakut-nakuti bakal kembali menyerang Iran jika negara itu dianggap tidak menghormati komitmen damai.
"Kita bakal membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian," kata Trump mengenai Iran dalam konvensi pers usai menghadiri KTT G7 di Prancis, seperti dikutip Reuters.
"Saya tidak mau mereka melakukannya. Saya mau mereka menghormati perjanjian," sambung Trump.
Trump kemudian memuji rakyat Iran sebagai bangsa nan cerdas. Ia juga mengatakan bahwa dalam 60 hari ke depan, negosiator AS dan Iran bakal bekerja untuk menyelesaikan kesepakatan gencatan senjata permanen.
Hingga kini, Iran belum memberikan respons atas ancaman terbaru Trump setelah penandatanganan kesepakatan tenteram tersebut. Pemerintah Iran sejauh ini hanya membagikan sejumlah momen seremoni untuk menyambut perjanjian damai.
Perjanjian itu menjadi kesepakatan tenteram pertama antara kedua negara sejak Republik Islam Iran berdiri pada 1979.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan kesepakatan tenteram tersebut merupakan kemenangan bagi negaranya.
"Semua nan mau kami capai melalui tindakan militer, kami peroleh acapkali lipat melalui negosiasi. Itu apalagi tidak sebanding," kata Qalibaf.
Perang AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Kedua negara melancarkan serangan ke ibu kota Teheran serta sejumlah kota besar lainnya.
Serangan pada hari pertama menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang berdarah di Timur Tengah nan menewaskan lebih dari 7.000 orang.
Perang juga menyebabkan nilai daya melonjak di beragam negara serta memicu krisis pangan di sejumlah negara berkembang akibat terganggunya jalur pengedaran dan pengiriman global.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·