Tren Pernikahan di Indonesia Menurun, Ini Faktor Penyebabnya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Tren Pernikahan di Indonesia Menurun, Ini Faktor Penyebabnya Ilustrasi(Antara)

TREN pernikahan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan kecenderungan menurun. Perubahan tersebut tidak terlepas dari bergesernya pilihan hidup dan prioritas generasi muda dalam menentukan waktu untuk membangun rumah tangga.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji mengatakan, terdapat sejumlah aspek nan mendorong anak muda memilih menunda pernikahan.

Menurut Wihaji, sedikitnya terdapat empat perihal nan menjadi pertimbangan utama generasi muda sebelum memutuskan untuk menikah.

"Faktor pertama berangkaian dengan pendidikan dan karier. Sebagian anak muda memilih menuntaskan pendidikan serta membangun pekerjaan terlebih dulu sebelum mengambil tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga," kata Wihaji dalam keterangannya, Selasa (15/9).

Pertimbangan berikutnya adalah kondisi ekonomi. Kemampuan memperoleh penghasilan nan dinilai memadai menjadi salah satu aspek nan diperhitungkan sebelum seseorang merasa siap memasuki jenjang pernikahan.

Selain itu, kesiapan mental juga menjadi aspek penting. Pernikahan tidak hanya memerlukan kematangan dari sisi usia, tetapi juga kesiapan menghadapi beragam tanggung jawab dan persoalan nan muncul dalam kehidupan rumah tangga.

Pergeseran Nilai

Faktor lainnya adalah perubahan budaya. Pergeseran nilai serta langkah pandang terhadap pernikahan membikin sebagian generasi muda tidak lagi menganggap pernikahan kudu dilakukan pada usia nan relatif muda seperti generasi sebelumnya.

"Menunda menikah merupakan pilihan individu. Tetapi ada faktor-faktor nan memengaruhi keputusan tersebut, mulai dari pendidikan dan karier, tekanan ekonomi, kesiapan mental, hingga perubahan budaya," ujar Wihaji.

Wihaji menegaskan, keputusan untuk menikah maupun menundanya merupakan kewenangan setiap individu. Karena itu, kejadian penurunan tren pernikahan perlu dilihat secara lebih luas dan tidak semata-mata berasas jumlah pasangan nan menikah.

Menurutnya, persoalan tersebut berangkaian erat dengan dinamika kependudukan sekaligus pembangunan family di Indonesia. Pemerintah perlu memastikan generasi muda mempunyai bekal nan cukup sebelum membangun rumah tangga.

Dengan pendekatan tersebut, upaya pemerintah tidak hanya diarahkan untuk mendorong masyarakat menikah, tetapi juga memastikan keputusan tersebut diambil dengan kesiapan nan matang, baik dari aspek pengetahuan, mental, sosial maupun ekonomi.

Kesiapan tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi terbentuknya family nan berbobot dan bisa menghadapi beragam tantangan kehidupan rumah tangga. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia