Tren Minuman Elektrolit: Manfaat, Risiko, dan Kapan Tubuh Benar-benar Membutuhkannya

Sedang Trending 2 jam yang lalu
 Manfaat, Risiko, dan Kapan Tubuh Benar-benar Membutuhkannya Ilustrasi.(Magnific)

DAHULU, elektrolit identik dengan minuman olahraga alias larutan rehidrasi oral untuk anak-anak. Namun saat ini, minuman, bubuk, hingga tablet elektrolit muncul di mana-mana, mulai dari rak supermarket hingga iklan podcast. Tren ini mendorong pasar dunia nan nilainya melonjak nyaris dua kali lipat sejak 2020, mencapai sekitar US$40 miliar pada tahun 2025.

Di media sosial seperti TikTok, tagar #electrolytes telah mencapai lebih dari 460.000 unggahan. Para kreator konten mempromosikan produk berwarna-warni ini dengan klaim dapat meningkatkan hidrasi, mengoptimalkan energi, hingga mempertajam fokus. Namun, apakah rata-rata orang dewasa betul-betul membutuhkannya setiap hari?

Apa Itu Elektrolit dan Mengapa Penting?

Elektrolit adalah mineral esensial seperti kalium, natrium, kalsium, dan magnesium nan membawa muatan listrik. Mineral ini memungkinkan sinyal nan menggerakkan kegunaan saraf dan otot.

  • Natrium dan Klorida: Mengatur kadar cairan dan menjaga volume darah nan sehat.
  • Kalium, Kalsium, dan Magnesium: Mendukung kegunaan pembuluh darah, menjaga tekanan darah, dan mengatur debar jantung.
  • Kalsium dan Fosfat: Memperkuat tulang dan gigi.

Matthew Black, mahir diet terdaftar di Ohio State University’s Wexner Medical Center, menjelaskan bahwa ginjal manusia secara alami sangat mahir dalam menjaga keseimbangan elektrolit. Sebagian besar orang bisa mendapatkan mineral ini cukup dari pola makan seimbang seperti buah-buahan (pisang, kentang), sayuran hijau, produk susu, ikan, dan kacang-kacangan.

Kapan Anda Benar-benar Membutuhkan Tambahan Elektrolit?

Riset menunjukkan bahwa suplemen elektrolit sangat efektif untuk atlet ketahanan alias mereka nan melakukan olahraga intensitas tinggi dalam waktu lama. Namun, bagi orang dewasa nan aktif secara moderat, manfaatnya belum tentu signifikan.

Para mahir menyarankan penggunaan serbuk alias minuman elektrolit dalam situasi berikut:

  • Olahraga Berat: Aktivitas bentuk lebih dari satu jam nan memicu banyak keringat.
  • Kondisi Medis: Kehilangan cairan akibat muntah alias diare berat.
  • Lingkungan Ekstrem: Bekerja alias beraktivitas di bawah cuaca nan sangat panas.
  • Konsumsi Alkohol: Alkohol memicu ginjal membuang air; elektrolit dapat membantu pemulihan hidrasi.
  • Masalah Kesehatan Spesifik: Kondisi seperti POTS (postural orthostatic tachycardia syndrome) alias penyakit radang usus, namun wajib dikonsultasikan dengan dokter.

Peringatan Ahli: Kebanyakan orang nan tidak berolahraga berat tidak memerlukan tambahan elektrolit harian. Ginjal bakal menyaring kelebihan mineral tersebut dan membuangnya melalui urine.

Risiko Tersembunyi di Balik Kemasan

Meskipun praktis, konsumsi berlebihan dapat berakibat negatif. Beberapa paket elektrolit terkenal mengandung lebih dari 500 hingga 1.000 miligram natrium. Padahal, American Heart Association merekomendasikan pemisah maksimal 1.500 miligram natrium per hari bagi kebanyakan orang dewasa.

Kelebihan natrium dapat memicu lonjakan tekanan darah. Selain itu, banyak produk mengandung gula tambahan dan berkarakter asam, nan berisiko merusak email gigi. Gejala kelebihan elektrolit apalagi mirip dengan kekurangannya: kelemahan otot, kram, kelelahan, sakit kepala, hingga dalam kasus parah, gangguan irama jantung.

Kesimpulan

Bagi Anda nan sedang hamil, sensitif terhadap natrium (memiliki riwayat hipertensi alias kandas jantung), alias mempunyai penyakit ginjal, sangat krusial untuk berkonsultasi dengan master sebelum rutin mengonsumsi suplemen ini. Strategi hidrasi terbaik bagi kebanyakan orang tetaplah pola makan kaya tanaman dan minum air putih nan cukup. (Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia