Tren Kurban Digital Melejit, Pakar Unair Ingatkan Pentingnya Standar Syariah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Tren Kurban Digital Melejit, Pakar Unair Ingatkan Pentingnya Standar Syariah Ilustrasi, pemotongan hewan kurban hasil dari kurban digital.(Dok. MI)

MENJELANG Hari Raya Iduladha,tren berkurban di masyarakat perkotaan mulai bergeser dengan memanfaatkan platform kurban digital nan lebih efisien. Dosen Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Tika Widiastuti, menyoroti pentingnya izin dan keabsahan syariah pada platform-platform tersebut.

“Perkembangan platform kurban digital di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir melesat cukup pesat. Hal ini didukung dengan meningkatnya literasi digital masyarakat, kemudahan pembayaran online , serta tren filantropi Islam berbasis aplikasi,” kata Tika Widiastuti di Surabaya, Sabtu (23/5).

Menurutnya, perkembangan teknologi nan pesat melahirkan kejadian platform kurban digital nan menawarkan kemudahan dan efisiensi. Namun kejadian ini membawa akibat besar terhadap tata kelola ekonomi syariah di Indonesia.

Saat ini, beragam platform mulai dari e-commerce , fintech syariah, hingga lembaga amil amal menyediakan jasa kurban digital dengan sistem nan lebih transparan. Menurut Prof. Tika, perubahan perilaku masyarakat nan serba digital sejak era pandemi ini menunjukkan bahwa ekonomi syariah bisa beradaptasi dengan teknologi modern tanpa kehilangan esensinya.

Dari kacamata fikih, Prof. Tika menjelaskan bahwa kurban digital pada dasarnya diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syarat kurban. Hal nan paling krusial adalah penerapan janji wakalah , ialah pelimpahan kuasa dari mudahi (pekurban) kepada lembaga alias platform untuk membeli, menyembelih, dan mendistribusikan hewan kurban.

“Namun, memang tetap ada perbedaan pandangan ustadz mengenai aspek musyahadah alias penyaksian penyembelihan. Sebagian ustadz memandang penyaksian langsung tidak wajib, sehingga pengarsipan digital dianggap sudah cukup. Sementara sebagian lainnya menekankan pentingnya keterlibatan emosional dan spiritual dalam ibadah kurban,” katanya.

Tantangan Transparansi

Oleh lantaran itu, dia menyarankan agar platform kurban digital menyikapi perbedaan ini dengan pendekatan nan terbuka dan edukatif, bukan semata-mata berorientasi pada bisnis. Platform wajib menjelaskan janji nan digunakan, transparansi proses penyembelihan, hingga menyediakan opsi live streaming alias laporan visual bagi pekurban nan mau menyaksikan prosesnya.

Di sisi lain, Prof. Tika tidak menjelaskan bahwa model upaya kurban digital saat ini belum sepenuhnya selaras dengan prinsip ekonomi syariah. Tantangan mengenai transparansi harga, kejelasan pengelolaan dana, hingga potensi komersialisasi ibadah tetap sering ditemukan. Regulasi nan mengatur standar pengawasan syariah dan audit operasional pun dinilai sudah sangat mendesak.

“Regulasi tersebut krusial untuk mengatur kejelasan akad, perlindungan konsumen, standar distribusi, audit syariah, keamanan transaksi, serta pelaporan penggunaan dana. Ini krusial agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga,” tegasnya.

Kendati mempunyai tantangan regulasi, kejadian kurban digital terbukti memberikan kontribusi positif dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Salah satu akibat nan paling signifikan adalah pemerataan pengedaran daging kurban hingga ke wilayah terpencil nan selama ini jangkauannya sangat minim.

“Kurban digital memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan ibadah, meningkatkan transaksi ekonomi halal, dan memperkuat integrasi antara teknologi dengan finansial syariah,” tambahnya.

Ke depan, potensi integrasi kurban digital dengan instrumen syariah lainnya—seperti amal digital, infak online , maupun wakaf produktif dalam satu ekosistem—masih sangat besar. Namun, Prof. Tika memberikan catatan kritis agar digitalisasi ini tidak meminggirkan para peternak mini di daerah. Platform digital wajib membangun kemitraan langsung dengan peternak lokal, tidak hanya berjuntai pada pemasok besar.

“Platform perlu memastikan nilai beli nan adil, memberikan training kualitas ternak, serta melakukan pemberdayaan. Jangan sampai peternak lokal kehilangan peran utamanya dalam rantai ekonomi kurban digital ini,” ungkapnya. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia