Jakarta -
Industri salon dan kecantikan di Indonesia mulai memasuki fase baru. Setelah sektor kuliner dan ritel lebih dulu beranjak ke sistem digital, sekarang salon, barbershop, hingga klinik kecantikan juga mulai meninggalkan pencatatan manual dan beranjak ke platform nan lebih terintegrasi.
Salah satu pemain nan menggarap segmen ini adalah Kasera, platform manajemen salon nan dirancang unik untuk pelaku UMKM kecantikan di Indonesia.
Pendekatan vertikal seperti ini mulai menjadi tren di industri Software as a Service (SaaS) lokal. Alih-alih menggunakan POS umum, pemilik salon sekarang mencari sistem nan memahami alur kerja spesifik industri, mulai dari pengaturan agenda stylist, kalkulasi komisi, hingga konfirmasi pemesanan melalui WhatsApp.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tiga Faktor Utama Transformasi Digital UMKM Salon
Setidaknya ada tiga tekanan nan mendorong pemilik salon UMKM beranjak ke sistem digital.
Pertama, agenda booking nan sering berantakan. Salon nan mengandalkan pencatatan manual rentan mengalami double booking alias pengguna lupa datang. Dengan sistem booking online dan konfirmasi otomatis, masalah seperti ini bisa lebih mudah dikurangi.
Kedua, kebocoran kas. Tip stylist, komisi layanan, deposit pemesanan, dan pendapatan kotor sering bercampur dalam satu kotak kas. Sistem POS modern membantu memisahkan komponen-komponen ini secara otomatis sehingga lebih mudah dipantau.
Ketiga, sulitnya memantau performa tim. Bagi salon nan mempunyai beberapa stylist, menghitung kontribusi masing-masing secara manual tentu menyantap waktu dan cukup merepotkan.
QRIS Percepat Digitalisasi Salon
Adopsi QRIS oleh konsumen juga ikut mempercepat seluruh proses digitalisasi ini. Saat pengguna telah terbiasa dengan pembayaran nontunai, salon nan hanya menerima tunai mulai kehilangan transaksi.
Setelah memasang QRIS, pemilik salon menyadari bahwa rekonsiliasi pembayaran digital lebih efisien jika terhubung langsung dengan POS, bukan dicatat ulang manual di sore hari. Dari sinilah digitalisasi pembayaran sering menjadi pintu masuk menuju digitalisasi operasi nan lebih luas.
Peluang SaaS Salon Masih Terbuka
Saat ini, pasar SaaS untuk salon di Indonesia tetap terfragmentasi. Tidak ada pemain dominan, dan sebagian besar salon UMKM belum tersentuh platform manajemen apa pun. Pola nan sama pun pernah terjadi di sektor F&B sebelum kategori POS untuk restoran tumbuh pesat.
Jika polanya berulang, vertikal salon dan kecantikan berpotensi menjadi gelombang mengambil SaaS berikutnya, terutama untuk pemain lokal nan memahami struktur layanan, tarif, dan alur transaksi industri ini.
(akd/ega)
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·