“Jangan judge saya ya, tapi…”
“Aku mau share sedikit kondisi saya beberapa hari ini.”
Baru-baru ini muncul istilah trauma dumping menjadi kejadian nan semakin sering muncul di media sosial seiring meningkatnya budaya oversharing di era digital. Kalimat-kalimat di atas rasanya sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika dulu curhat biasanya dilakukan kepada kawan dekat, sekarang cerita pribadi, pengalaman emosional, hingga trauma dapat dengan mudah dibagikan di TikTok, X, dan IG kepada banyak orang. Dalam perspektif psikologi, kejadian ini juga dapat dipahami melalui psikodiagnostik untuk memandang kondisi emosional perseorangan secara lebih mendalam.
Perilaku curhat seperti ini membikin pemisah antara ruang pribadi dan ruang publik menjadi semakin tipis. Tidak sedikit orang nan akhirnya terbiasa membagikan pengalaman emosionalnya secara terbuka di internet. Bahkan, konten seperti story time trauma alias curhat emosional sering mendapatkan banyak perhatian, empati, simpati, dan support dari netizen. Karena sering muncul di media sosial, perilaku seperti ini akhirnya dianggap sebagai perihal nan normal. Namun, tidak semua corak curhat termasuk komunikasi emosional nan sehat.
Apa itu trauma dumping?
Belakangan, muncul istilah trauma dumping. Istilah trauma dumping ini dibahas oleh Dr. Kate Truitt, seorang psikolog klinis dan neuroscientist terkemuka, nan menjelaskan dalam video Youtube pribadinya nan berjudul “What Is Trauma Dumping & Why Do We Do It with Dr. Kate Truitt”, dijelaskan bahwa trauma dumping bukan sekadar curhat biasa, tetapi kondisi ketika seseorang membagikan emosi alias pengalaman traumatis secara berlebihan hingga membikin orang lain merasa kewalahan secara emosional. Hal ini sering terjadi lantaran perseorangan merasa sangat memerlukan tempat untuk meluapkan emosinya, tetapi tidak menyadari pemisah emosional musuh bicara.
Selain itu, video lainnya nan berjudul “How to Set Boundaries During Trauma Dumping with Dr. Kate Truitt” juga dijelaskan bahwa trauma dumping dapat berangkaian dengan kebutuhan pengesahan emosional dan kesulitan mengatur emosi. Karena itu, krusial bagi seseorang untuk memahami pemisah emosional dalam komunikasi, terutama di era digital ketika proses oversharing menjadi semakin mudah dilakukan.
Bagaimana perspektif psikodiagnostik terhadap trauma dumping?
Fenomena ini sebenarnya bisa dilihat dari perspektif psikodiagnostik. Dalam psikologi, psikodiagnostik adalah proses untuk memahami kondisi psikologis seseorang melalui wawancara, observasi, dan asesmen psikologi. Jadi, psikolog tidak langsung menilai seseorang “ada gangguan” hanya lantaran sering oversharing alias terlalu banyak curhat di media sosial.
Justru, dari perspektif pandang psikodiagnostik, perilaku trauma dumping bisa menjadi petunjuk untuk memahami kondisi emosional perseorangan secara lebih dalam. Psikolog bakal mencoba memandang apa nan sebenarnya terjadi dibalik perilaku tersebut. Misalnya, apakah perseorangan tersebut sedang mengalami stres nan berat? Apakah dia merasa kesepian? Apakah dia tidak mempunyai support system? Atau mungkin dia kesulitan mengatur emosinya sendiri?
Dalam proses psikodiagnostik, hal-hal seperti ini biasanya digali melalui wawancara psikologis. Lewat wawancara, psikolog dapat memahami gimana seseorang menghadapi masalah hidupnya, gimana langkah dia mengekspresikan emosi, serta gimana hubungan interpersonalnya dengan orang lain. Selain wawancara, observasi juga menjadi bagian krusial dalam psikodiagnostik. Psikolog bisa memperhatikan gimana ekspresi emosi perseorangan ketika bercerita, apakah emosinya tampak meledak-ledak, apakah dia susah mengontrol perasaan, alias apakah dia terlihat sangat memerlukan pengesahan dari orang lain.
Bahkan, perilaku sederhana seperti terlalu sering membagikan masalah pribadi di media sosial bisa memberikan info krusial mengenai kondisi psikologis seseorang. Dalam psikodiagnostik, perilaku nan terlihat di permukaan biasanya tidak langsung dinilai begitu saja, tetapi dipahami sebagai bagian dari dinamika psikologis individu.
Trauma dumping juga bisa berangkaian dengan izin emosi. Dalam video Youtube American Psychological Association (APA) berbareng James Gross, dijelaskan bahwa izin emosi adalah keahlian seseorang untuk mengelola dan mengekspresikan emosinya dengan langkah nan tepat. Ketika seseorang merasa sangat sedih, stres, alias tertekan tetapi kesulitan mengelola emosinya, mereka mungkin meluapkannya secara spontan kepada orang lain alias media sosial.
Selain izin emosi, psikolog juga dapat memandang gimana pola coping stress individu. Ada orang nan bisa menghadapi masalah dengan langkah nan sehat, tetapi ada juga nan melampiaskannya secara impulsif kepada lingkungan sekitar. Karena itu, trauma dumping tidak selalu berfaedah seseorang mempunyai gangguan mental, tetapi bisa menjadi tanda bahwa perseorangan sedang mengalami tekanan emosional alias kesulitan coping.
Dalam beberapa kasus, psikolog juga bisa menggunakan asesmen ilmu jiwa alias skala ilmu jiwa misalnya untuk memandang tingkat stres, kecemasan, maupun keahlian izin emosi individu. Jadi, konsentrasi psikodiagnostik bukan sekadar menilai perilaku “curhat berlebihan”, tetapi memahami kondisi psikologis nan melatarbelakangi perilaku tersebut.
Di sisi lain, trauma dumping juga bisa berakibat pada orang nan mendengarkannya tentunya. Mengapa demikian? lantaran tidak semua orang siap menerima cerita berat setiap saat. Jika terjadi terus-menerus, pendengar bisa merasa capek secara emosional, kewalahan, apalagi ikut mengalami stres.
Karena itu, krusial untuk memahami bahwa curhat bukanlah sesuatu nan salah. Justru dengan membagikan emosi dapat membantu seseorang merasa lebih lega dan merasa tidak sendirian. Namun, di era digital seperti sekarang, krusial juga untuk memahami pemisah emosional dalam komunikasi. Karena terkadang nan kita butuhkan bukan hanya tempat untuk meluapkan emosi, tetapi juga langkah nan lebih sehat untuk mengelola emosi tersebut.
Pada akhirnya, kejadian trauma dumping menunjukkan bahwa kesehatan mental semakin sering dibicarakan secara terbuka di media sosial dan tentunya ini menjadi suatu awal nan positif. Namun, dari perspektif psikodiagnostik, krusial untuk memahami bahwa setiap perilaku mempunyai dinamika psikologis nan lebih kompleks daripada nan terlihat di permukaan. Karena itu, memahami emosi dan langkah mengekspresikannya secara sehat menjadi perihal krusial di era digital saat ini.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·