ilustrasi(Cicana)
Proses rekrutmen asisten rumah tangga (ART) di Indonesia mulai mengalami transformasi menuju sistem nan lebih modern, aman, dan terstandar. Perubahan tersebut dinilai krusial untuk menjawab beragam persoalan nan selama ini muncul akibat praktik perekrutan nan tetap banyak dilakukan secara informal, mulai dari ketidakjelasan identitas pekerja hingga akibat ketidaksesuaian kebutuhan dan potensi penipuan.
Menjawab tantangan tersebut, Cicana datang sebagai platform digital rekrutmen pekerja rumah tangga nan mengintegrasikan proses seleksi, pelatihan, hingga pencocokan pekerja dalam satu ekosistem digital. Sejak berdiri pada 2019, Cicana menyatakan telah melayani lebih dari 6.000 pengguna dan dikunjungi lebih dari 1 juta pengguna melalui situs resminya. Perusahaan juga mencatat rata-rata 2.367 prospek pengguna baru setiap bulan.
Untuk memastikan kualitas tenaga kerja, platform tersebut menerapkan sistem seleksi tujuh lapis berbasis data. Berdasarkan info internal perusahaan pada 2025, dari sekitar 3.249 pekerja nan mendaftar setiap bulan, hanya sekitar 40,71 persen nan lolos tahap registrasi awal.
Selanjutnya, sekitar 78,66 persen dari peserta nan lolos registrasi sukses melewati tahap pemeriksaan latar belakang alias background checking. Namun, hanya sekitar 42,95 persen nan akhirnya lolos tahap verifikasi akhir sebelum masuk ke proses pencocokan dan penempatan kerja.
Adapun tujuh tahapan seleksi tersebut meliputi pengesahan arsip administratif, verifikasi rekam jejak pekerja, pengecekan jejak digital, wawancara verifikasi profil, wawancara berbasis perilaku alias Behavioral Event Interview (BEI), verifikasi kontak darurat, hingga konsolidasi penempatan.
Salah satu pendekatan utama nan digunakan adalah metode Behavioral Event Interview (BEI), ialah teknik wawancara nan menggali pengalaman perilaku kandidat berasas situasi nyata di masa lalu.
Chief Executive Officer dan Co-Founder Cicana, Annisa Kartika, mengatakan sistem seleksi tersebut tidak hanya bermaksud menyaring kandidat, tetapi juga memastikan keseimbangan ekspektasi antara pekerja dan pemberi kerja.
“Dengan sistem rekrutmen 7 lapis, Cicana memastikan keamanan keluarga sekaligus menghargai pekerja rumah tangga sebagai pekerjaan bermartabat. Seleksi ini bukan hanya menyaring kandidat, tetapi juga memahami profil mereka agar ekspektasi pemberi kerja dan pekerja rumah tangga terjaga seimbang,” ujar Annisa.
Sementara itu, Founder Cicana, Bagus Dwi Prasetyo, menilai penggunaan teknologi membikin proses rekrutmen menjadi lebih objektif dan terukur.
“Dengan support teknologi dan SDM nan dimiliki Cicana, proses rekrutmen sekarang terstandar dan sepenuhnya berbasis data. Tidak ada lagi asumsi-asumsi subjektif; setiap langkah seleksi dilakukan secara terukur sehingga proses pencocokan antara pemberi kerja dan pekerja rumah tangga menjadi lebih aman, mudah, dan efektif,” katanya.
Selain sistem rekrutmen, Cicana juga mengoperasikan platform training LMS Cicana School of ART untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja domestik. Perusahaan menyebut telah mengantongi sertifikasi resmi dari OSS dan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia sebagai bagian dari penguatan standar ahli layanan.
Layanan nan disediakan mencakup asisten rumah tangga, babysitter, caregiver, hingga pengemudi dengan pilihan sistem live-in, live-out, maupun tenaga pengganti sementara alias infal. Seluruh proses rekrutmen dilakukan secara daring dengan sistem nan diklaim transparan, tanpa potongan penghasilan pekerja, serta dilengkapi perjanjian kerja nan jelas antara semua pihak. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·