Tragedi Benteng Tewaskan 25 Orang, Negara Tetapkan Berkabung 3 Hari

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Orang-orang membantu membikin tandu untuk mengangkut jenazah korban setelah Departemen Perlindungan Sipil Haiti untuk wilayah Utara mengatakan bahwa kejadian saling sorong menewaskan beberapa orang di Benteng Laferriere, sebuah tembok awal abad ke-19 nan dipenuhi oleh siswa dan visitor untuk seremoni tahunan situs Warisan Dunia UNESCO, di Milot, Haiti, 12 April 2026. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Warga membantu membikin tandu untuk mengangkut jenazah korban setelah Departemen Perlindungan Sipil wilayah Utara melaporkan kejadian desak-desakan di Benteng Laferrière, situs warisan bumi UNESCO di Milot, Haiti, Minggu (12/4/2026) waktu setempat. Peristiwa nan terjadi saat seremoni tahunan dan dipadati siswa serta visitor itu menewaskan sedikitnya 25 orang. Pemerintah kemudian menetapkan tiga hari berkabung nasional. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Orang-orang membantu membikin tandu untuk mengangkut jenazah korban setelah Departemen Perlindungan Sipil Haiti untuk wilayah Utara mengatakan bahwa kejadian saling sorong menewaskan beberapa orang di Benteng Laferriere, sebuah tembok awal abad ke-19 nan dipenuhi oleh siswa dan visitor untuk seremoni tahunan situs Warisan Dunia UNESCO, di Milot, Haiti, 12 April 2026. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Anggota family berdiri di dekat jenazah korban setelah kejadian saling berdempet-dempetan menewaskan beberapa orang di Benteng Laferriere. Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aimé dalam pidato nasional menyampaikan bahwa masa berkabung bakal dimulai pada Selasa (14/4/2026). Ia juga menegaskan pemerintah bakal menanggung seluruh biaya pemakaman para korban sebagai corak tanggung jawab negara. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Orang-orang membantu membikin tandu untuk mengangkut jenazah korban setelah Departemen Perlindungan Sipil Haiti untuk wilayah Utara mengatakan bahwa kejadian saling sorong menewaskan beberapa orang di Benteng Laferriere, sebuah tembok awal abad ke-19 nan dipenuhi oleh siswa dan visitor untuk seremoni tahunan situs Warisan Dunia UNESCO, di Milot, Haiti, 12 April 2026. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Insiden tragis tersebut terjadi saat letak wisata itu dipadati siswa dan visitor nan tengah mengikuti seremoni tahunan. Kepadatan massa diduga memicu kepanikan nan berujung pada tindakan saling dorong. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Orang-orang membantu membikin tandu untuk mengangkut jenazah korban setelah Departemen Perlindungan Sipil Haiti untuk wilayah Utara mengatakan bahwa kejadian saling sorong menewaskan beberapa orang di Benteng Laferriere, sebuah tembok awal abad ke-19 nan dipenuhi oleh siswa dan visitor untuk seremoni tahunan situs Warisan Dunia UNESCO, di Milot, Haiti, 12 April 2026. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Sebelumnya, kepala otoritas perlindungan sipil nasional, Emmanuel Pierre, menyampaikan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas telah direvisi menjadi 25 orang, dari laporan awal sebanyak 30 korban. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Orang-orang membantu membikin tandu untuk mengangkut jenazah korban setelah Departemen Perlindungan Sipil Haiti untuk wilayah Utara mengatakan bahwa kejadian saling sorong menewaskan beberapa orang di Benteng Laferriere, sebuah tembok awal abad ke-19 nan dipenuhi oleh siswa dan visitor untuk seremoni tahunan situs Warisan Dunia UNESCO, di Milot, Haiti, 12 April 2026. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Benteng Laferriere merupakan tembok nan dibangun pada awal abad ke-19, tidak lama setelah Haiti merdeka dari Prancis. Situs ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO dan menjadi salah satu lokasi wisata paling ikonik di negara tersebut. (REUTERS/Richardson Ulysse)

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News