Jakarta -
Harga minyak mentah bumi melemah pada perdagangan awal Kamis (17/9/2026) setelah Federal Reserve (The Fed) meningkatkan suku bunga. Penurunan juga terjadi setelah berita Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman nan meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat bentrok di Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, Kamis (17/9/2026), nilai minyak Brent turun US$ 1,24 alias 1,2% menjadi US$ 104,59 per barel. Begitu pula nilai minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,14 alias 1,1% menjadi US$ 101,29 per barel. Pada perdagangan Rabu, kedua perjanjian minyak tersebut telah turun sekitar US$ 3 per barel.
"Kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan sedikit mereda setelah muncul berita bahwa Arab Saudi bakal mengirimkan kargo melalui Oman," kata Kepala Strategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arab Saudi diketahui menawarkan lebih banyak pengiriman minyak mentah kepada para penyuling di Asia melalui sistem ship-to-ship transfer di lepas pantai dekat pelabuhan Sohar, Oman. Di mana sebagian pihak menilai bahwa langkah ini sedikit mengurangi akibat terhadap pasokan dunia akibat serangan terhadap jaringan pipa East-West milik Arab Saudi menuju Laut Merah.
Pelemahan ini juga terjadi lantaran nilai minyak bumi ditekan oleh keputusan The Fed nan meningkatkan suku kembang referensi nan mendorong penguatan dolar AS dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah Paman Sam. Adapun kebijakan suku kembang naik ini menjadi nan pertama sejak 2023.
Harga minyak sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi sekitar empat bulan pada awal pekan ini. Kenaikan dipicu berita penghentian pemuatan minyak mentah di pusat ekspor Arab Saudi, Yanbu, serta pembatalan sejumlah pengiriman kepada pengguna di Eropa.
Penghentian pemuatan tersebut terjadi setelah serangan terhadap jaringan pipa East-West nan memasok minyak ke Pelabuhan Yanbu nan merupakan jalur utama ekspor minyak Arab Saudi setelah Iran mulai melakukan blokade terhadap Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sebelum perang terjadi, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Meskipun nilai minyak turun pada Kamis, kekhawatiran mengenai perang nan semakin intensif di Timur Tengah tetap berlanjut. Di mana pesawat-pesawat tempur Arab Saudi menggempur Yaman, sementara golongan Houthi melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah kota di Arab Saudi.
Sementara itu, Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) pada Rabu melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS nan lebih mini dari perkiraan pada pekan lalu.
Stok minyak mentah di negara produsen minyak terbesar tersebut turun sekitar 640.000 barel pada pekan lalu. Angka itu jauh lebih mini dibandingkan perkiraan penurunan sebesar 1,62 juta barel, berasas jajak pendapat Reuters terhadap para analis energi.
(hrp/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·