Ilustrasi(Dok Istimewa)
UNIVERSITAS Budi Luhur (UBL) alias Budi Luhur University melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) memperkuat kesiapsiagaan penduduk menghadapi ancaman banjir dengan mengembangkan dan memasang Smart Early Warning System (Smart EWS) Banjir di RT 09/RW 03, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Hibah BIMA 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Tim PkM UBL diketuai Arin Fithriana, dengan personil Anggun Puspitasari dan Taqwa Putra Budi Purnomo Sidi Hiram.
Smart EWS nan dikembangkan tidak hanya berfaedah mendeteksi potensi banjir, juga memantau sejumlah parameter lingkungan nan berangkaian dengan akibat bencana. Perangkat tersebut bisa mengukur intensitas hujan, aliran air, kelembapan tanah, dan kecepatan angin.
Data dari beragam parameter tersebut menjadi info pendukung bagi penduduk untuk meningkatkan kewaspadaan ketika kondisi lingkungan menunjukkan potensi bahaya. Dengan adanya info lebih awal, penduduk diharapkan dapat mempersiapkan langkah nan diperlukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih buruk.
Terhubung Warga
Salah satu kelebihan Smart EWS nan dikembangkan tim PkM Universitas Budi Luhur adalah kemampuannya terhubung dengan WA warga. Ketika sistem mendeteksi kondisi nan telah ditetapkan sebagai status siaga, perangkat dapat mengirimkan notifikasi peringatan melalui saluran komunikasi nan sehari-hari digunakan masyarakat.
Pemanfaatan WA membikin info peringatan lebih mudah diterima dan diakses warga. Dengan demikian, info nan dihasilkan perangkat tidak berakhir pada proses pendeteksian, tetapi dapat diteruskan dengan sigap kepada masyarakat sebagai dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah antisipasi.
“Teknologi ini kami rancang bukan hanya sebagai perangkat untuk mendeteksi banjir, juga sebagai bagian dari sistem kesiapsiagaan masyarakat. Ketika info dapat diterima penduduk lebih awal, masyarakat mempunyai kesempatan untuk mengambil tindakan sebelum kondisi menjadi lebih buruk,” papar Arin Fithriana, Ketua Tim PkM Universitas Budi Luhur dalam keterangannya hari ini.
Satgas Banjir
Program PkM ini tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat, juga mendorong terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) Banjir berbasis masyarakat. Satgas tersebut diharapkan menjadi bagian krusial dalam membangun sistem kesiapsiagaan, komunikasi, pemantauan, dan respons ketika terjadi kondisi darurat, termasuk dengan memperhatikan kebutuhan golongan rentan.
Keberadaan Smart EWS dan Satgas Banjir dirancang sebagai dua komponen nan saling melengkapi. Teknologi berkedudukan menyediakan info dan peringatan dini, sementara masyarakat menjadi tokoh utama dalam menentukan langkah respons di tingkat lingkungan.
Pendekatan tersebut menempatkan penduduk bukan sekadar sebagai penerima info kebencanaan, tetapi sebagai pihak nan mempunyai kapabilitas untuk melakukan mitigasi dan merespons ancaman secara kolektif.
Apresiasi
Pemasangan Smart EWS mendapat apresiasi dari Ketua RT 09/RW 03, Ronson P. Manullang. Menurutnya, kehadiran teknologi peringatan awal memberikan nilai tambah bagi penduduk dalam menghadapi potensi banjir di lingkungan tersebut.
Respons positif juga datang dari lingkungan RT sekitar. Gagasan penerapan sistem peringatan awal berbasis masyarakat turut mendapat perhatian dari unsur RW dan Kelurahan Cilangkap.
Dukungan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap sistem kesiapsiagaan banjir nan dapat dikembangkan tidak hanya di satu lingkungan, tetapi juga berpotensi diterapkan secara lebih luas sesuai kondisi dan kebutuhan wilayah.
Tim PkM Universitas Budi Luhur berambisi penerapan Smart EWS di RT 09/RW 03 Cilangkap dapat menjadi model percontohan sistem peringatan awal banjir berbasis masyarakat nan dapat dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain nan mempunyai kerentanan terhadap banjir.
Model tersebut mengintegrasikan teknologi sensor, sistem notifikasi digital, komunikasi berbasis WhatsApp, serta kelembagaan masyarakat melalui Satgas Banjir. Integrasi beragam komponen tersebut menjadi krusial lantaran teknologi peringatan awal bakal lebih efektif andaikan didukung kesiapan masyarakat dalam menerima info dan melakukan tindakan.
Ke depan, pengembangan sistem diharapkan dapat dilakukan melalui penyempurnaan teknologi, penguatan kapabilitas Satgas Banjir, peningkatan literasi kebencanaan masyarakat, serta pengembangan jejaring dengan pemerintah wilayah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kami berambisi apa nan dilakukan di RT 09/RW 03 Cilangkap ini tidak berakhir sebagai sebuah pemasangan alat. Harapannya, sistem ini dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh nan bisa direplikasi di wilayah lain sesuai dengan kebutuhan dan karakter wilayah masing-masing,” pungkas Arin.
Melalui program Hibah BIMA 2026 Kemdiktisaintek, Universitas Budi Luhur menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan penemuan perguruan tinggi nan memberikan faedah langsung bagi masyarakat. Penerapan Smart EWS menjadi salah satu corak pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengurangan akibat bencana, peningkatan kesiapsiagaan, dan pembangunan ketahanan komunitas. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·