Budianto Chandra, Division Head Network Presales Multipolar Technology, sedang menjelaskan tentang pentingnya perusahaan membangun pertahanan siber secara menyeluruh di era AI kepada para peserta Security Forum 2026 bertema “Are You Still in Control, or is(Dok Istimewa)
PEMANFAATAN kepintaran buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar bagi bumi usaha. Namun, di kembali beragam kesempatan tersebut, muncul tantangan baru nan tidak kalah besar: ancaman siber nan semakin canggih, cepat, dan susah dideteksi. Betapa tidak, sekarang serangan siber tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan memanfaatkan AI untuk mempercepat pemanfaatan kerentanan, mengotomatisasi serangan, hingga menciptakan teknik serangan nan semakin susah dideteksi. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk membangun strategi keamanan nan tidak hanya kuat, tetapi juga lebih cerdas, adaptif, dan terintegrasi.
Dalam Security Forum 2026 bertema “Are You Still in Control, or is Your Security Strategy Failing Behind?” nan diselenggarakan oleh perusahaan solution integrator terkemuka PT Multipolar Technology Tbk (IDX: MLPT) di Shangri-La Jakarta pada Rabu (10/6) lalu, Division Head Network Presales Multipolar Technology Budianto Chandra mengungkapkan, di tengah meningkatnya ancaman siber, perusahaan-perusahaan perlu memastikan bahwa aset data, aplikasi, Application Programming Interface (API), dan prasarana digitalnya terlindungi secara menyeluruh.
Menurut Budianto, perusahaan perlu membangun pertahanan siber secara menyeluruh, mulai dari perlindungan data, pengamanan aplikasi dan API, hingga modernisasi operasi keamanan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Multipolar Technology menghadirkan tiga solusi utama, ialah IBM Guardium, F5 Distributed Cloud Services, dan Palo Alto Networks Cortex nan saling melengkapi dalam membangun pertahanan siber nan kuat di era AI.
“Solusi-solusi ini krusial mengingat bukan hanya perusahaan nan memanfaatkan AI, melainkan penjahat siber pun memanfaatkan kecanggihan AI untuk melakukan serangan,” katanya.
IBM Guardium membantu perusahaan melindungi aset digital nan paling berharga, ialah data. Solusi ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap keberadaan info sensitif, siapa nan mengaksesnya, serta gimana info digunakan di seluruh lingkungan perusahaan. Dengan keahlian pemantauan secara real time dan pengelompokkan info otomatis, perusahaan dapat memperkuat tata kelola data, memenuhi kebutuhan kepatuhan, sekaligus mengurangi akibat kebocoran info nan semakin meningkat di era AI.
Seiring meningkatnya penggunaan aplikasi modern, microservices, dan multi-cloud, jumlah API dalam perusahaan tumbuh semakin pesat. Kondisi ini memperbesar akibat keamanan lantaran API sekarang menjadi salah satu sasaran utama serangan siber. Untuk itu, F5 Distributed Cloud Services membantu perusahaan memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap API nan dimiliki, memantau perilaku trafik secara berkelanjutan, serta memberikan perlindungan berbasis AI terhadap beragam ancaman nan menyasar aplikasi dan API di beragam lingkungan teknologi.
“F5 Distributed Cloud Services menawarkan keahlian API discovery nan komprehensif melalui code scanning, traffic-based discovery, dan crawler-based discovery, menjadikan seluruh API dapat teridentifikasi,” katanya.
Solusi ini dilengkapi dengan keahlian kajian perilaku berbasis AI dan machine learning; penemuan anomali; pengesahan skema API; inspeksi lampau lintas secara berkelanjutan; serta perlindungan runtime, rate limiting, dan API protection rules. Dengan pendekatan discover, monitor, dan secure, perusahaan dapat melindungi API secara konsisten di beragam lingkungan teknologi.
Di sisi lain, Palo Alto Cortex menghadirkan pendekatan Security Operations (SecOps) modern nan mengandalkan AI dan otomatisasi untuk mempercepat deteksi, investigasi, dan respons terhadap ancaman. Ketika tim keamanan dihadapkan pada ribuan peringatan setiap hari, keahlian untuk memilah ancaman prioritas dan merespons secara sigap menjadi aspek krusial dalam menjaga kelangsungan bisnis. Dengan support AI, perusahaan dapat meningkatkan efektivitas operasi keamanan sekaligus mengurangi beban kerja manual nan selama ini menjadi tantangan utama Security Operations Center (SOC).
Kehadiran ketiga solusi tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber modern tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan tradisional. Budianto menegaskan bahwa keamanan siber sekarang bukan lagi sekadar rumor teknologi, melainkan bagian dari strategi upaya perusahaan. Seiring semakin luasnya pemanfaatan AI dan transformasi digital, perusahaan perlu memastikan bahwa perlindungan data, keamanan aplikasi dan API, serta operasi keamanan melangkah secara terintegrasi dan proaktif.
"Di era AI, perusahaan tidak cukup hanya bereaksi ketika serangan terjadi. nan lebih krusial adalah membangun ketahanan siber nan bisa mengantisipasi ancaman sejak awal. Karena itu, investasi pada strategi dan solusi keamanan nan tepat telah menjadi kebutuhan strategis bagi keberlangsungan bisnis," tutupnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·