Tiba-Tiba Xi Jinping "Bersih-Bersih" Perusahaan China, Ada Apa?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - China kembali melakukan "bersih-bersih" ke para pengusahanya. Pemerintah Presiden Xi Jinping meningkatkan "penegakan peraturan perusahaan" sejak awal 2026.

Sebelumnya, China sempat melakukan tindakan keras ke pengusaha tahun 2021. Kala itu, langkah tersebut menghapus lebih dari US$1 triliun dari saham teknologi Tiongkok.

"Konsentrasi tindakan dan jumlah perusahaan nan terlibat mau tidak mau mengingatkan kita pada tindakan keras izin terhadap perusahaan platform internet dari lebih dari lima tahun nan lalu," kata Kepala Strategi China di Evercore, Neo Wang, mengutip CNBC International, Selasa (23/6/2026).

"Negara menegaskan kembali kendali politik atas data, ekspansi modal, ideologi pengarahan belajar, pencatatan saham di luar negeri, dan kekuatan platform, berbarengan dengan pembiayaan nan berlebihan," kata mitra dan pemimpin kebijakan teknologi untuk China di DGA-Albright Stonebridge Group, sebuah perusahaan penasihat global, Paul Triolo.

Secara rinci, di Januari, Beijing meluncurkan penyelidikan antimonopoli terhadap Trip.com atas dugaan "penyalahgunaan kekuasaan pasar. Hal ini memaksa para pedagang untuk membikin perjanjian eksklusif sebelum meningkatkan biaya komisi.

Langkah ini menyebabkan saham perusahaan di Hong Kong turun nyaris 20% dalam satu hari. Analis Citibank memperkirakan penyelidikan antimonopoli nan sedang berjalan dapat mengakibatkan denda hingga 4,9 miliar yuan (sekitar Rp 13 triliun rupiah).

Pada bulan Mei, regulator pasar China juga mengeluarkan hukuman keamanan pangan paling keras, menjatuhkan denda campuran sebesar 3,6 miliar yuan kepada beberapa platform e-commerce dan pengiriman makanan. Mereka disebut menampung vendor nan tidak terverifikasi nan bersaing dalam perihal harga.

Menjelang pagelaran shopping "618", event terbesar potongan nilai di China, regulator kota Beijing pun memanggil pengecer online termasuk Xiaohongshu- nan dilaporkan telah bersiap untuk mengusulkan penawaran umum perdana (IPO) secara rahasia di Hong Kong- atas iklan subsidi nan menyesatkan. Otoritas juga melaporkan ada sistem biaya tersembunyi nan mengalihkan biaya kepada pedagang.

Sementara itu, pada minggu nan sama, SAMR memanggil manajemen senior Walmart China untuk pertemuan pertanggungjawaban umum mengenai kegagalan keamanan pangan nan berulang di jaringan penyimpanan keanggotaannya, Sam's Club, dan mendesak perbaikan kontrol rantai pasokannya. Sam's Club telah membentuk gugus tugas perbaikan untuk memperbaiki inspeksi rantai pasokan dan mengganti ketuanya dengan Liu Peng, mantan pelaksana di Alibaba.

Terkendali dan Terukur

Sementara itu, meski "bersih-bersih" dilakukan, sejumlah analis menilai apa nan dilakukan China saat ini sangat terukur. Triolo mengatakan situasinya telah berubah.

"Kini kreator kebijakan sekarang lebih waspada terhadap perekonomian nan terbebani oleh permintaan domestik nan lesu, pasar kerja nan lambat, dan kemauan agar perusahaan teknologi swasta meningkatkan investasi dalam prasarana komputasi nan mendukung ambisi AI negara," katanya.

"Beijing berupaya untuk bertindak tetapi tanpa memicu kepanikan penanammodal nan luas lainnya," tambahnya.

"Regulator jauh lebih terkendali daripada tahun 2021."

Hal sama juga dikatakan Direktur The Asia Group untuk China, Han Shen Lin. Ia mengatakannya Beijing memerlukan kepercayaan sektor swasta, lapangan kerja, dan investasi teknologi jauh lebih banyak daripada nan dibutuhkan pada tahun 2021.

Ini terlihat dari upaya di 2025, saat Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada para pengusaha top negara itu, termasuk Jack Ma dari Alibaba. Langkah itu untuk "menunjukkan talenta mereka" di era baru bagi ekonomi swasta negara itu.

"Langkah-langkah tersebut lebih berupa sinyal terukur daripada penindakan berkelanjutan," tegas analis riset di Rhodium Group, Ciel Qi.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News