Jakarta, CNBC Indonesia - China menghadapi dilema besar setelah Amerika Serikat (as) menakut-nakuti bakal memutus akses ke sistem finansial AS bagi pihak nan membantu Iran menghindari sanksi.
Di satu sisi, China tetap sangat memerlukan dolar AS untuk menopang perdagangan global, tetapi di sisi lain Beijing mulai memperkuat sistem finansial pengganti untuk mengurangi akibat tekanan Washington.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan entitas nan memfasilitasi pencucian duit alias penghindaran hukuman atas nama Iran berisiko kehilangan akses ke sistem finansial AS.
"Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem nan mengubah minyak Iran menjadi uang, menjadi perangkat penindasan, maka mereka bakal menjadi sasaran," kata Bessent ketika ditanya mengenai bank-bank China, seperti dikutip CNBC International, Rabu (26/8/2026).
China merespons dengan menyatakan bakal mengambil langkah nan diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan penolakan Beijing terhadap hukuman sepihak nan dinilai tidak mempunyai dasar norma internasional maupun mandat Dewan Keamanan PBB.
Sebenarnya, dilema tersebut muncul lantaran China merupakan pembeli terbesar minyak Iran. Data Kpler nan dikutip Reuters menunjukkan China membeli lebih dari 80% minyak Iran nan dikirim melalui jalur laut, sehingga hubungan perdagangan kedua negara menjadi salah satu aspek krusial dalam efektivitas kampanye tekanan ekonomi Washington.
Melalui "Operation Economic Outcast", pemerintahan Presiden Donald Trump memperluas tekanan terhadap jaringan ekonomi Iran sekaligus memperingatkan negara lain agar menghentikan hubungan upaya dengan Teheran. Namun, Washington sejauh ini belum menjatuhkan hukuman terhadap lembaga finansial China terbesar nan mengenai dengan perdagangan minyak Iran.
Di tengah ancaman tersebut, China tetap mempunyai kepentingan kuat untuk mempertahankan akses terhadap sistem dolar AS. Dolar tetap menjadi mata duit utama dalam perdagangan dan finansial internasional, sehingga pemutusan akses terhadap bank-bank besar China dapat menimbulkan tekanan besar terhadap aktivitas ekonomi dan perdagangan negara tersebut.
Namun, China juga telah lama membangun perlindungan dari akibat tersebut. Sistem pembayaran lintas negara China alias Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan pada prasarana finansial nan berpusat pada dolar, meski bukan berfaedah Beijing mau sepenuhnya meninggalkan mata duit AS.
Direktur pelaksana perusahaan penasihat Z-Ben di Shanghai, Peter Alexander, mengatakan perkembangan sistem tersebut merupakan corak diversifikasi finansial China.
"Ini adalah instrumen lindung nilai geopolitik," ujar Alexander, menggambarkan CIPS sebagai salah satu langkah Beijing mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tekanan finansial dari Washington.
Ekonom senior The Economist Intelligence Unit, Tianchen Xu, kekuasaan dolar membikin langkah pemutusan akses menjadi pedang bermata dua. "China jelas mau tetap berada dalam sistem dolar nan menguntungkan mesin perdagangannya, namun perihal itu tidak berfaedah mereka bakal melakukan segalanya demi mematuhi hukuman AS nan terus meluas," katanya.
"Beijing apalagi belum mulai mengambil sikap keras terhadap Amerika," kata Alexander, seraya menilai persoalan utama ke depan bukan sekadar apa nan dapat dilakukan Washington, tetapi apakah AS betul-betul bakal mengambil tindakan nan berisiko mengguncang hubungan ekonomi kedua negara.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
23 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·