The Fed dan Risiko Fiskal Domestik Bayangi Rupiah Hari Ini

Sedang Trending 10 jam yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Jum'at, 11 September 2026 |08:06 WIB

The Fed dan Risiko Fiskal Domestik Bayangi Rupiah Hari Ini

Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak naik turun dan ditutup melemah pada perdagangan hari ini Jumat (11/9/2026). Pergerakan mata duit Garuda dibayangi oleh eskalasi militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz, menguatnya ekspektasi kenaikan suku kembang bank sentral AS, serta kekhawatiran terhadap beban fiskal impor daya domestik.

Tekanan eksternal nan kian intensif membikin mata duit domestik susah keluar dari area merah meski sempat mendapat sokongan dari sentimen konsumen di dalam negeri. Pelaku pasar kurs asing sekarang memilih bersikap melindungi sembari mencermati dinamika pasokan daya dan arah kebijakan moneter global.

"Untuk perdagangan hari ini, mata duit rupiah naik turun namun diprediksi ditutup melemah di rentang Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (11/9).

Memburuknya sentimen dunia dipicu oleh konfrontasi bersenjata antara AS dan Iran nan mencatatkan rangkaian serangan terparah terhadap armada perkapalan sejak bentrok bermulai pada Februari lalu. Eskalasi ini kembali memanas setelah sempat mereda sejenak pada Agustus. Militer Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar area strategis Selat Hormuz pada Rabu, sementara AS membalas tindakan tersebut dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.

Kondisi geopolitik tersebut diperberat oleh sikap para pedagang nan sekarang bersiap menyambut rilis info Indeks Harga Produsen (PPI) AS serta info inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat. Rangkaian laporan inflasi tersebut dinantikan untuk memberi petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed pada pertemuan pekan depan guna meredam tekanan harga. 

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini telah mengalkulasi adanya kesempatan sekitar 60 persen bagi bank sentral AS untuk meningkatkan suku kembang acuannya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com