Jakarta, CNBC Indonesia - Update baru didapat dari kejadian nyaris tabrakan dua pesawat Qantas di Bandara Sydney, Australia, pada Juli lalu. Terungkap persoalan serius mengenai kelelahan dan kekurangan tenaga pengatur lampau lintas udara (air traffic controller/ATC) di terminal penerbangan tersebut.
Dokumen internal dan rekaman percakapan ditinjau Reuters, Jumat (4/9/2026). Ini menunjukkan bahwa lima dari 10 pengatur lampau lintas udara nan bekerja saat kejadian tersebut masuk kategori berisiko tinggi mengalami kelelahan.
Secara rinci, kejadian terjadi pada 27 Juli 2026, ketika pesawat turboprop Qantas nan sedang mendarat nyaris berbenturan dengan Boeing 737 milik maskapai nan sama. Padahal, Boeing 737 sebelumnya telah mendapat izin untuk melintasi landasan pacu.
Ternyata, dari 10 petugas nan bertugas, lima mendapat kode "H" alias high fatigue risk dalam sistem manajemen kelelahan Australia. Satu petugas masuk kategori akibat sedang, satu lainnya berisiko rendah sementara tiga petugas lainnya tidak masuk kategori berisiko mengalami kelelahan.
Seorang manajer shift apalagi menyebut kondisi staf saat itu sebagai "sedikit gila". Ini tercatat di percakapan internal dengan seorang kepala manajemen lampau lintas udara.
"Kita punya sekitar lima orang dengan tingkat kelelahan tinggi pagi ini. Ini sedikit gila," ujar manajer tersebut dalam rekaman, dikutip Jumat (4/9/2026).
"Syukurlah mereka tidak bertabrakan, tetapi jaraknya sangat dekat dan semua orang di sini cukup terguncang," lanjutnya.
Enam Pesawat Nyaris Tabrakan dalam Sebulan
Sebenarnya, kejadian 27 Juli menjadi salah satu dari enam kejadian nyaris tabrakan di Bandara Sydney dalam kurun sekitar satu bulan. Serangkaian kejadian tersebut memicu sorotan terhadap kondisi tenaga kerja pengatur lampau lintas udara, di tengah kekhawatiran dunia mengenai kekurangan personel ATC dan dampaknya terhadap keselamatan penerbangan.
Badan keselamatan transportasi Australia, Australian Transport Safety Bureau (ATSB), saat ini menyelidiki keenam kejadian tersebut untuk mengetahui apakah terdapat persoalan keselamatan alias aspek penyebab nan sama. Airservices Australia, badan pemerintah nan mempekerjakan pengatur lampau lintas udara di negara tersebut, menolak berkomentar mengenai kejadian lantaran penyelidikan tetap berlangsung.
Bukan Berarti Petugas Benar-Benar Kelelahan?
Sistem manajemen kelelahan nan digunakan Australia tidak secara langsung mengukur apakah seorang petugas betul-betul mengalami kelelahan. Sistem tersebut menggunakan penilaian otomatis terhadap sejumlah faktor, termasuk beban kerja dan agenda kerja, untuk memperkirakan tingkat akibat kelelahan.
Berdasarkan tingkat akibat tersebut, manajer shift alias kepala manajemen lampau lintas udara dapat menerapkan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya memberikan waktu rehat lebih panjang, membatasi volume lampau lintas nan ditangani petugas, alias mengakhiri shift lebih awal.
Namun, sejumlah pengatur lampau lintas udara mengatakan kepada Reuters bahwa petugas tetap dapat bekerja meskipun mempunyai tingkat akibat kelelahan tinggi. Seorang petugas nan berbasis di Melbourne mengatakan dirinya apalagi belum pernah memandang seorang pengatur lampau lintas udara dikeluarkan dari agenda kerja lantaran dinilai terlalu capek untuk bertugas.
Presiden Civil Air, serikat nan mewakili sekitar 85% pengatur lampau lintas udara Australia, Scott Nugent, mengatakan jumlah shift dengan akibat kelelahan tinggi meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan waktu rehat nan semakin sedikit serta jam kerja nan lebih panjang.
"Namun, kekurangan staf menyebabkan orang bekerja lembur lebih banyak, mempunyai lebih sedikit hari libur, bekerja di bawah tekanan nan lebih besar dan tingkat kelelahan meningkat," kata Nugent.
Airservices Australia juga mengakui bahwa dalam enam pekan hingga 28 Agustus, Sydney mengalami tingkat ketidakhadiran jangka pendek nan tidak biasa. Kondisi tersebut berakibat signifikan terhadap keahlian perusahaan mengisi seluruh shift operasional.
Bisa Kerja 10 Hari Berturut-turut
Kekurangan tenaga kerja membikin persoalan kelelahan menjadi semakin serius. Berdasarkan perjanjian kerja Airservices Australia, pengatur lampau lintas udara dapat bekerja hingga 10 shift berturut-turut, termasuk tugas tambahan dan keadaan darurat, dengan pemisah maksimal 80 jam selama periode kerja tersebut.
Sebagai perbandingan, pengatur lampau lintas udara di Kanada dapat bekerja hingga delapan hari berturut-turut sedangkan di Amerika Serikat (AS) hingga enam hari. Tiga pengatur lampau lintas udara Australia dan Civil Air mengatakan kepada Reuters bahwa bekerja selama 10 hari berturut-turut sebelum memperoleh satu hari libur bukanlah perihal nan tidak biasa.
Tekanan lembur juga disebut meningkat. Sejumlah petugas mengatakan mereka kerap menerima telepon dan pesan untuk mengambil shift tambahan lantaran absennya mereka dapat menambah tekanan terhadap rekan kerja nan sudah kekurangan personel.
Persoalan ini tidak hanya terjadi di Australia. Kekurangan pengatur lampau lintas udara juga menjadi masalah di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Kanada.
Di AS, berasas laporan National Academies of Sciences, pengeluaran untuk lembur pengatur lampau lintas udara melonjak lebih dari 300% sepanjang 2013-2024, mencapai sekitar US$200 juta (Rp3,528 triliun) pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan gimana kekurangan tenaga kerja di sektor pengatur lampau lintas udara dapat menjadi persoalan keselamatan, terutama ketika petugas kudu menghadapi beban kerja tinggi dan jam kerja panjang.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·