Terungkap! Ini Penyebab Desil Berubah, Tak Sesuai Kondisi Warga Indonesia

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Terungkap! Ini Penyebab Desil Berubah, Tak Sesuai Kondisi Warga Indonesia

Terungkap! Ini Penyebab Desil Berubah, Tak Sesuai Kondisi Warga Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengungkap penyebab perubahan desil pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Perubahan info desil lantaran ada sekitar 12 juta info baru dari BKKBN nan belum melalui proses verifikasi dan validasi.

Perubahan desil nan sempat terjadi secara signifikan pada DTSEN Volume 3 itu sekarang telah dikoreksi melalui DTSEN Volume 3.1 nan diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Gus Ipul menjelaskan, pemerintah terus melakukan konsolidasi dan pemutakhiran DTSEN untuk meningkatkan kecermatan data. Pemutakhiran dilakukan melalui beragam sumber, termasuk berbareng pemerintah daerah.

“Baru masuk 12 juta info baru dari BKKBN nan belum dilakukan verifikasi dan validasi, sehingga loncat-loncat. Nah sekarang sudah distabilkan, dirapikan, diverifikasi dan validasi. insyaallah dalam waktu 1-2 minggu ke depan, info ini bakal makin akurat,” kata Gus Ipul di Jakarta, Kamis (3/9/2026) malam.

Gus Ipul menegaskan, perubahan desil tidak serta-merta membikin seseorang langsung dicoret dari daftar penerima support sosial. Penyaluran support tetap menunggu penetapan penerima pada periode penyaluran.

“Sehingga, tidak serta-merta orang nan sekarang desilnya berubah, itu otomatis dicoret (bansosnya). Karena tetap menunggu penetapan pada awal bulan penyaluran. Misalnya sekarang ini kan ada lonjakan-lonjakan, itu tidak otomatis (bansos) hilang, lantaran kan kita belum menyalurkan. Sementara untuk PBI itu setiap bulan sekali,” katanya.

Tenaga Ahli Menteri Sosial Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Andy Kurniawan menjelaskan, desil DTSEN bukan ukuran langsung untuk menentukan seseorang kaya alias miskin maupun besaran penghasilan. Desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan masyarakat secara nasional. Setelah diurutkan dari tingkat kesejahteraan terendah hingga tertinggi, masyarakat kemudian dibagi menjadi 10 golongan nan disebut desil.

“Desil itu bukan sertifikat kaya dan miskin. Desil tidak bisa disamakan secara ekuivalen dengan penghasilan. Desil 1 penghasilannya sekian alias desil 10 penghasilannya sekian, itu tidak bisa,” jelas Andy.

Karena berkarakter relatif, posisi desil seseorang dapat berubah meskipun kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan. Perubahan dapat terjadi lantaran kondisi family lain dalam pemeringkatan juga berubah.

“Misalnya musibah di Sumatera, sehingga banyak orang nan jatuh miskin, maka otomatis desil saya bakal naik. Karena jika direngking ulang secara nasional, ada orang nan turun, maka ada orang nan naik (desilnya),” jelas dia.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑