ilustrasi(YANG Dinghua)
SEKITAR 100 juta tahun lalu, seekor kumbang mini merayap di atas pohon di wilayah nan sekarang dikenal sebagai Myanmar utara, sebelum akhirnya terperangkap di dalam getah pohon. Getah tersebut membeku menjadi batu amber dan menjaga tubuh kumbang tetap utuh di dalamnya.
Saat tim paleontolog memotong batu amber tersebut, mereka menemukan struktur antena unik nan tidak dimiliki oleh jenis kumbang hidup mana pun di bumi saat ini.
Penelitian nan dipimpin oleh Yanda Li, seorang mahasiswa doktoral dari University of Bristol, bekerja sama dengan Profesor Chenyang Cai dari Nanjing Institute of Geology and Palaeontology of the Chinese Academy of Sciences (NIGPAS). Tim peneliti menamai kumbang tersebut Icaroramus perisi. Nama jenis ini diambil untuk menghormati mahir paleoentomologi Dr. David Peris.
Struktur Antena Luar Biasa
Antena pada Icaroramus perisi terdiri dari 12 segmen. Uniknya, delapan segmen di bagian tengah masing-masing menumbuhkan dua pasang bagian samping nan berbeda.
Pasang bagian pertama tumbuh dari dasar segmen dengan ukuran lebih panjang, agak membesar di bagian ujung, dan dilapisi bulu-bulu kasar. Sementara pasang bagian kedua berada di bagian tengah segmen, berukuran lebih pendek, lebih tipis, dan hanya mempunyai bulu-bulu halus.
Pola antena ini dinamakan quadriheteroramose, nan berfaedah empat bagian dari dua jenis berbeda pada satu segmen. Struktur ini merupakan temuan pertama pada jenis kumbang, baik nan tetap hidup maupun nan telah punah.
Bagi serangga, antena berfaedah layaknya hidung. Bulu-bulu lembut pada antena menampung sel saraf nan menangkap senyawa kimia di udara. Cabang tambahan pada antena memberikan luas permukaan ekstra untuk mempertajam indra penciuman.
Sinyal Kimia dan Organ Cahaya
Spesimen fosil nan ditemukan ini diketahui berjenis kelamin jantan. Peneliti menduga Icaroramus perisi berburu pasangan utamanya menggunakan indra penciuman untuk melacak jejak feromon dari kumbang betina.
Selain antena nan kompleks, fosil ini juga mengawetkan organ sinar di bagian bawah perutnya. Pada kerabat antik kunang-kunang ini, keberadaan organ pemancar sinar berbarengan dengan antena bercabang menciptakan kombinasi nan tidak biasa.
Spesies nan mengandalkan pancaran sinar untuk menarik pasangan biasanya mempunyai antena sederhana dan mata besar. Sebaliknya, jenis dengan antena kompleks umumnya mengandalkan aroma dan tidak menggunakan sinar untuk kawin.
Para peneliti menduga sinar pada Icaroramus perisi lebih berfaedah sebagai sistem pertahanan diri dari pemangsa, daripada perangkat untuk memikat pasangan.
Desain Tubuh nan Hilang
Tidak ada jenis kumbang modern nan mempertahankan struktur antena bercabang empat ini. Para peneliti melihatnya sebagai sebuah corak penelitian perkembangan singkat nan akhirnya lenyap tergerus seleksi alam.
Tim peneliti menempatkan kumbang berukuran panjang sekitar 1 sentimeter ini ke dalam famili nan telah punah, Cretophengodidae. Penemuan ilmiah ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·