Ilustrasi(Unsplash)
SELAMA lebih dari 150 tahun, para mahir biologi dibuat bingung oleh sebuah pertanyaan nan apalagi tidak bisa dijawab sepenuhnya Charles Darwin. Mengapa beberapa tanaman nan baru tiba di suatu tempat bisa menyebar dengan sangat cepat, sementara nan lain nyaris tidak dapat memperkuat hidup?
Setelah puluhan tahun mempelajari jenis invasif, sebuah studi terbaru nan diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkapkan jawabannya selama ini berlindung di depan mata, ialah aspek iklim.
Para peneliti dari UC Santa Barbara menganalisis jutaan catatan tanaman nan dikumpulkan di seluruh daratan Amerika Serikat selama lebih dari 200 tahun. Hasilnya menunjukkan sifat-sifat nan membantu tanaman invasif untuk sukses sangat berjuntai pada kondisi lingkungan nan mereka hadapi.
Dalam bukunya On the Origin of Species, Darwin mengusulkan dua pendapat nan saling bertentangan. Pertama, jenis pendatang sukses lantaran mirip dengan tanaman original sehingga cocok dengan kondisi lokal. Kedua, mereka sukses lantaran justru berbeda sehingga bisa menghindari persaingan langsung.
"Hasil ini menunjukkan bahwa Teka-Teki Naturalisasi Darwin (Darwin’s Naturalization Conundrum) mungkin bukan sebuah teka-teki sama sekali, melainkan rentang hasil nan dapat diprediksi," kata Tadeo Ramirez-Parada, penulis utama studi tersebut.
Pola Sukses nan Dibentuk oleh Iklim
Dengan memanfaatkan spesimen tanaman kering dari herbaria dan info cuaca historis, tim peneliti berfokus pada waktu berbunga tanaman. Di wilayah dengan kondisi lingkungan nan keras, seperti panas ekstrem, dingin, alias kekeringan, tanaman invasif nan sukses rupanya sangat mirip dengan jenis asli. Di lingkungan ini, tanaman kudu berbunga pada waktu nan sama dengan jenis lokal agar bisa memperkuat hidup.
Sebaliknya, di wilayah dengan suasana nan lebih ramah, tingkat persaingan antar-tanaman menjadi lebih padat. Di area seperti ini, tanaman invasif justru diuntungkan jika mereka tampil berbeda dari tanaman original untuk mengisi relung ekologi nan tetap kosong.
"Saya terkejut sekaligus antusias memandang pola nan begitu kuat dan kesesuaian nan jelas dengan ekspektasi teoritis," ujar Ramirez-Parada. "Ekologi biasanya berantakan, sehingga tanda-tanda jarang sekali sekuat dan sejelas ini."
Strategi 'Mencuri Start'
Di suasana nan ramah, tanaman invasif sering kali berbunga jauh lebih awal daripada jenis asli. Strategi mencuri start ini memungkinkan mereka menarik polinator lebih sigap dan menyebarkan bibit dalam periode nan lebih lama.
"Saya telah memandang banyak tempat di California di mana jenis kembang liar original telah digantikan oleh jenis rumput eksotis, nan berkecambah dan tumbuh sigap di awal musim semi," kata Susan Mazer, guru besar di UC Santa Barbara nan turut memimpin penelitian ini.
"Khusus untuk rumput semusim, pola umum untuk jenis invasif tampaknya adalah mencuri start, menguasai ruang, dan menggeser pesaing original nan muncul sedikit lebih lambat."
Fenomena kekuasaan rumput invasif ini membawa akibat jelek nan luas. Selain meningkatkan akibat kebakaran hutan, rumput nan mengandalkan penyerbukan angin ini memproduksi serbuk sari dalam jumlah masif.
"Sebagai tambahan, jenis nan diserbuki angin telah berevolusi untuk menghasilkan jauh lebih banyak serbuk sari daripada tanaman nan diserbuki serangga lantaran begitu banyak serbuk sari nan terbawa angin hilang," jelas Mazer.
Menurut Mazer, alergi pernapasan nan mengenai dengan serbuk sari ini apalagi mengakibatkan biaya medis lebih dari $3 miliar per tahun di Amerika Serikat. Temuan ini diharapkan dapat membantu pengelola lahan untuk mengidentifikasi ancaman tanaman invasif di masa depan sebelum menjadi masalah besar. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·