Terlalu Lama Main Instagram Bisa Mengaburkan Persepsi Wajah Sendiri

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Terlalu Lama Main IG Bisa Mengaburkan Persepsi Wajah Sendiri Ilustrasi(Magnific)

INSTAGRAM selama ini sering kali dituding sebagai dalang di kembali maraknya kekhawatiran terhadap penampilan bentuk (appearance anxiety) dan buruknya gambaran tubuh (body image) di kalangan pengguna. Namun, sebuah studi terbaru justru menemukan akibat lain nan jauh lebih mendalam di lapisan psikologis manusia. Paparan media sosial ini dalam jangka panjang rupanya dapat melonggarkan cengkeraman otak dalam mengenali aspek paling mendasar dari identitas bentuk kita sendiri: wajah kita.

Penelitian ini mengawasi gimana otak manusia membangun persepsi kepemilikan tubuh. Rasa mempunyai tubuh bentuk rupanya tidak dibawa begitu saja sejak lahir lampau menetap selamanya. Otak terus-menerus merajut identitas tersebut momen demi momen berasas kombinasi sinyal internal (seperti debar jantung) dan sinyal eksternal (apa nan kita lihat dan sentuh).

Ketika seseorang menghabiskan waktu bertahun-tahun "merendam" diri di dalam feed Instagram, di mana semua orang condong terlihat mirip akibat penggunaan filter dan standar kecantikan nan seragam, garis pembatas persepsi antara wajah sendiri dan wajah orang lain perlahan-lahan mulai kabur. Secara tidak sadar, otak mulai berasumsi bahwa jika semua orang terlihat sama, maka semua orang adalah sama, termasuk diri kita sendiri.

Untuk menguji kejadian ini, para peneliti menggunakan teknologi simulasi realitas virtual (VR). Dalam penelitian tersebut, para peserta dihadapkan pada ilusi wajah orang asing nan secara berjenjang menyatu dengan persepsi mereka. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan statistik nan kuat, semakin banyak jumlah tahun nan dihabiskan seseorang di Instagram, semakin mudah dan sigap mereka menerima wajah orang asing tersebut sebagai wajah mereka sendiri di dalam simulasi.

Menariknya, studi ini justru tidak menemukan kaitan langsung antara lama penggunaan aplikasi dengan tingkat ketidakpuasan corak tubuh alias gangguan membaca sinyal internal tubuh (interoception). Keretakan nan ditemukan oleh para intelektual bukan terletak pada gimana emosi pengguna terhadap penampilan mereka, melainkan satu lapisan di bawah itu, ialah gimana otak merakit komponen bentuk menjadi sebuah kesatuan identitas diri nan utuh.

Mengapa pengaruh ini lebih menonjol pada wajah dibandingkan bagian tubuh lainnya? Para peneliti menjelaskan bahwa wajah adalah bagian tubuh nan paling erat kaitannya dengan identitas personal. Wajah adalah langkah utama kita mengenali diri sendiri di cermin sekaligus langkah orang lain mengidentifikasi kita. Oleh lantaran itu, pelemahan sinyal "itu adalah wajah saya" di dalam otak menyentuh bagian nan sangat inti dari eksistensi diri seseorang.

Kendati demikian, para intelektual menegaskan bahwa lantaran studi ini merupakan potret satu waktu (snapshot in time), temuan ini baru menunjukkan adanya asosiasi statistik dan belum bisa dijadikan bukti kausalitas absolut bahwa IG secara langsung merusak kegunaan otak. Namun, riset ini memberikan peringatan awal nan krusial mengenai gimana teknologi digital dan budaya filter visual dapat perlahan-lahan mengubah langkah kerja kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri. (EArth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia