Tempe vs Tahu, Pangan Lokal Berbahan Global

Sedang Trending 13 jam yang lalu
Ilustrasi Perajin Tempe dan Tahu Tradisional. Foto: Generated by AI

Indonesia mungkin satu-satunya negara di bumi nan bisa mengubah biji kedelai menjadi dua ikon kuliner berbeda. Keduanya telah menjadi bagian dari identitas bangsa. Harganya relatif murah, kandungan proteinnya tinggi, dan diterima oleh nyaris seluruh lapisan masyarakat.

Namun, ada sebuah ironi besar nan jarang disadari. Di kembali statusnya sebagai pangan lokal, bahan baku utama tempe dan tahu justru berasal dari luar negeri. Sebagian besar kedelai nan diolah setiap hari oleh sekitar 160 ribu lebih pengrajin tempe dan tahu di Indonesia merupakan kedelai impor. Artinya, ketika masyarakat menikmati sepotong tempe goreng seharga Rp2.000, sesungguhnya mereka sedang menikmati hasil dari rantai pasok dunia nan dimulai ribuan kilometer jauhnya, dari ladang-ladang kedelai di Amerika Serikat alias Brasil.

Pertanyaan nan menarik bukan lagi apakah Indonesia bisa menanam kedelai, melainkan berapa besar faedah ekonomi nan diperoleh jika sebagian impor sukses digantikan oleh produksi dalam negeri.

Sumber data: World Integrated Trade Solution (WITS) – World Bank, berasas info UN Comtrade (2024).

Mengacu pada nilai impor kedelai Indonesia pada 2024 nan mencapai sekitar US$1,40 miliar alias sekitar Rp23 triliun (kurs Rp16.500 per dolar AS), terdapat kesempatan ekonomi nan sangat besar andaikan produksi domestik ditingkatkan secara bertahap.

Dengan dugaan kebutuhan nasional tetap sekitar 2,8 juta ton per tahun, simulasi sederhana menunjukkan:

Sumber data: Hasil kajian dugaan pengurangan impor, 2026.

Angka tersebut hanyalah faedah langsung berupa penghematan devisa. Nilai ekonomi nan sesungguhnya jauh lebih besar lantaran setiap rupiah nan dibelanjakan untuk produksi kedelai dalam negeri bakal berputar kembali di perekonomian nasional. Petani memperoleh pendapatan, industri bibit berkembang, pemasok pupuk memperoleh pasar, tenaga kerja terserap, transportasi meningkat, hingga industri pengolahan tahu dan tempe memperoleh pasokan nan lebih stabil. Dalam ekonomi regional, pengaruh seperti ini dikenal sebagai multiplier effect, di mana satu aktivitas ekonomi memicu aktivitas ekonomi lainnya.

Dengan kata lain, setiap rupiah nan sukses dialihkan dari impor menjadi produksi domestik berpotensi menciptakan nilai tambah nan lebih besar dibandingkan sekadar menghemat devisa.

Indonesia Memiliki Keunggulan nan Tidak Dimiliki Negara Lain

Selama ini Indonesia sering dibandingkan dengan Amerika Serikat alias Brasil sebagai produsen kedelai. Padahal kondisi agroekologi ketiga negara tersebut sangat berbeda.

Amerika Serikat mengembangkan kedelai dalam sistem monokultur berskala ribuan hektare dengan mekanisasi penuh. Brasil memanfaatkan lahan Cerrado nan sangat luas. Indonesia memang tidak mempunyai bentang lahan seperti itu, tetapi mempunyai kelebihan lain nan justru lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Sebagai negara tropis, Indonesia dapat melakukan penanaman nyaris sepanjang tahun. Di banyak wilayah, kedelai dapat ditanam sebagai tanaman kedua setelah padi tanpa kudu membuka lahan baru. Sistem tanam padi–kedelai alias jagung–kedelai memungkinkan intensitas tanam meningkat sekaligus memperbaiki kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen alami.

Selain itu, Indonesia mempunyai sekitar 7 juta hektare sawah, jutaan hektare lahan kering, serta area perkebunan muda nan tetap memungkinkan penerapan sistem tumpangsari. Jika hanya sebagian mini dari potensi tersebut dimanfaatkan secara optimal, peningkatan produksi nasional dapat berjalan tanpa ekspansi lahan nan berisiko terhadap lingkungan.

Ancaman Perubahan Iklim Justru Menjadi Momentum

Perubahan suasana sering dipandang sebagai ancaman bagi sektor pertanian. Namun, bagi komoditas kedelai, kondisi tersebut juga dapat menjadi kesempatan andaikan dikelola dengan tepat.

Kedelai memerlukan air lebih sedikit dibandingkan dengan padi. Pada musim kemarau, ketika banyak lahan sawah tidak lagi dapat ditanami padi lantaran keterbatasan air, kedelai justru dapat menjadi pengganti nan lebih efisien. Dengan pemanfaatan varietas toleran kekeringan, irigasi irit air, dan teknologi pertanian presisi, kedelai berpotensi menjadi salah satu komoditas adaptif terhadap perubahan iklim.

Di sisi lain, sebagai tanaman leguminosa, kedelai mempunyai jejak karbon nan relatif lebih rendah lantaran kebutuhan pupuk nitrogen sintetis lebih sedikit. Hal ini menjadikan pengembangan kedelai sejalan dengan agenda pertanian rendah emisi dan sasaran penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia.

Belajar dari India dan Brasil

Keberhasilan meningkatkan produksi kedelai bukan sesuatu nan mustahil. India dan Brasil pernah menghadapi tantangan serupa.

Brasil mengubah wilayah Cerrado nan semula dianggap tidak produktif menjadi salah satu area pertanian paling produktif di bumi melalui investasi besar pada riset varietas, pengelolaan tanah, pengapuran, serta pembangunan prasarana logistik.

India memilih pendekatan berbeda. Pemerintah memberikan support nilai minimum (Minimum Support Price/MSP), memperkuat penyuluhan pertanian, dan memperluas akses bibit unggul sehingga petani mempunyai kepastian pasar.

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari kedua negara tersebut. Bukan dengan meniru secara utuh, tetapi dengan mengadaptasi kebijakan sesuai karakter pertanian tropis Indonesia nan didominasi petani kecil.

Dari Swasembada Menuju Kedaulatan

Selama ini istilah swasembada sering dimaknai sebagai keahlian memenuhi kebutuhan dari produksi sendiri. Padahal tantangan pangan saat ini jauh lebih kompleks.

Indonesia tidak hanya memerlukan swasembada, tetapi juga kedaulatan pangan. Kedaulatan berfaedah petani memperoleh untung nan layak, industri memperoleh pasokan nan stabil, konsumen menikmati nilai nan terjangkau, dan negara tidak terlalu rentan terhadap gejolak pasar global.

Artinya, keberhasilan tidak diukur semata-mata dari berapa ton kedelai nan diproduksi, tetapi juga dari seberapa kuat rantai pasok nasional bisa memperkuat ketika terjadi krisis pangan dunia.

Saatnya Kedelai Menjadi Komoditas Strategis

Selama beberapa dekade, kedelai sering dipandang sebagai komoditas pelengkap dibandingkan dengan padi alias jagung. Padahal, jutaan rumah tangga Indonesia menggantungkan kebutuhan protein hariannya pada tahu dan tempe. Di kembali makanan sederhana tersebut terdapat rantai ekonomi nan melibatkan petani, pedagang, industri pengolahan, hingga upaya mikro nan jumlahnya mencapai ratusan ribu.

Karena itu, penguatan produksi kedelai bukan sekadar kebijakan pertanian, melainkan investasi strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia. Setiap hektare kedelai nan sukses dipanen bukan hanya menghasilkan biji-bijian, tetapi juga mengurangi ketergantungan impor, menghemat devisa, menciptakan lapangan kerja, memperkuat pendapatan petani, dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Tempe dan tahu telah menjadi simbol jati diri kuliner Indonesia. Kini tantangannya adalah memastikan bahwa identitas tersebut tidak lagi berjuntai pada bahan baku dari luar negeri. Ketika kedelai lokal bisa memenuhi kebutuhan nasional, maka Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negeri pembuat tempe, tetapi juga sebagai bangsa nan betul-betul berdaulat atas pangannya sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan