Tembok pagar SD Negeri Minomartani 2, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, roboh dan menimpa 10 penduduk Perum Minomartani nan sedang mengikuti aktivitas senam dan jalan santai, Minggu (9/8).
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, penduduk saat itu tengah berkumpul untuk mengikuti aktivitas menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia.
"Kondisi gedung pagar tembok SDN Mino 2 tiba-tiba roboh sehingga menimpa peserta nan beristirahat di dekat pagar. Panjang pagar kurang lebih 12 meter dan tinggi kurang lebih 1,5 meter," kata Bambang saat dikonfirmasi.
Menurut Bambang, aktivitas tersebut merupakan agenda penduduk tingkat RW. Sekitar 170 hingga 200 penduduk mengikuti aktivitas senam dan olahraga bersama.
"Itu aktivitas kampung aktivitas RW di situ. Acara 17an senam bareng, olahraga bareng gitu. nan senam banyak 1 RW, 170an sampai 200 (orang). nan duduk-duduk (di sekitar tembok) banyak lantaran tempatnya rindang," ujarnya.
Sebanyak 10 korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Enam korban dibawa ke Rumah Sakit Condongcatur, dua korban ke Rumah Sakit Hermina, dan dua korban lainnya ke Rumah Sakit UAD.
Empat korban nan sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Condongcatur, dirujuk ke Rumah Sakit Hermina untuk menjalani CT scan.
Bambang mengatakan, enam ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi para korban.
Polisi Periksa Kondisi Tembok
Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro mengatakan, tembok pagar tersebut roboh sekitar pukul 08.00 WIB.
Sepuluh korban nan mengalami luka-luka masing-masing berinisial ASAF (perempuan), S (perempuan, 64), KM (perempuan, 70), ADS (perempuan, 34), AN (laki-laki, 31), FN (perempuan, 30), SL (perempuan, 40), L (anak-anak), LSAF (laki-laki, 34), serta BRIS (perempuan, 28).
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menyebut tembok mempunyai tinggi sekitar 1,5 meter dan panjang sekitar 20 meter. Tembok tersebut terbuat dari batako semen dan diduga telah berdiri sejak sekitar 1980.
"Dari hasil olah TKP, tembok nan roboh mempunyai tinggi sekitar 1,5 meter dan panjang 20 meter, terbuat dari batako semen, serta diduga telah berdiri sejak sekitar tahun 1980. Petugas menemukan tembok tersebut tidak mempunyai pondasi maupun besi cor penyangga nan memadai," kata Argo.
Polisi menyebut tidak ada orang nan sedang beraktivitas alias bergesekan dengan tembok ketika roboh. Penyebab pasti kejadian tetap dalam penyelidikan.
"Saat kejadian, tidak ditemukan adanya orang nan sedang beraktivitas alias bergesekan dengan tembok. Hingga saat ini, penyebab pasti robohnya tembok tetap dalam penyelidikan," ujarnya.
Petugas Polsek Ngaglik telah melakukan olah TKP dan meminta keterangan sejumlah saksi.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sleman menyatakan bakal menanggung biaya perawatan para korban. Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman juga bakal membangun kembali pembatas tersebut dengan bangunan nan lebih kokoh dan aman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·