Tembaga Disebut Jadi Babak Baru Garapan Sumber Daya Mineral RI

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memasuki babak baru dalam pengelolaan sumber daya mineral. Tantangannya tidak lagi sekadar menghasilkan komoditas, tetapi memastikan mineral strategis dapat menjadi fondasi ketahanan industri, menciptakan nilai tambah, dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Salah satu mineral nan semakin strategis adalah tembaga. Mineral ini menjadi material krusial bagi beragam industri, mulai dari kelistrikan, jaringan transmisi, elektronik, hingga kendaraan listrik dan daya baru terbarukan. Seiring percepatan elektrifikasi dan transisi daya global, penguasaan sumber daya dan rantai pasok tembaga menjadi bagian krusial dari mineral security suatu negara.

Bagi Indonesia, kepemilikan kebanyakan melalui MIND ID di PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi instrumen strategis untuk memperkuat penguasaan nasional atas sumber daya tembaga sekaligus memastikan pengembangannya memberikan faedah nan lebih besar bagi perekonomian dalam negeri.

Upaya tersebut tidak berakhir pada aktivitas pertambangan dan pemurnian tembaga. PTFI juga mengembangkan Precious Metal Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia di Gresik nan memurnikan anode slime, produk samping pengolahan konsentrat tembaga, menjadi logam mulia.

PMR mempunyai kapabilitas produksi sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Kehadiran akomodasi ini memperpanjang rantai nilai mineral di Indonesia sekaligus membuka kesempatan lebih besar bagi pemanfaatan hasil pengolahan di pasar domestik.

Manfaat integrasi tersebut mulai terlihat pada Februari 2025 ketika PTFI mengirimkan 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99% hasil produksi PMR kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), dengan nilai sekitar Rp207 miliar. PTFI dan ANTAM sebelumnya juga telah menyepakati pembelian hingga 30 ton emas per tahun.

Kepala Divisi Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan integrasi tersebut merupakan bagian dari strategi MIND ID dalam membangun rantai nilai mineral nan saling mendukung di antara Anggota Holding.

"MIND ID tidak memandang setiap aset dan perusahaan sebagai entitas nan berdiri sendiri. Kami mengintegrasikan sumber daya dan kapabilitas Anggota Holding agar dapat saling mendukung, sehingga hasil pengolahan mineral dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan memberikan nilai tambah di dalam negeri," ungkap dia dikutip Selasa (8/9/2026).

Dia menambahkan integrasi PTFI dan ANTAM juga mempunyai relevansi dengan kebutuhan pasar domestik. Data World Gold Council mencatat permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 31,6 ton pada 2025, sementara konsumsi emas untuk perhiasan mencapai 16,6 ton. Total kebutuhan kedua segmen tersebut mencapai sekitar 48,2 ton, mendekati kapabilitas produksi emas PMR PTFI.

Menurut Selly, penguatan rantai nilai tersebut menjadi semakin krusial seiring meningkatnya kebutuhan terhadap mineral strategis. Karena itu, pengembangan PTFI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara pertambangan, pengolahan, pemurnian, dan industri hilir di dalam negeri.

Percepatan pemulihan produksi Grasberg dan optimasi Smelter PTFI Gresik mempunyai makna strategis dalam konteks tersebut. Keduanya tidak hanya menentukan kapabilitas produksi tembaga, tetapi juga memperbesar potensi mineral ikutan dan produk turunannya untuk diolah serta memberikan nilai tambah di Indonesia.

"Apa nan MIND ID kerjakan hari ini adalah bagian dari perjalanan membangun industri pertambangan nan berdaulat, di mana kekayaan alam nan kita miliki dapat kita kelola dan kembangkan semaksimal mungkin untuk kepentingan bangsa. Sumber daya Indonesia kudu menjadi kekuatan bagi generasi hari ini sekaligus fondasi bagi generasi nan bakal datang,' ujar dia.

"Melalui penguasaan aset strategis, hilirisasi, dan integrasi antar-Anggota Holding, MIND ID terus memastikan mineral Indonesia tidak berakhir sebagai komoditas, tetapi berkembang menjadi kekuatan industri dan sumber pertumbuhan ekonomi nasional," pungkas Selly.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News