Ilustrasi(Istimewa)
DPP Pengajian Al-Hidayah menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menyerukan pentingnya memperkuat family sebagai fondasi persatuan umat dan bangsa.
Peringatan Maulid Nabi nan berjalan di Ballroom Lantai II Grha DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (8/9), mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Menguatkan Keluarga, Umat, dan Persatuan Bangsa.”
Sekitar 250 peserta yang berasal dari unsur ketua pusat, ketua daerah, utusan ormas hasta karya, utusan organisasi keagamaan tingkat pusat, dan jamaah pengajian Al-Hidayah menghadiri aktivitas secara langsung. Sementara pengurus DPD Pengajian Al-Hidayah tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta masyarakat umum mengikuti aktivitas melalui Zoom dan YouTube.
Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah, Hetifah Sjaifudian, mengatakan upaya membangun persatuan bangsa kudu dimulai dari lingkungan paling dasar, ialah keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar mengenai kasih sayang, penghormatan, tanggung jawab, toleransi, dan kehidupan bersama. Nilai-nilai tersebut menjadi modal krusial dalam membangun masyarakat nan rukun.
“Keteladanan Rasulullah Muhammad SAW sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan keluarga. Akhlak Rasulullah tidak hanya menjadi nilai keagamaan, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam membangun hubungan antar manusia. Keluarga nan bisa menanamkan nilai-nilai adab bakal melahirkan generasi nan mempunyai karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya,” ucap dia dikutip dari siaran pers nan diterima, Rabu (9/9).
Hetifah juga mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat tidak terlepas dari perbedaan. Setiap orang dapat mempunyai latar belakang, pilihan, organisasi, maupun pandangan nan berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan semangat persaudaraan. Nilai-nilai nan diajarkan Rasulullah SAW justru dapat menjadi perekat di tengah keberagaman tersebut.
“Al-Hidayah kudu menjadi jembatan persaudaraan dan persatuan,” tegas Hetifah.
Hetifah berambisi Pengajian Al-Hidayah dapat terus menghadirkan aktivitas nan memperkuat hubungan sosial, kepedulian terhadap sesama, serta semangat kebangsaan.
Dalam kesempatan tersebut, Hetifah juga menyoroti posisi strategis wanita dalam membangun family nan kuat. Perempuan dan ibu mempunyai peran besar dalam membentuk karakter anak sekaligus menjaga ketahanan keluarga. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, wanita juga dituntut mempunyai keahlian untuk memanfaatkan teknologi secara bijak.
Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi DPP Pengajian Al-Hidayah, Napsiyah Arifuzzaman, mengatakan aktivitas tersebut menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Rasulullah Muhammad SAW sekaligus menghidupkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. peringatan Maulid Nabi kudu memberikan akibat nyata bagi kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
“Melalui peringatan Maulid Nabi ini, kita mau membawa adab Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tutur Napsiyah.
Momentum Maulid dapat mendorong umat untuk semakin banyak bershalawat dan memperbanyak kebaikan kebaikan. Keluarga nan kuat bakal membantu menciptakan masyarakat nan harmonis. Dari masyarakat nan selaras itulah persatuan bangsa dapat terus dijaga.
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, turut mengingatkan peserta agar tidak memandang Maulid Nabi hanya sebagai aktivitas seremonial. Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kudu menjadi kesempatan untuk mempelajari dan mempraktikkan keteladanan Rasulullah SAW. Sisi kemanusiaan Rasulullah sebagai bagian nan sangat dekat dengan kehidupan umat.
“Rasulullah itu dari jenis kita sendiri. Jadi sisi kemanusiaannya itu nan justru bisa kita contoh,” kata Sarmuji.
Sarmuji menyatakan Rasulullah dapat menjadi teladan bagi beragam kalangan. Dalam kehidupan keluarga, misalnya, Rasulullah dapat menjadi contoh bagi seorang suami. Sementara dalam konteks kepemimpinan, Rasulullah juga mempunyai keteladanan sebagai pemimpin masyarakat.
Sarmuji menegaskan bahwa meneladani Rasulullah tidak kudu selalu dilakukan melalui tindakan besar. Umat dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi semestinya tidak berakhir pada seremoni, melainkan mendorong perubahan perilaku dan akhlak. Semangat nan dibangun dalam peringatan Maulid Nabi DPP Pengajian Al-Hidayah tersebut menempatkan family sebagai titik awal penguatan persatuan.
Melalui family nan kuat, persaudaraan nan kokoh, serta kepedulian sosial nan terus tumbuh, Al-Hidayah diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga persatuan dan memperkuat kehidupan bangsa Indonesia.
Sebagai penceramah pada aktivitas Maulid Nabi Muhammad SAW adalah Hasani Ahmad Said, nan merupakan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasani Ahmad membujuk umat Islam menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah alias suri teladan terbaik. Keteladanan Rasulullah tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga perbuatan, sifat, dan ketetapan beliau. Salah satunya adalah keahlian mengendalikan amarah. Hasani mengingatkan bahwa menahan kemarahan mempunyai ganjaran besar.
“Jangan engkau jadi orang pemarah. Karena di kembali itu, jika kita bisa menahan amarah, di situ ada surga,” terangnya.
Hasani juga menekankan pentingnya meneladani Rasulullah dalam kehidupan keluarga. Ia mengutip sabda Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka nan melakukan terbaik kepada keluarganya.
“Sebaik-baik kalian adalah ketika melakukan nan terbaik kepada keluargamu,” sebut dia.
Menurut Hasani, family selaras dibangun melalui keteladanan dan akhlak. Karena itu, suami mempunyai tanggung jawab dalam mengurus keluarga, termasuk membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak.
“Rasulullah mengajarkan kita gimana membangun family dengan keteladanan, kasih sayang dan akhlak,” pungkasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·