Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, tertawa lepas saat menyaksikan penduduk cosplay menirukan style dan penampilannya pada Festival Bung Karno nan digelar di Taman Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/6).
Festival tersebut menghadirkan beragam kegiatan. Salah satu nan menarik perhatian adalah lomba impersonate, ialah menirukan style Megawati Soekarnoputri dan Presiden pertama RI Soekarno.
Saat lomba berlangsung, para peserta maju satu per satu ke depan panggung untuk menampilkan aksinya. Peserta pertama tampil dengan mengenakan kebaya merah, rambut disanggul menyerupai Megawati, menggunakan kacamata, serta tahi lalat di posisi nan sama seperti Megawati. Peserta tersebut kemudian menirukan style Megawati.
“Merdeka! Pak Prabowo itu sahabat saya, tapi bukan berfaedah kudu dipisahkan. Kalau sahabat itu ya bersahabat, tapi jika untuk politik ya kudu bisa,” ucapnya meniru style bicara Megawati.
“Politik itu untuk apa? Politik itu untuk demokratisasi. Saya itu bukan musuhnya Pak Prabowo. Dia itu kawan saya. Terima kasih,” lanjutnya.
Melihat penampilan tersebut, Megawati langsung tertawa. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno nan berada di letak juga tampak tertawa lepas menyaksikan tindakan peserta tersebut.
Usai penampilan berakhir, Megawati terlihat tersenyum sembari memberikan tepuk tangan kepada peserta.
Peserta berikutnya juga menampilkan impersonasi Megawati. Ia mengenakan kebaya merah, berkacamata, serta menambahkan tahi lalat sebagai karakter unik Megawati. Berbeda dengan peserta sebelumnya, dia tampak lebih muda dan tampil dengan rambut pendek tergerai.
Dalam penampilannya, peserta itu menyampaikan pidato nan identik dengan pesan-pesan kebangsaan.
“Saudara kerabat sebangsa dan setanah air, bangsa nan besar adalah bangsa nan tidak pernah meninggalkan sejarah. Dan selalu menghormati jasa pahlawannya,” tuturnya.
Megawati berbareng Pramono dan Rano juga menjadi majelis juri dalam lomba tersebut. Pramono pun mengumumkan pemenangnya.
Dalam kesempatan nan sama, Rano Karno menyampaikan Festival Bung Karno digelar bukan sekadar untuk mengenang sosok proklamator Indonesia, tetapi juga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai nan diwariskannya.
“Hari ini kita berkumpul, bukan untuk sekadar datang mengenang. Kita datang untuk menyalakan kembali api nan Bung Karno wariskan kepada Republik ini. Api gotong royong, api kebudayaan, dan api kepercayaan untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri,” kata Rano.
Menurut Rano, bulan Juni mempunyai makna unik dalam sejarah bangsa Indonesia lantaran berisi sejumlah momentum krusial nan berangkaian dengan Bung Karno.
“Saudara-saudaraku, bulan Juni adalah bulan nan bergetar dalam jiwa rakyat Indonesia. Pada tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada 6 Juni, kita mengenang kelahiran Bung Karno. Dan pada tanggal 21 Juni, kita menundukkan kepala, mengenang wafatnya Sang Penyambung Lidah Rakyat,” ujar Rano.
“Tiga tanggal itu bukan sekadar nomor dalam almanak tahunan. Ia adalah lonceng sejarah. Ia adalah panggilan zaman. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari penderitaan rakyat. Indonesia lahir dari keberanian moral, dari pikiran besar, dan dari cinta nan tidak pernah padam kepada tanah air,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ingatan sejarah di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota modern.
“Karena itu, tugas kita bukan hanya membangun Jakarta nan tinggi gedungnya, tetapi juga luhur jiwanya. Bukan hanya Jakarta nan sigap transportasinya, tetapi juga hangat pergaulannya; bukan hanya Jakarta nan modern teknologinya, tetapi juga kuat ingatan sejarahnya. Sebab, kota nan lupa sejarah bakal kehilangan arah. Bangsa nan tercabut dari budaya bakal kehilangan jiwa,” ujar Rano.
Menurut Rano, beragam aktivitas dalam Festival Bung Karno menjadi corak nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dan kebudayaan nan diwariskan Bung Karno kepada generasi penerus.
“Saat anak-anak muda menggambar paras Bung Karno, mereka sedang menggambar keberanian. Saat peserta lomba meniru pidato Bung Karno, mereka sedang belajar menyuarakan kebenaran. Saat UMKM menjajakan produk lokal, mereka sedang menjalankan ekonomi berdikari. Saat rakyat menikmati kuliner Nusantara, mereka sedang merayakan Indonesia dalam rasa, dalam cinta, dalam persaudaraan,” katanya.
Rano menegaskan semangat persatuan nan diwariskan Bung Karno perlu terus dijaga di tengah beragam perbedaan nan ada di masyarakat.
“Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pendapat, berbeda jalan, tetapi kita tidak boleh kehilangan solidaritas sebagai sesama anak bangsa,” tuturnya.
Ia pun membujuk masyarakat menjaga semangat kebangsaan nan telah diwariskan para pendiri bangsa.
“Bung Karno telah menyalakan api kemerdekaan. Hari ini, api itu ada di tangan kita. Jangan biarkan padam oleh kebencian. Jangan biarkan redup oleh perseteruan. Jangan biarkan kalah oleh ketidakpedulian dan sikap masa bodoh. Mari kita jaga api dengan kerja, dengan cinta, dengan kebudayaan, dengan persatuan, dengan keberanian, untuk terus percaya bahwa Indonesia adalah rumah besar kita bersama,” kata Rano.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·