Tata Kelola Ekspor Diperkuat, Dunia Usaha Optimistis Daya Saing Ekonomi Nasional Meningkat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Tata Kelola Ekspor Diperkuat, Dunia Usaha Optimistis Daya Saing Ekonomi Nasional Meningkat Ilustrasi(ANTARA)

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan pandangan positif terhadap kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis. Badan tersebut dinilai memberikan komitmen manajemen untuk mendorong profesionalisme dalam kapabilitas teknis menghadapi volatilitas komoditas global.

DSI mengedepankan proses perekrutan talenta-talenta terbaik dari pasar alias the best people from the market. Upaya ini dipandang sebagai sinyal profesionalisme nan sangat kuat.

"Komitmen DSI untuk merekrut ahli terbaik nan ada di market adalah sinyal positif. Ini juga menunjukkan DSI mau bekerja secara ahli serta responsif menghadapi dinamika geopolitik global. Ini tentu bakal membantu meredakan kekhawatiran penanammodal mengenai kapabilitas teknis lembaga baru tersebut," jelas Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo Chandra Wahjudi, Selasa (23/6/2026).

Dia mengatakan saat ini pelaku pasar sedang menunggu realisasi dari proses rekrutmen nan dijanjikan. Keterbukaan nan dinantikan bumi upaya antara lain, proses rekrutmen nan terbuka, profil manajemen nan kredibel, dan kebijakan tumbukan kepentingan nan jelas. 

Chandra mengatakan lembaga baru ini mempunyai legitimasi kuat di mata pelaku usaha. Seluruh mandat operasionalnya kudu berangkat dari norma jelas, akuntabel, dan tanpa menambah beban baru bagi bumi usaha. "DSI dapat membantu menekan under invoicing melalui integrasi info dan analitik risiko, tanpa menambah layer perizinan," ujarnya.

Lebih lanjut, Chandra percaya DSI punya kapabilitas teknis membantu menekan praktik under invoicing sebagai salah satu perhatian utama pemerintah lantaran merugikan pendapatan negara. "Yang krusial adalah kepastian prosedur dan ruang penjelasan bagi eksportir agar suasana investasi tetap terjaga," lanjutnya.

Dia menjelaskan DSI juga dapat menjadi penegakan tata kelola niaga dengan sistem pengawasan efektif jika terhubung langsung dengan sektor perbankan, otoritas pelabuhan, bea cukai, dan pihak mengenai lainnya. Penggabungan info lintas sektoral ini diharapkan bisa menutup celah alias loopholes nan sering dimanfaatkan eksportir nakal. Upaya itu pun diharapkan tidak menambah beban administratif dan proses manual nan memberatkan pelaku upaya nan patuh.

Mengenai kebijakan transisi nan bakal berjalan hingga 1 Januari 2027, bumi upaya memandang pendekatan berjenjang ini sebagai langkah positif. Kewajiban saat ini nan berfokus pada pelaporan ekspor tanpa mengubah jalur perdagangan nan ada memberikan waktu penyesuaian memadai bagi pelaku pasar.

Menurut Chandra, pendekatan ini dinilai efektif mengurangi akibat guncangan regulasi. Dukungan komunikasi pemerintah nan konsisten juga dapat menjaga stabilitas sentimen pasar.

Ia mengatakan kebijakan transisi dan konsultasi aktif dengan eksportir dan asosiasi perlu terus didukung. Lebih lagi, jika masukan pelaku upaya tercermin dalam penyelenggaraan melalui forum perbincangan berkelanjutan.
Apindo, kata dia, meletakkan angan besar agar DSI dapat memposisikan diri sebagai penyedia peningkatan daya saing ekspor nasional. Fokus utama ialah pada integrasi data, simplifikasi proses birokrasi, serta pencapaian sasaran sigap nan dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan DSI berkedudukan dalam memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor.
"Tujuannya mencegah praktik under invoicing, transfer pricing, dan mengenai dengan pelarian devisa hasil ekspor," imbuhnya.

Pemerintah berambisi pembentukan DSI memperkuat tata kelola perdagangan komoditas strategis dan mendukung pengelolaan devisa hasil ekspor nan lebih akuntabel. Pada tahap awal, terdapat tiga komoditas utama nan bakal diatur DSI, ialah batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloys. 

Ketiga komoditas ini pada 2025 mempunyai nilai ekspor mencapai US$66,13 miliar alias setara 23,4% dari total ekspor nasional. Sektor ini juga membikin neraca perdagangan Indonesia surplus selama 71 bulan berturut-turut. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia