Seberapa Sering Harus Keramas? Ini Panduan Berdasarkan Jenis Rambut

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Seberapa Sering Harus Keramas? Ini Panduan Berdasarkan Jenis Rambut Ilustrasi.(Magnific)

KERAMAS sering kali terasa seperti rutinitas mini nan menyantap waktu. Namun, mencuci rambut dengan langkah dan gelombang nan tepat krusial untuk menjaga rambut tidak terlalu berminyak, tidak tertutup kotoran, serta membantu mencegah kulit kepala meradang.

Masalahnya, tidak ada satu patokan nan bertindak untuk semua orang. Sebagian orang mungkin perlu keramas nyaris setiap hari, sementara nan lain cukup melakukannya beberapa kali dalam sepekan alias apalagi lebih jarang, tergantung jenis rambut, produksi minyak, usia, aktivitas, dan kebiasaan menata rambut.

Mengapa Keramas Penting?

Dalam naskah sumber, dermatolog Dr Brendan Camp dari MDCS Dermatology, New York, menjelaskan bahwa keramas membantu menghilangkan sebum alias minyak alami nan melapisi batang rambut.

"Sebum membantu menjaga rambut tetap lembut, halus, dan lentur. Namun, sebum terus diproduksi oleh kelenjar minyak. Jika rambut tidak dicuci, sebum bakal menumpuk dan membikin rambut tampak berminyak serta terasa berat," kata Camp.

Dengan kata lain, keramas bukan sekadar membikin rambut terasa segar. Rutinitas ini juga membantu membersihkan minyak, keringat, debu, dan sisa produk perawatan rambut nan dapat menumpuk di kulit kepala.

Meski begitu, terlalu sering keramas juga bisa menimbulkan masalah. Pada sebagian orang, mencuci rambut berlebihan dapat membikin rambut kering, kusam, rapuh, alias bercabang.

Tidak Ada Aturan Tunggal untuk Semua Rambut

Dermatolog Dr Jennifer Maender dari Houston Methodist menyebut frekuensi keramas sebagai topik nan kompleks lantaran dipengaruhi banyak faktor.

"Jenis rambut, usia, kebiasaan menata rambut--ada banyak aspek nan berkedudukan untuk menjawab pertanyaan ini," ujarnya.

Karena itu, pertanyaan, "Berapa kali sebaiknya keramas?" sebaiknya dijawab dengan memandang kondisi rambut dan kulit kepala masing-masing, bukan hanya mengikuti kebiasaan orang lain.

Panduan Frekuensi Keramas Berdasarkan Jenis Rambut

Jenis rambut menjadi salah satu aspek utama dalam menentukan seberapa sering seseorang perlu mencuci rambut.

1. Rambut lembut dan mudah berminyak

Orang dengan rambut lembut biasanya lebih mudah terlihat lepek lantaran minyak lebih sigap menyebar di batang rambut. Dalam naskah sumber, dermatolog Dr Shilpi Khetarpal menyebut orang dengan rambut lebih lembut dapat mencuci rambut setidaknya dua hari sekali.

Bagi pemilik kulit kepala sangat berminyak, keramas setiap hari dapat dilakukan jika rasa berminyak itu mengganggu.

2. Rambut panjang

Rambut panjang condong lebih kering pada bagian tengah hingga ujung rambut. Jika terlalu sering dicuci, akibat rambut rentan dan mudah patah dapat meningkat. Pemilik rambut panjang perlu memperhatikan apakah kulit kepala betul-betul berminyak alias hanya rambut terasa kurang segar.

3. Rambut keriting rapat dan kasar

Rambut keriting rapat alias bertekstur kasar umumnya lebih kering lantaran minyak alami kulit kepala lebih susah menyebar hingga ujung rambut. Menurut Khetarpal, orang dengan rambut sangat keriting dan kasar dapat mencuci rambut setidaknya setiap dua pekan.

4. Rambut sangat kering

Pada golongan dengan rambut sangat kering, gelombang keramas bisa lebih jarang. Khetarpal menyebut sebagian orang dengan karakter rambut kering cukup mencuci rambut setidaknya dua kali dalam sebulan.

Usia, Genetik, dan Aktivitas juga Berpengaruh

Selain jenis rambut, usia juga dapat memengaruhi produksi minyak. Pada usia muda, kelenjar minyak umumnya lebih aktif, terutama sejak masa pubertas ketika terjadi perubahan hormon.

Seiring bertambahnya usia, produksi minyak dapat berkurang. Dalam naskah sumber, MedlinePlus disebut menjelaskan bahwa laki-laki mengalami penurunan minimal, paling sering setelah usia 80 tahun, sedangkan wanita secara berjenjang memproduksi lebih sedikit minyak setelah menopause.

Faktor genetik dan lingkungan juga berperan. Orang nan tinggal di wilayah lembap, sering berolahraga, alias mudah berkeringat mungkin perlu mencuci rambut lebih sering lantaran keringat, sebum, dan kotoran lebih sigap menumpuk di kulit kepala.

Biarkan Kondisi Rambut Menjadi Panduan

Para mahir menyarankan agar kondisi rambut menjadi petunjuk utama. Jika rambut terasa berminyak, lepek, kotor, alias tidak nyaman saat disentuh, itu bisa menjadi tanda bahwa rambut perlu dicuci.

Untuk sebagian orang, ini berfaedah keramas dua hari sekali. Untuk nan lain, keramas seminggu sekali sudah cukup.

Panduan sederhana:

  • Rambut sigap lepek dan kulit kepala berminyak: keramas lebih sering, apalagi setiap hari jika perlu.
  • Rambut halus: sekitar dua hari sekali.
  • Rambut panjang alias kering: kurangi gelombang agar tidak mudah rapuh.
  • Rambut keriting rapat alias kasar: bisa lebih jarang, sekitar dua pekan sekali sesuai kondisi.
  • Sering olahraga alias banyak berkeringat: sesuaikan dengan penumpukan keringat dan minyak.

Bolehkah Menggunakan Dry Shampoo?

Di antara agenda keramas, dry shampoo dapat membantu menyerap minyak dan membikin rambut tampak lebih segar. Namun, produk ini bukan pengganti keramas sepenuhnya lantaran tidak betul-betul membersihkan kulit kepala dari kotoran dan sisa produk.

Penggunaan dry shampoo sebaiknya tetap diimbangi dengan keramas teratur agar kulit kepala tidak mengalami penumpukan minyak, debu, dan residu.

Ketombe Bisa Jadi Tanda Rutinitas Perlu Diubah

Jika muncul serpihan putih seperti ketombe, rutinitas perawatan rambut mungkin perlu dievaluasi. Dalam naskah sumber, ketombe disebut dapat berangkaian dengan kelebihan minyak, gelombang keramas nan kurang, alias penggunaan produk perawatan nan kurang sesuai.

Perhatikan pula indikasi lain seperti kulit kepala gatal, kemerahan, nyeri, alias rambut rontok berlebihan. Bila keluhan menetap, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menemukan penyebab nan tepat.

Benarkah Jarang Keramas Membuat Rambut tidak Berminyak?

Salah satu dugaan nan sering muncul adalah semakin jarang keramas, rambut bakal beradaptasi dan menghasilkan lebih sedikit minyak. Namun, dalam naskah sumber, Columbia Health menyebut produksi minyak dikendalikan hormon sehingga rutinitas keramas tidak dapat mengubah produksi minyak secara langsung.

Artinya, mengurangi gelombang keramas tidak otomatis membikin kulit kepala berakhir berminyak. nan lebih krusial adalah menemukan agenda nan membikin rambut bersih tanpa membuatnya terlalu kering.

Kesimpulan

Frekuensi keramas nan ideal berbeda pada setiap orang. Pemilik rambut lembut dan kulit kepala berminyak mungkin perlu keramas lebih sering, sedangkan rambut keriting, kasar, panjang, alias sangat kering biasanya memerlukan jarak keramas nan lebih panjang.

Kuncinya adalah memperhatikan tanda dari rambut sendiri: apakah terasa berminyak, kotor, gatal, alias justru kering dan rentan setelah dicuci. Dengan menyesuaikan rutinitas keramas berasas jenis rambut, aktivitas, dan kondisi kulit kepala, rambut dapat tetap bersih tanpa kehilangan kelembapan alaminya. (The Independent/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia