Tarif Ragunan Mau Naik, Kenneth DPRD DKI Soroti Fasilitas-Kesejahteraan Hewan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta -

Rencana penyesuaian tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) memasuki babak baru. Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pengelola Ragunan telah menyepakati adanya kenaikan nilai ke depannya.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya mengungkapkan, rencana penyesuaian tarif diambil demi meningkatkan akomodasi dan jasa di area Ragunan.

Dimaz menyebut, tarif Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak dirasa kurang relevan dengan pendapatan penduduk Jakarta saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat," ujar Dimaz dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Sedang Melakukan Inspeksi ke Taman Margasatwa Ragunan Terkait Akan Naiknya Tarif Masuk Ragunan, di Pimpin Oleh Ketua Komisi C Dimas Raditya.Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Sedang Melakukan Inspeksi ke Taman Margasatwa Ragunan Terkait Akan Naiknya Tarif Masuk Ragunan, di Pimpin Oleh Ketua Komisi C Dimas Raditya. Foto. Dok: DPRD DKI.

Maka dari itu, Dimaz mengungkapkan, Komisi C DPRD DKI Jakarta berencana melakukan penyesuaian tarif masuk Ragunan di nomor Rp 10.000.

Menurutnya, nomor Rp 10.000 tetap logis dan ramah di kantong jika dibandingkan dengan beberapa lokasi wisata di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

"Tarif sekarang paling mahal Rp 4.000. Rencana bakal dinaikkan menjadi Rp 10.000, tetapi tetap terus kami kaji perihal angka," tutur dia.

Senada dengan Dimaz, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menilai, penyesuaian tarif memang perlu dilakukan demi membenahi beragam sarana dan prasarana di Ragunan.

Salah satu perihal nan bisa ditingkatkan umpama ada penyesuaian tarif adalah tingkat keamanan kandang. Kata Kenneth, tetap ada beberapa kandang nan tingkat keamanannya nan perlu diperhatikan.

Hal itu digarisbawahi lantaran pada Mei 2026 lampau ada seorang anak nan terjatuh ke kandang gajah. Dengan demikian, perlu ada pertimbangan dengan meningkatkan sektor keamanan kandang agar kejadian serupa tak terulang.

"Beberapa waktu lampau ada anak nan terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berambisi standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif," ungkap Kenneth.

Lebih lanjut, laki-laki nan berkawan disapa Bang Kent itu mengatakan, penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Sebab, APBD tetap menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70 persen.

Dengan tarif baru, Ragunan diharapkan bisa secara berjenjang mentransformasikan diri menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) nan mandiri.

"Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa berdikari secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain nan lebih membutuhkan," tutur Alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII tersebut.

Selain itu, Kent juga membeberkan sejumlah catatan pertimbangan kritis dari hasil inspeksi lapangan nan dilakukan pada Kamis sore.

Menurut dia, penambahan pendapatan dari penyesuaian nilai tiket masuk kudu dialokasikan pada aspek-aspek vital, seperti perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, hingga program pemuliaan satwa. Dan juga kesejahteraan pegawai dan unsur pendukung Ragunan juga kudu bisa diprioritaskan nantinya.

"Kondisi satwa kudu tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan nan saat ini belum mempunyai pasangan, kita sorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun hewan agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga kudu diperhatikan. Semua ini memerlukan biaya nan tidak sedikit," beber politisi PDI Perjuangan itu.

Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth Sedang Memberikan Makan Kepada Seekor Jerapah, Salah Satu Penghuni Taman Margasatwa Ragunan nan Bernama Dirga.Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth Sedang Memberikan Makan Kepada Seekor Jerapah, Salah Satu Penghuni Taman Margasatwa Ragunan nan Bernama Dirga. Foto. Dok: DPRD DKI.

Penambahan pemasukan nan diterima pengelola Ragunan dari penyesuaian nilai tiket masuk juga dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah master hewan.

Kata Kent, jumlah master hewan di Taman Margasatwa Ragunan belum sebanding dengan jumlah satwa nan berjumlah lebih dari 2.200 satwa.

"Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah master hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan master hewan kudu menjadi perihal prioritas nan wajib dilakukan," pungkasnya.

Di sisi lain, Kepala Taman Margasatwa Ragunan, Endah Rumiyanti, menyambut baik adanya wacana penyesuaian nilai tarif masuk.

Endah mengungkapkan, pihaknya terlalu berjuntai dengan APBD DKI Jakarta setiap tahunnya. Sementara, pendapatan tiket masuk condong stagnan selama 20 tahun terakhir.

"Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan berdikari nan bisa kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah wilayah tetap berada di kisaran 70 persen," ungkap Endah.

Walau demikian, Endah menegaskan, bahwa wacana penyesuaian tarif bukanlah corak komersialisasi kawasan, melainkan upaya reorientasi pelayanan publik agar Ragunan dapat merealisasikan masterplan pengembangan area secara sistematis.

"Bila penyesuaian tarif ini terlaksana, konsentrasi utama kami adalah pembenahan akomodasi pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, hingga penataan sistem zonasi area berasas masterplan nan telah disusun. Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun hewan berstandar internasional nan aman, nyaman, dan edukatif," papar Endah.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News