Feby Novalius
, Jurnalis-Jum'at, 25 September 2026 |18:04 WIB

Panen raya jagung di Lampung mencatat hasil sekitar 10-15 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata panen di wilayah tersebut. (Foto: Okezone.com/Kementan)
JAKARTA - Panen raya jagung di Lampung mencatat hasil sekitar 10-15 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata panen di wilayah tersebut. Peningkatan hasil tersebut berjalan di tengah tantangan sektor pertanian akibat perubahan iklim, variabilitas cuaca, dan kondisi lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan kejadian El Niño kuat dapat menyebabkan musim tandus berkepanjangan di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas sejumlah komoditas strategis, termasuk jagung.
Jagung menjadi salah satu komoditas krusial dalam ketahanan pangan nasional. Selain untuk konsumsi pangan, sebagian besar produksi jagung nasional digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak untuk mendukung kebutuhan protein hewani masyarakat.
Pemerintah menargetkan produksi jagung pipilan kering sekitar 18 juta ton pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan swasembada pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program swasembada jagung tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga mempunyai akibat terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·