Tangis Yestin Laia, ibu dari Winda Lorenza Gowasa, mantan istri Brigpol ISH, pecah usai rapat dengan Komisi III DPR. Terduduk di bangku roda sembari memeluk pigura foto anaknya, Yestin meminta kematian putrinya diusut tuntas.
Yestin mengaku tetap belum puas sepenuhnya dengan hasil rapat lantaran video mengenai makam putrinya nan telah digali tidak mendapat tanggapan.
“Saya tetap kurang puas lantaran tadi ada video nan mau kami berikan tentang kuburan nan digali itu tidak ada tanggapan. Kalau dari awal tadi saya sudah bersukacita walaupun ada buletin nan disediakan oleh kepolisian, saya tidak peduli itu. Karena saya hanya mengejar proses kematian anak saya ini agar diungkap sebentar, tapi hanya nan terakhir itu lantaran video itu tidak ada tanggapan,” ujar Yestin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/8).
Yestin meminta agar persoalan lain nan berkembang mengenai putrinya tidak mengaburkan penyelidikan atas penyebab kematian Winda.
“Tolong jangan dibuat semua masalah-masalah nan kita lihat ini adalah, diperiksa dulu dia ini, apakah kasusnya ini bunuh diri alias dibunuh, itu aja. Tolonglah… tolonglah Mama…” tuturnya.
Sambil menangis, Yestin juga meminta support kepada Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan DPR untuk mengusut kematian putrinya.
“Tolonglah, tolong Bapak Presiden, tolong Bapak Kapolri, Bapak DPR, Bapak Wakil Presiden, tolong semualah kami ini,” katanya.
Yestin menegaskan hanya mau kematian Winda betul-betul diusut. Dia meminta abdi negara memastikan apakah putrinya meninggal lantaran bunuh diri alias dibunuh.
“Putri saya, Winda Lorenza ini, betul-betul diusut kematiannya. Dan saya berambisi kepada Bapak Presiden Prabowo, kepada Bapak Gibran Wakil presiden, kepada Bapak Kapolri, apalagi kepada Kapolda Sumut, Kapolres dan seluruh jejeran kepolisian nan berangkaian mengusut kematian anak saya ini. Benar-benar mengusut kematiannya ini,” ungkap Yestin.
“Hanya saya meminta kasus anak saya ini dibunuh alias bunuh diri. Sekalipun banyak hujatan dari luar, banyak masalah-masalah nan diberikan sekarang di media sosial, saya tidak peduli itu. nan saya peduli sekarang adalah, nan saya inginkan, kematian anak saya ini dibunuh alias memang meninggal bunuh diri. Bukan masalah-masalah tentang apa pun, saya kebelakangkan itu. Kalau ada masalah-masalah nan lain, biarkan itu diusut dengan masalah nan lain,” sambungnya.
Menurut Yestin, konsentrasi penyelidikan saat ini kudu diarahkan pada kematian Winda di rumah ISH.
“Tapi sekarang nan diusut itu adalah tentang kematian putri saya Winda Lorenza di rumah Iman dan di rumah orang tuanya, Imansyah Putra. Karena menurut kami, kami menerima semua keterangan-keterangan dari bapak master forensik dari kepolisian. Tapi nan saya inginkan adalah tolong dilihat kasus ini. Tolong dilihat kematiannya ini. Benar murni bunuh diri alias dibunuh,” jelas Yestin.
Yestin menyebut family memandang sejumlah kejanggalan nan membikin mereka tidak meyakini Winda meninggal lantaran bunuh diri. Dia justru menduga Winda dibunuh.
“Karena kejanggalan-kejanggalan nan telah kami lihat, menurut kami family tidak sesuai dengan penglihatan kami bahwa itu bukan bunuh diri. Kami duga bahwa dia adalah dibunuh,” tuturnya.
Selain penyebab kematian, Yestin mempertanyakan waktu kematian Winda. Dia mengaku menerima info bahwa putrinya meninggal sekitar pukul 14.30 WIB. Namun, di sisi lain, dia mendapat info bahwa makam Winda telah digali sebelum mentari terbit.
“Dan kami juga bertanya kematian nan sebenarnya itu kapan? Karena ada nan kami dengar info, saya dapat buletin kematian anak saya di jam, kurang lebih jam separuh tiga sore. Tapi ada info kami dengar, kuburan anak saya sudah digali pagi hari sebelum mentari terbit dan panas,” jelas Yestin.
Yestin mengatakan dirinya juga belum menerima hasil autopsi Winda. Dia mengaku tidak diberi tahu saat proses autopsi maupun olah TKP dilakukan.
“Saya tetap belum menerima lantaran apa? Karena saya tidak pernah dikasih tahu diberitahukan waktu otopsi. Saya tidak pernah dikasih tahu waktu TKP, olah TKP. Saya tidak ada hasil otopsi sama kami sampai saat ini,” jelasnya.
Yestin juga meminta barang-barang milik putrinya dikembalikan kepada keluarga, termasuk telepon seluler dan sejumlah peralatan pribadi.
“Dan satu angan saya, di mana tolong dikembalikan barang-barang anak saya seperti HP-nya waktu dia dijemput mertuanya, ada emasnya, ada kalungnya, ada gelangnya, ada cincin, ada barang-barang nan lain,” kata Yestin.
“Jadi saya minta seperti KTP-nya dan lain-lain. Itu bapak, tolong saya bapak,” tambahnya.
Sebelumnya, Winda ditemukan meninggal bumi di rumahnya di Medan Helvetia, Kota Medan. Polrestabes Medan memastikan Winda meninggal lantaran bunuh diri menggunakan senjata api milik mantan suaminya, ISH.
Kapolrestabes Medan Kombes Pol, Jean Calvijn Simanjuntak, menyebut konklusi tersebut didasarkan pada hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), pemeriksaan Inafis, Laboratorium Forensik (Labfor), dan autopsi.
“Tim Inafis sudah melakukan tindakan pertama TKP dan olah TKP dengan hasil bahwa betul ada senjata api di dalam (kamar mandi) dan ada perlukaan di korban, dikuatkan dengan hasil Labfor,” kata Calvijn saat ditemui di Polrestabes Medan, Selasa (4/8).
Berdasarkan hasil autopsi, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi menyebut hanya ditemukan satu luka tembak pada bagian kepala.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·