Fahmi Firdaus
, Jurnalis-Sabtu, 16 Mei 2026 |06:05 WIB

Soekarno dan Mohammad Hatta/ist
JAKARTA - Soekarno dan Mohammad Hatta merupakan sahabat dekat nan mempunyai hubungan terat. Persahabatan kedua tokoh perjuangan Indonesia itu terlihat dari momen-momen terakhir hidup Bung Karno.
Pada Februari 1970, kondisi Bung Karno nan telah menjadi tahanan politik, semakin parah lantaran penyakit ginjal nan dideritanya. Dia dirawat di Wisma Yaso setelah putrinya Rachmawati memohon untuk memindahkan Sang Ayah dari Istana Bogor.
Di Wisma Yaso, Bung Karno tergolek lemah di sebuah ruang perawatan nan sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden.
Mendengar berita tentang kondisi Soekarno, Hatta pun berbincang kepada istrinya Rachmi. Sambil menangis, Hatta mengatakan bahwa dia bermaksud menemui Bung Karno. Namun, kemauan Hatta itu ditolak sang istri, nan mengatakan bahwa Bung Karno saat itu telah menjadi tahanan politik dan tidak dapat ditemui.
"Soekarno adalah orang terpenting dalam pikiranku. Ia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana nan sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kami, itu lumrah. Tapi saya tak tahan mendengar Sukarno disakiti seperti ini,” tegas Hatta seperti dikutip pada kitab Soekarno Fatmawati Sebuah Kisah Cinta Klasik, Jumat (15/5/2026).
Hatta kemudian menulis surat kepada Soeharto menyampaikan kemauan untuk berjumpa dengan Soekarno. Uniknya, surat itu langsung disetujui oleh Soeharto dan Hatta diperbolehkan Bung Karno.
Saat Hatta datang ke bilik perawatan, Bung Karno nan sudah nyaris tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit. Dia menghampiri pembaringan Bung Karno dengan hati-hati, tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.
Menyadari kehadiran Hatta, Soekarno pun membuka matanya dengan menahan sakit dan menyapanya. Hatta berupaya menjawab Soekarno dengan wajar, lantaran tidak mau sahabatnya itu tahu bahwa dia sedang bersedih.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·